(Credit: CanStockPhoto)
in

Mungkin

Banyak alasan. Jawaban hanya “mungkin”. Pintu menuju “bisa”.

Macet. Tidak bisa. Minta orang lain mengatasi ini. Kita perlu waktu lebih lama. Ini bukan kelas kita. *) Kalimat-kalimat pemblokir kreativitas ini, membentuk sebuah pintu bernama: “kemungkinan”.

Mungkin. Probability. Possibility. Berpeluang. Bisa jadi. Bagaimana jika.. Apa yang terjadi kalau..

Harapan bisa menjadi penyulut api. Perbincangan menghangat, mengubah pikiran, menunjukkan jalan pintas, membuat kerumitan menjadi hitam-putih sederhana, memainkan lagu yang tidak pernah dipertanyakan, “Mengapa setelah nada ini, disambung dengan nada yang ini?”.

Kemungkinan, menciptakan keindahan, bernama keajaiban. Mungkin berada antara “ya” dan “tidak”. Seperti ruang kosong antara saya dan laptop. Komunikasi dan ruang siap-isi tanpa batas.

Tempat mengalirnya penanda.

Mengerti saja, tidaklah cukup. Imajinasi tanpa eksekusi hanya halusinasi dari dalam kepala. Cara membuatnya berhenti hanyalah membiarkan bisikan itu keluar, menemui kebebasan. Leonardo Da Vinci bermimpi memiliki pandangan seekor burung yang dapat melihat seluruh kita dari atas, sampai akhirnya Leonardo Da Vinci membuat peta. Ia menjalankan idenya, dari sesuatu yang mungkin.

Tidak ada keberuntungan yang berpihak. Sekaligus tidak ada harapan yang berhenti.

Tidak ada metode yang paling benar, tanpa konteks ruang dan waktu. Tidak ada waktu untuk tidak bekerja.

Kemungkinan, selalu memberikan jawaban. Kita tidak punya uang, dengan demikian ada kemungkinan mengganti kebutuhan itu dengan ini. Kita tidak bisa, dengan demikian ada kemungkinan belajar dengan cara..

Kemungkinan adalah pintu yang mengubah “tidak” menjadi “iya”. [dm]

Ending, Editing

Produktivitas Front Editor