(Credit: GettyImages)

Bekerja dengan Deadline

Memahami rahasia deadline. Musuh kreativitas sekaligus jaminan kualitas.

Deadline bukan sekadar harus selesai tanggal sekian, jam sekian. Pekerjaan bisa lebih baik kalau kita memahami deadline.

Deadline itu mahal. Semakin orang tertata, semakin orang memakai deadline. Dengan deadline, kita bisa susun efisiensi, membuat jadwal-lanjutan, menentukan apa saja pekerjaan yang bisa membuat project ini selesai sesuai rencana.

Deadline berarti rencana, antisipasi, menangkal kerusakan.

Tanpa deadline, tidak ada rilis yang jelas.

Mengapa Deadline Mahal?

Deadline mahal karena berarti ada biaya “cepat” dan biaya “fokus”. Biarpun saya bisa selesaikan dengan cepat, kualitas belum tentu bagus kalau tidak ada fokus. Pekerjaan kamu tidak saya dahulukan kalau tidak ada biaya fokus, karena saya masih ada pekerjaan lain.

Saya tidak suka menentukan deadline, atau diminta menyelesaikan dengan deadline sepihak. Perlu saya tanyakan dulu, “Apakah kamu sudah tahu apa yang saya kerjakan?”. Saya bekerja -dengan- kamu, bukan bekerja -untuk- kamu. Kamu tidak membayar saya. Kamu ingin masalahmu selesai, kita bekerja sama, dan sama-sama menguntungkan.

Tidak Ada Keajaiban

Saya menolak pekerjaan yang menganggap saya bisa melakukan “keajaiban”, seperti menaikkan traffic dengan aplikasi. Saya memakai aplikasi web, membicarakan content dan optimasi seperlunya, tidak sendirian.

Traffic 2,7 juta view di suatu website yang saya kelola, bukan keberhasilan saya sendirian. Pekerjaan ini memakai deadline yang tidak jelas, namun hasilnya memuaskan pemesan.

Tidak jarang, saya perlu mengakali deadline. “Berapa lama kita bisa lakukan ini? Seminggu?” tanya pemesan. “Saya usahakan 2 minggu,” jawab saya. Sebenarnya, 2 hari bisa, tetapi saya perlu memperbaiki kualitas pekerjaan.

Saya tidak bekerja di bidang fabrikasi, dengan kualitas yang selalu sama. Saya ingin menciptakan nilai bersama.

Deadline adalah titik-sentuh untuk mencapai harapan bersama. Ini seperti pos pendakian, di mana kita akan sampai ke puncak gunung, bersama.

Deadline Palsu

Saya tidak pernah mengandalkan deadline palsu, demi menaikkan harga, atau demi tidak fokus.

Kalau kamu meminta semua orang memenuhi deadline, percayalah, tidak semuanya memenuhi deadline. Deadline itu soal peningkatan kualitas. Hindari mengatakan ini, “Yang penting, saya selesaikan. Soal baik atau tidak, nanti..” Kamu berani deadline 1 minggu lagi, artinya, mengalahkan yang sebelum 2 minggu, dalam hal ketepatan dan kualitas.

Proyek tanpa buffer pasti akan terlambat. Kamu perlu tempat-sementara untuk memproses ide. Singkatnya, jangan melakukan petualangan ide ketika sudah menjanjikan deadline.

Kreatif vs. Deadline

Orang kreatif tidak suka deadline.

Pixar menghasilkan film-film bagus karena tenggat waktu “tidak ada”. Proyek yang dikerjakan dengan intensitas dan fokus tinggi sekalipun, tidak menyukai tenggat waktu. Kreativitas dan tenggat waktu, dalam beberapa sisi, bertentangan.

Hal yang amat sangat membosankan, datang dari seseorang yang menceritakan kemarahan boss-nya, tentang pekerjaan yang kemarin belum selesai, atau harapan yang ia inginkan, namun tidak melihat masalah sama sekali.

“Begini, saya dan kawan-kawan di kantor kemarin sudah rapat, dan mengharap agar publikasi ini diketahui orang banyak, dan acaranya berhasil.”. Kalimat ini tidak berguna, ketika kamu sedang meminta orang lain menyelesaikan masalahmu. Buatlah ini menjadi masalah bersama.

Jangan bertanya, “Kapan bisa saya ambil?” kepada orang kreatif. Buatlah tantangan, agar mereka bisa selesaikan. Jangan meminta mereka membuat hal yang sama.

Spesifikasi Bisa Kamu Negosiasi

Spesifikasi, yang dipesan, bisa mengalami perkembangan. Spesifikasi dapat berjalan bertahap. Misalnya, kita punya project untuk menaikkan view website. Tentu ada tahapan. Baru 10 tulisan, sudah bertanya, “Mengapa tulisan saya tidak viral?”.

Samakan Visi

Visi adalah “pandangan”. Keadaan seperti apa yang ingin kamu wujudkan bersama.

Menyamakan visi itu sangat penting. Lebih penting lagi, mengajak berbicara apa yang akan kamu kerjakan bersama.

Saya sering mendengar orang menyatakan “viral”, namun tidak bisa membedakan antara “efek viral” dan “efek jaringan”.Samakan dulu pengertian antara kamu dan klien, misalnya, tentang pengertian istilah tersebut.

“Viral” dan “efek jaringan” memiliki perbedaan. “Viral” berarti pertumbuhan pengguna baru, dari 1 ke 2, 2 ke 4, 4 ke 8, dan seterusnya. Biasanya, ini gratis. “Efek jaringan” berarti menambahkan nilai dan daya tahan produk, biasanya dari para pelanggan lama. Mereka semakin mencintai kamu. Viral bisa sendirian. Efek jaringan juga bisa ada tanpa viralitas.

James Currier dari NFX menjelaskan ini dalam “Viral Effects,

Viral Effects Are Not Network Effects

Orang menginginkan efek viral, tanpa mengidentifikasi siapa orang-orang ini, bahkan tidak mentarget dengan jelas, hasilnya adalah “lenyap”. Efek jaringan, berbicara mengenai kekuatan jaringan. Massa kritis, dari 100 orang menjadi 100 orang yang tidak bisa ditembus, tidak mau beralih ke produk lain. 100 orang ini berpotensi viral. Mereka punya kesetiaan, kejelasan, dan bisa menjadi inti nuklir yang akan menjadi reaksi berantai.

Jangan Andalkan Titik Finish

Kamu tidak bisa mengandalkan “titik finish” dalam deadline. Dari sekarang ke tanggal 17 (deadline), ada beberapa milestone yang bisa kamu ukur? Mencapai deadline, bisa kita pecah menjadi beberapa titik-henti.

Semua project yang berhasil, berbicara mengenai “tahapan” dan “pengukuran”. Memperbanyak orang, tidak menjamin pekerjaan cepat selesai. Menentukan titik-pencapaian dan mengukur keberhasilan secara bertahap, itulah yang membuat berhasil.

Mendiskusikan waktu, sering mengubah arah. Misalnya, ada 3 titik, baru terlampaui 1 titik karena ada hambatan.

Antisipasi

Lakukan antisipasi. Banyak orang yang sudah bersepakat tentang deadline sering melanggar deadline.

Menjelang deadline, orang bisa berkata, “Maaf, saya ada masalah pribadi. Saya sering terlambat karena peralatan saya rusak”. Kepercayaan berubah menjadi rasa malu dan kekhawatiran. Bicara tentang komitmen lagi, janji lagi, dan itu melelahkan.

Kembalilah pada prinsip awal. Struktur tetaplah struktur. Spesifikasi tetaplah spesifikasi. Orang-orangmu bermasalah, namun tidak bisa kamu sembunyikan. Masalah tidak menjadi lebih baik dengan pengabaian. Kalau memang perlu pemangkasan, penggantian, lakukan saja.

Deadline tetaplah deadline.

“Suatu hari nanti” bukan deadline. Tidak layak kamu janjikan kepada pemesan. Ada oemesan atau tidak, tetapkan deadline kamu sendiri. [dm]