in

Ekonomi Pelanggan dan Akun Spanyol (Separo Nyolong)

Ironi di tengah ekonomi pelanggan: konsumen semakin tertindas, persaingan semakin jahat.

Ekonomi pelanggan. Indonesia pernah ada sweeping software Windows bajakan. Harga beli software, tidak sepadan dengan kalkulasi rugi-laba pemakainya. Sebenarnya, kalau mau tes produk digital bajakan, di tahun 1990-2000 pertengahan, nyaris semua pemakai bisa kena pasal produk bajakan. Satu file .mp3 hasil download di situs bajakan, atau ikut mendengarnya, itu bisa kena semua.

Ketika kemudian “Windows original” sudah menjadi satu paket ketika beli laptop, dengan sticker dan serial di bawahnya, tetap saja orang install pakai tenaga reparasi. Yang penting sudah nggak ada operasi. Stiker pengaman itu memang mahal harganya.

Sebagian orang kreatif, yang berhasil menikmati software original dengan sistem “sekali-beli”, tidak berhenti di situ.

Ada kebutuhan lain. Perlu beli software dan tidak lagi pakai sistem sekali-beli. Berlangganan. Bulanan, tahunan, tinggal pilih. Adobe, Office, sampai aplikasi Android seperti ChatGPT4, Canva, dan (jangan lupa) Netflix, menerapkan sistem berlangganan.

Akan ada pembaruan rutin, bonus dan penawaran lain (ini artinya, iklan). Kita membayar biaya lisensi. Kita tidak pernah memiliki software atau aplikasi itu. Kebebasan kreatif sudah dihantui pembayaran bulanan.

Pernah menghitung berapa total harga berlangganan untuk pekerjaan dan hobi kamu? Sangat mahal. Kelihatannya murah: “aplikasi ini” hanya 50K per bulan. Atau kurang.

Masalahnya, tidak ada 1 aplikasi yang mengatasi banyak pekerjaan. Kamu tidak akan bisa menemukan aplikasi yang bisa menandingi Adobe dan Office, tidak ada yang sehebat ChatGPT4. Kalau kamu bandingkan dengan Bing, Bard, dll., kamu tidak akan bisa melampaui ChatGPT4.

Singkatnya, kalau itu bagian yang harus ada dalam pekerjaanmu, dengan sistem berlangganan, kalau kamu total, harganya bisa mahal. Akhirnya, untuk mengoptimalkan manfaat, kita lebih sering di depan layar. Karena sudah membayar, aktivitas di depan layar semakin tinggi. Ayo, teruskan desain, lanjutkan pekerjaan, tonton Netflix. Kamu sudah membayar.

Mereka yang bilang, “Manfaatkan waktu seperlunya di layar kamu,” kebanyakan mereka yang memakai versi free, yang penuh iklan, serta tidak secara optimal memakai hardware dan software untuk bekerja. Konten menjadi terfragmentasi. Fitur A ada di aplikasi A, fitur B hanya bisa ditemukan di aplikasi B. Perusahaan bersaing untuk meraih pelanggan.

Sistem berlangganan, tentu saja berperingkat. Perusahaan mengubah sistem pembayaran mereka. Ada juga sistem combo, beli beberapa akan dapat harga murah. Sekali lagi: tetap saja jatuhnya mahal kalau kebutuhanmu berlangganan lebih dari itu.

Impian ekonomi berlangganan adalah pelanggan loyal. Sebisa mungkin, jangan sampai pelanggan beralih ke produk atau layanan lain. Loyalitas, perkalian, berarti keuntungan. Ini yang menjadi alasan startup berdiri, media berdiri. Saya akan dapat sekian kali sekian, dikalikan sekian dolar, hasilnya adalah.. jumlah yang memikat.

Perusahaan atau aplikasi yang baru dibuat, sejak lahir, sudah bersaing dengan harimau di tengah hutan. Yang terjadi kemudian, tentu saja, yang terkuat yang menang.

Banyak aplikasi tertanam. Lihatlah ponsel baru kamu, atau kenangkan ketika masih baru. Sudah ada browser, aplikasi online shop, dan semua kebaikan yang menunggu kamu dengan janji mereka. “Iklan kami menghargai privasi Anda”. “Dapatkan versi pro, tanpa iklan.”. “Untuk fitur penuh, silakan upgrade ke versi Gold.”.

Tidak ada turun harga.

Tidak ada kenaikan gaji.

Tidak ada penawaran yang berkurang.

Sekeliling kita semakin banyak iklan, semakin banyak pesaing. Apapun peringkat keahlian dan pengalaman kamu, harus berani berhadapan dengan Dribble, Fiverrr, Tiktok, Shopee, dst.

Di antara para pelanggan lain, di kelas sama, kamu hanya sebaris email dan penanda “Subscribed”. Sudah berlangganan. Kalau yang lain semakin butuh, mungkin karena mereka mau praktis dan instan, maka kebutuhan akan semakin tinggi.

Harga bisa naik kapan saja.

Kamu digilas. Kamu rata.

Kamu tidak punya pilihan selain pergi ke Spanyol.

Alias memakai akun Spanyol. Separo Nyolong. Mau beli akun dengan harga miring, ndoyong, sampai ndelosor ke tanah? Cek keranjang kuning. Kecewa dengan layanan toko? Laporkan. Silakan pilih toko lain. Akun Spanyol menjadi bagian dari panduan dasar bertahan-hidup, kalau mau kreatif dan menikmati “kemajuan teknologi”.

Opsi berlangganan fleksibel. Chat pasti dijawab. Pembeli amanah. Bintang lima. Garansi diberikan kalau ngasih bintang lima dan komen positif. Maaf, produk yang ini sudah tidak ada.

Dan kamu tetap harus ngopi. Metafora yang dipakai para penjual aplikasi. Harganya sama dengan 5 gelas kopi. Murah, kan? [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Apa yang Bisa Kamu Tulis di Catatan Harian

Win-Win Solution itu Tidak Ada