in

Uang itu Tidak Adil, karena Kamu Tidak Tahu Cara-Kerja Uang

Bagaimana saya memahami cara-kerja uang.

*”Uang itu Tidak Adil” Menurut Mereka yang Tidak Tahu Cara Kerja Uang*

Sebelum kamu anggap dunia ini tidak adil, karena hanya sedikit uang yang mengalir ke kantongmu, ada fakta lain yang perlu kamu ingat-kembali — karena kamu sudah tahu..

Keadilan tidak hanya distributif. Keadilan (terkait uang) itu komutatif. Seberapa pintar kamu berusaha, itulah hasil yang akan datang kepadamu. Tidak kurang, tidak lebih.

Uang memang tidak fair. Sepintas seperti itu.

Selain itu, saya akan ceritakan satu kenyataan: banyak orang tidak mengerti cara-kerja uang.

Rajin bekerja, bukan jaminan dapat uang banyak. Bekerja secara pintar, itu kuncinya.

Sekalipun kamu punya banyak uang, jika pilihanmu buruk, uangmu tidak berarti.

“Pilihan lebih kuat daripada pendapatan,” kata Steve Adcock.

Secara psikologis, orang tidak punya insting dan kemampuan untuk mengelola uang banyak. Orang suka pamer, pelampiasaan sesaat, dan tidak mau menimbang konsekuensi tindakan mereka dalam membelanjakan uang.

Menabung itu merugikan. Kalau kamu saving (menabung), ingatlah: inflasi selalu terjadi, bahkan ketika kamu sedang tidur.

Saya berikan contoh mudah. Kamu ingin beli komputer dengan spek tinggi, harganya sekarang 6 juta. Kamu menabung. Bekerja dan tidur, menyisihkan uang. Sampai akhirnya kamu punya uang 6 juta. Kenyataan yang terjadi 5 tahun kemudian, ketika sudah waktunya kamu ganti komputer baru, ternyata harga 6 juta itu tidak memadai untuk membeli spek yang kamu inginkan. Harganya sudah jauh lebih mahal.

Lihatlah statistik. Angka inflasi, diukur dengan kalkulator ekonomi berbeda-beda, hasilnya sama: menaik.

Singkatnya, kalau kamu menabung, itu justru memperburuk keuangan kamu.

Lihatlah kepemilikan kamu sekarang. Seberapa banyak aset tangible yang bisa kamu jadikan jaminan? Berapa nilainya? Mereka yang tidak punya aset berwujud adalah orang yang paling terdampak inflasi.

Mereka yang tidak memiliki pendidikan keuangan, sedang mempertaruhkan hidupnya. Lihatlah sekeliling, dengarkan cerita tentang orang yang tertipu, salah investasi, menghabiskan uang untuk shopping, makan enak lalu terkena penyakit di hari tua, dst.

Jangan anggap skill terkait keuangan itu terpisah dari kesehatan, pendidikan, dll. Semua itu berkaitan. Salah pilih, salah belanja, salah investasi, salah bekerja, kebanyakan berasal dari kemampuan lemah dalam mengelola keuangan.

Ada perang mata uang yang tidak terlihat, namun itu terjadi, dan tidak pernah berhenti. USD (US Dollar), ETH (Etherium) adalah pemain utama di sana. Mata uang pemerintah Amerika Serikat melawan cryptocurrency.

Coba baca buku Blockchain Revolution untuk mengerti apa itu BTC dan mengapa mata-uang ini merevolusi ekonomi dan dunia.

Bagaimana Revolusi Blockchain Ubah Keuangan Dunia

https://jatengtoday.com/revolusi-blockchain

Ringkasan buku tersebut menjelaskan apa itu blockchain, cara kerjanya, dan bagaimana blockchain mengubah keuangan dunia.

Balaji Srinivasan menjelaskan perbedaan antara dolar AS dengan BTC, Dolar AS memiliki stabilitas jangka pendek dan depresiasi jangka-panjang. BTC memiliki cotalitas jangka pendek dan apresiasi jangka panjang.

Artinya? Dolar AS membantu kamu bertransaksi, BTC untuk menyimpan kekayaan.

Kamu berhadapan dengan Tuan Tanah yang sangat ramah. Mereka ingin kekayaanmu.

Saya berikan contoh. AirBNB. Kalau kamu punya sebuah ruangan yang bisa disewakan, atau rumah singgah, sekalipun hanya 2 hari sekali, AirBNB mencari ini. Banyak pelancong membutuhkan sewa murah. Sebentar saja. Uangnya dibagi antara kamu dan AirBNB. Bukan rahasia, perbankan Lloyds membeli 50 ribu rumah di Inggris. BMT membeli aset tangible, untuk mengamankan ekonomi mereka.

Bank ada di mana-mana. Secara de facto, bank adalah lembaga yang melayanan penyimpanan aset, memperantarai transaksi, menyimpan data akun kamu, dan memperlancar usaha kamu.

Lihatlah Indomaret dan Alfamart, atau GoJek dan Grab. Shopee juga. Kamu bisa bayar apapun di situ, nomor kamu tersimpan di situ, dan mereka ini berlaku seperti bank.

Bank ingin kepemilikan rumah menjadi tidak sakral lagi. Rumah sudah menjadi properti. Model ini, berukuran sekian kali sekian. Betapa mudahnya mempunyai rumah. Bank membeli rumah yang akan kamu beli, menentukan harga dan cicilan. Eh, bukan hanya rumah. Apapun yang bisa kamu beli dalam bentuk angsuran dan transaksi, dengan perantara bank. Biaya transfer. Biaya administrasi. Biaya kemudahan. Mulai dari 5 ribu rupiah.

Kamu bisaberinvestasi saham ke perusahaan yang sedang naik. Kamu bisa dapat 10x lipat, kalau investasi di cryptocurrency. Jangan kesal. Itulah kenyataan ekonomi kita sekarang.

Saham teknologi dan project cryptocurrency, menaik secara eksponensial, karena faktor efisiensi maksimum dan biaya operasional rendah. Jangan malas untuk mempelajari cara kerja cryptocurrency dan investasi.

Sebagian orang, melihat kerja-sampingan, seperti menjadi Tiktoker, untuk menghasilkan uang. Tidak. Itu bukan sampingan. Itu membutuhkan energi besar, membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Untuk menjadi sukses di TikTok (atau YouTube dan Facebook), butuh modal bernama skill dan waktu. Sedikit orang mau menghitung dan memprediksi kerumitan di balik sesuatu yang sekilas mirip iseng ini. Hargailah itu jika kamu anggap sebagai pekerjaan, jalan menuju milyarder.

Keramaian sampingan menjadi mesin investasi yang bertambah secara eksponensial dari waktu ke waktu. Setidaknya, akan terlihat bodoh dan menyurut, setelah 5 tahun berikutnya.

Ini tentang sains dan seni meracik content dan kemampuan membaca algoritma. Skill, waktu, dan energi yang kamu pakai. Sama sekali tidak mudah. Kamu pilih menjadi content creator ataukah berinvestasi di perusahaan penyedia itu?

Uang itu adil, jika kita berpikiran komutatif dan tidak berhenti sebatas menjadi pekerja. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Mengatasi Angst (Kegelisahan Kreatif)

Trilemma Münchhausen (Trilemma Agrippa)