in

Metode Workshop

Merancang workshop agar peserta pintar.

Metode lama dengan bantuan teknologi, yang sebenarnya masih memakai cara analog: video conference, interaksi selama 2 jam (sekitar itu), dapat link, pdf, atau video. Tidak ada pertemuan-langsung. Kalau pintar mengemas, yang terjadi: peran pembicara bisa diganti menjadi video.

Kedua metode itu tidak saya sarankan, karena nggak “work” untuk suatu proses pembelajaran. Kedua cara di atas, hanya tepat dalam “mengabarkan” pengetahuan dan sebatas pengetahuan kognitif.

Berita baiknya, cara di atas terjadi pada kelas konvensional maupun kelas selama pandemi. Mereka sebut itu pembelajaran jarak-jauh. Saya berani jamin, kedua cara tersebut berpotensi gagal lebih besar. Terutama untuk materi yang membutuhkan interaksi langsung: seni, olah raga, menulis kreatif, dll.

Pembelajaran membutuhkan penugasan, mengerjakan project bersama, dan pengujian. Apapun teori dan metode yang kamu terapkan.

Ini yang saya terapkan dalam model pembelajaran, selama saya memberikan workshop menulis:

Saya berikan gambaran sekilas dan ringkasan, tentang mengapa kita perlu mempelajari ini. Narasi atas silabi yang mau saya berikan. Semua materi, sudah saya selesaikan dan “terkirim” kepada para peserta, sebelum pertemuan-langsung. Memfilter feedback. Melihat masalah lebih jauh, menyelesaikan hambatan pembelajaran. Selanjutnya, pertemuan jarak-jauh untuk mereview apa yang sudah mereka pelajari, serta penugasan. Kemudian, pertemuan langsung, lebih khusus untuk memecahkan masalah bersama dan memperkenalkan kasus yang bisa terjadi, terutama yang di luar materi yang saya berikan. Dalam bahasa lebih singkat: Bersama-sama mengerjakan tugas di tempat.

Kamu bisa lihat contoh workshop manajemen media online dan workshop kepenulisan yang pernah saya adakan. Itu workshop, bukan training.

Peserta mau mengikuti apa yang kamu berikan, jika ada 3 hal ini: 1. Kamu mengerjakan tugasmu, peranmu, dengan baik; 2. Kamu memberikan contoh (teladan); dan 3. Kamu mengatasi masalah mereka.

Bukan rahasia, kebanyakan dosen melakukan kebalikan dari itu. Kebanyakan dosen, tidak melakukan peran sebagai dosen. Mereka berperan sebagai penyampai materi perkuliahan, pemberi tugas, dan penilai perbuatan mahasiswa. Peran sebagai pembimbing, pendamping, dan mau menerima kesalahan kreatif, tidak banyak terjadi. Dosen sering tidak memberikan contoh. Mereka meminta paper (makalah) tetapi dosen sedikit berkarya. Tidak banyak karya ilmiah yang bisa kita baca, tentang subject yang diajarkan dosen ini, sehingga mahasiswa tidak memiliki model untuk mereka jadikan rujukan dari dosen ini. Dan ketika mahasiswa “bermasalah” dengan proses pengerjaan tugas mereka, tidak ada toleransi kesalahan. “Kesalahan” yang dilakukan mahasiswa, selama mengerjakan tugas, bisa ditekan jika dosen melakukan peran pendampingan. Tidak perlu selalu melakukan penilaian akhir dan membuat peringkat.

Tujuan mendidik adalah memberikan wawasan (insight), membuka keberanian, dan menyelesaikan masalah [baru].

Cara di atas sangat bagus jika kamu mengajar (atau belajar) di perkuliahan dan e-course. Cara di atas “work” dan berhasil membuat orang-orang biasa menjadi lebih pintar.

Pintar berarti menemukan masalah baru dan bisa menyelesaikan masalah yang belum pernah mereka hadapi, dan membuka peluang mencari cara baru untuk menyelesaikan masalah. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Promosi Buruk

Memilih atau Dipilihkan?