Ilustrasi artikel mencintai proses dengan berpikir divergent
Berpikir divergent membuat 1 masalah besar bisa menghasilkan banyak temuan solusi. Cintai proses dengan berpikir divergent.
in

Strategi Terbaik untuk Selalu Mencintai Proses

Mencintai proses dengan berpikir divergent.

Bagaimana cara mencintai proses?

Saya sering bertemu orang yang kandas di tengah proses. Menyerah. Mereka memilih satu pintu, untuk melarikan-diri dari kenyataan.

Kebanyakan orang, ketika mendapatkan beberapa masalah, sangat senang jika punya 1 solusi. Ingin memotret, chat, menulis, ia mencari 1 solusi bernama smartphone Android.

Itu gaya berpikir “convergent”. Melakukan sintesis, mencari yang terbaik, dan jalan-tengah. Seringnya, tidak berhasil dan tidak membuat sesuatu yang baru. Cara berpikir convergent, sangat melelahkan. “Membutuhkan X sebelum melakukan Y”. Berpikir convergent seringnya membuang yang dianggap kurang berguna, dengan dalih menggabungkan yang terbaik. Ini gaya berpikir fifty-fifty, sinkretisme, sintesis Hegelian.

Lawannya, berpikir “divergent”. Dengan berfikir “divergent”. Ada masalah besar, pelajari solusi-solusi kecil di sekitar masalah itu. Misalnya, ingin belajar menulis artikel. Ternyata, di tengah perjalanan, bertemu tuntutan lain, tentang bagaimana mengeksekusi gagasan, menulis sesuai ejaan, bagaimana membuat judul dan lead menarik, dst. Dari 1 masalah besar, setelah kamu tekuni, bertemu banyak solusi kecil yang bisa kamu dapatkan.

Apa yang memulai kesuksesan? Impian. Namun orang jarang mencintai proses. Mereka berhenti ketika proses terasa melelahkan. Orang tidak mau membeli bor. Mereka hanya ingin lubang 2 inci yang sudah jadi. Mereka tidak ingin repot.

Proses tidak bisa dilewati. Kamu tidak bisa menjadi programmer atau penulis, hanya dengan bermimpi menjadi programmer atau penulis.

Kamu tidak bisa melewati bagian ini: belajar. Cara membaca buku, bisa kamu dapatkan dalam 40 menit, namun prakteknya, mungkin seumur hidup.

Pencapaian adalah gabungan antara bermimpi dan kualitas menjalankan impianmu. Mimpi kamu membutuhkan skenario yang terbaik: menjalankan mimpi. Itulah proses.

Menguasai pengetahuan mikro, yang berhubungan dengan impianmu, itulah proses. Dalam hal ini, ternyata, belajar menulis berarti mempelajari pengetahuan lain (dan jumlahnya banyak, namun sangat menyenangkan), yang berkaitan dengan “menulis”. Tidak jarang, itu tidak ingin kamu pelajari.

Seperti itulah berpikir “divergent”. Bahwa ternyata, di balik masalah “Bagaimana menulis artikel.yang baik?” terdapat 80% masalah lain, seperti: Bagaimana caranya membuat masalah? Bagaimana membaca 1 buku seminggu sekali? Bagaimana memeriksa ejaan? Dan skill ini akan berguna untuk hal lain, selain menulis artikel.

Bermimpi adalah proses yang penuh penundaan. Bentuk penundaan itu adalah mempelajari pengetahuan-pengetahuan kecil, sepanjang waktu. Apakah itu tidak menyenangkan?

Hal-hal yang sebelumnya masih asing, lama-lama akan menjadi kebiasaan. Kamu akan ingat, betapa sulitnya semua pada awalnya. Kamu akan memiliki.standar kualitas baru dan panduan terbaik tentang jalan yang kamu lalui.

Saya tidak suka positive thinking. Gagasan berpikir positif itu sering merupakan optimisme palsu, penuh bias. Tidak bisa bekerja dengan sendirinya. Kombinasikan berpikir positif dengan tindakan. Bukan dengan menunggu hasil.

Kamu punya mimpi positif, menjalani proses, itulah yang terjadi. Positive thinking bukanlah berprasangka baik tanpa rencana, bukan mengabaikan proses. Optimisme tidak terjadi dengan menutup-mata sambil tegang menunggu hasil, tanpa menghitung kemungkinan, tanpa antisipasi terhadap hal-hal di luar manual panduan.

Jadi, bagaimana caranya mencintai proses? Dengan berpikir “divergent”.

Berpikir divergent memikirkan masalah besar, sampai menemukan banyak tantangan dan mempelajari masalah-masalah kecil. Misalnya, kamu suka menulis. Tidak cukup hanya dengan menghasilkan tulisan baik. Ada hal lain, agar tulisanmu terdistribusikan dan menjadi populer. Kamu butuh bersikap persuasif, konsisten, memasarkan tulisanmu, dst.

Singkatnya, lihatlah faktor-faktor lain. Maka faktor-faktor ini menuntutmu mempelajari kemampuan (skill) terkait penulisan. Kamu perlu belajar trik share artikel, menanggapi feedback, dll. Kemampuan ini tidak menghambat kualitas tulisanmu, tetapi, akan memberimu nilai plus di samping menulis. Itu adalah proses.

Menulis bukanlah hanya menulis. Kamu perlu skill tambahan, non-teknis menulis. Dengan begitu, pada aktivitas berikutnya (dalam menulis), kemampuan tambahan ini akan membuatmu lebih terbiasa. Begitulah contoh mencintai proses. Pelajari kemampuan lain selama proses.

Selain itu, sesekali, netralkan keadaan. Sekarang kamu memiliki imajinasi dan kegilaan mengubah dunia, dalam ketegangan atau kejenuhan. Kamu membutuhkan situasi normal sesekali, untuk memberimu ketenangan. Makan teratur, tidur cukup, sekolah, menjadi tetap normal dalam kondisi tertentu.

Dunia tidak menunggu karyamu. Namun kamu membutuhkan audiens yang mengenalmu pelan-pelan, sebelum kamu berkarya untuk dunia. Jangan menyerah di tengah jalan.

Klik share itu mudah. Bagian sulit dari share adalah “tersampaikan” kepada orang banyak. Perbaiki kualitas, selama proses, dengan berpikir divergent. Bukan dengan bantuan aplikasi.

Tentukan pilihan. Cintai proses. Jadilah “divergent”. [dm]

What do you think?

8881 points
Upvote Downvote