pemblokir-kreativitas-mappingfestival
Pemblokir kreativitas lebih sering berasal dari pikiran sendiri. (Photo: mappingfestival)
in

19 Kalimat Pemblokir Kreativitas

Kebanyakan, pemblokir kreativitas berasal dari pikiran sendiri.

“Saya tidak bisa.”

Bagus, jika itu suatu kesadaran untuk memulai belajar.

Berarti kamu tahu dari mana memulai untuk bisa. Setidaknya, itu lebih jujur. Kalau kamu bilang ,”Saya belum bisa,” itu ucapan yang terlalu percaya-diri bahwa nanti kamu bisa.

Mengatakan “Saya tidak bisa”, janganlah karena menyerah.

Kalau kamu mengatakan “Saya tidak bisa”, benarkah kamu tahu kalau kamu tidak bisa?

Mengukur diri-sendiri itu baik, tetapi jangan membatasi diri. Siapa tahu kamu bisa. Kalau tidak sekarang, bisa nanti.

Kemampuan (skill) terjadi dari “tidak bisa” menjadi “bisa”. Tadinya tidak suka menulis, menjadi suka menulis, itu kemampuan. Tadinya tidak mau mendengarkan keinginan hati, lalu mau mendengarkan, itu kemampuan. Bisa dilatih.

Kuat membaca sampai lama, tidur larut malam, mengetik cepat, membuat gambat vector, bersikap hemat, disiplin, semua itu “kemampuan” (skill). Dari “Saya tidak bisa” menjadi “Saya bisa”.

Jadi, benarkah kamu tidak bisa?

“Kalau kita-kita ini, paling sebatas begini ..”

Benarkah? Dari mana kamu tahu aku (atau lawan bicaramu) ketika menyamakan dia denganmu?

Bagaimana kalau kita ganti dengan “Mari melampaui batasan ini”? “Kita” untuk ajakan, itu bagus. Memakai kata “kita” untuk menganggap orang lain selevel denganmu, sebaiknya jangan.

Lebih baik mengatakan, “Saya tidak bisa, mungkin yang lain bisa.”.

Jangan menilai orang lain dengan apa yang ada pada dirimu.

“Itu bukan kelas kita.”

Siapa yang membuat kelasnya? Kamu sendiri ataukah orang yang kamu sebut “kita” itu benar-benar menyetujuinya?

Pikirkan bagaimana caranya kamu naik kelas menurut ukuranmu sendiri, atau bagaimana cara lompat kelas. Belum tentu kawanmu mau sekelas denganmu.

“Tinggal 5 orang, yang lain terkena seleksi alam.”

Kamu tahu apa artinya “seleksi alam”? Itu dari teori evolusi Darwin dalam buku the Origins of Species. Yang terkuat adalah yang paling bisa beradaptasi. Tujuan adaptasi adalah survival to be the fittest, bertahan menjadi yang paling “sesuai”.

Mengatakan “..terkena seleksi alam” itu berarti kamu membenarkan bahwa lingkungan ini, di mana kamu di dalamnya, tidak cocok untuk mereka. Apakah kamu ikut mengurus lingkungan ini?

Benarkah yang masih bertahan ini paling survive? Dengan cara mengalahkan yang lain?

Jangan-jangan, yang kamu sebut “terkena seleksi alam” itu tersingkir karena sistem kamu bermasalah.

Tidak ada pengkaderan, tidak ada penelitian, tidak ada ukuran kemajuan, tidak ada Rencana B, tidak ada “tombol panik”, tidak ada komunikasi yang lebih baik, dan merasa tidak ada cara lain selain membiarkan mereka mati?

Dan kamu masih hidup, bersama evolusi yang kamu rayakan di atas kematian yang-lain.

“Sejak dulu, saya seperti ini.”

Mindset yang disukai orang lain bukanlah yang tetap. Mindset itu bisa fixed, bisa growth. Tetap atau tumbuh.

Mindset fixed berada pada kondisi yang dianggap tetap, misalnya: saya tidak bisa matematika maka beginilah saya apa adanya; tidak mau berubah. Pandangan orangpun menjadi tidak berubah tentang “saya”. Mindset growth, sebaliknya, berada pada evolusi konstan. Ketidaksempurnaan ini justru link terkuat untuk menjadi pribadi yang disukai orang banyak.

Berubahlah, kamu akan disukai. Berikan selingan, kamu akan disukai. Jangan terlalu tetap. Bahkan kalaupun kamu produk, sisipkan content selingan.

Bisa “behind the scene” (BTS), bisa “off topic“. Tunjukkan “momen kebodohan”, sesekali, agar orang tahu kalau kamu juga manusia. Kamu memegang kendali, namun jangan monoton.

“Ini warisan dari generasi sebelum saya.”

Dan kamu membiarkannya? Atau kamu hanya ingin sibuk memperbaiki masa lalu?

Kamu tidak menyaksikan generasi sebelumnya. Kamu hanya melihat produknya.

Apa yang kamu sebut masa lalu, bisa jadi hanya imajinasimu tentang masa lalu. Atau yang kamu anggap masa lalu yang luar biasa, bisa jadi hanya anak kecil yang kamu pukuli sesuai keinginanmu.

Masa lalu tidak bisa mengatur masa sekarang, dan sebaliknya.

“Saya tertarik tetapi tidak ada teman yang sejalan dengan ide saya.”

Kalau banyak orang mengatakan keluhan seperti ini, berarti masalahnya pada komunikasi dan kepribadianmu.

Semua ide baru, berawal dengan “menghubungkan titik-titik” (connecting dots). Menyampaikan dan memperbaiki gagasan. Menjawab dengan tindakan.
Orang mengikutimu jika tahu mengapa kamu melakukannya dan memperjuangkan apa yang kamu pikirkan.

Semua ide baru berawal dari “ada ilmunya” tetapi “belum ada yang mengeksekusi” ide itu.

Jika kamu membuka mata, betapa banyak orang yang menunggu kepemimpinanmu, orang-orang yang mengulurkan bantuan, dan mengatakan “iya” kepadamu.

“Saya butuh X sebelum menjalankan gagasan Y”

Kalau terkait.peralatan atau kondisi yang mendasar, sangat wajar. Namun tidak untuk inspirasi.

Saya butuh pantai sebelum menulis. Saya butuh merokok sebelum menulis. Lupakan itu.

Semua pemikir dan pekerja hebat, selalu berada dalam kekurangan dan tekanan.

Masalah menulis lebih banyak berupa masalah yang tidak berkaitan langsung dengan menulis. Kegagalan menulis, seperti halnya kesuksesan, berkaitan dengan hal-hal.kecil.

Biasakan bekerja dan berpikir dalam tekanan. Kamu tidak selalu bisa menyediakan apa yang kamu butuhkan, seketika..

“Saya tidak punya waktu”

Punya. Setiap orang punya. Coba pelajari bagaimana mengelola waktu.
Kamu bisa mengerjakan banyak hal, dengan lebih cepat, asalkan selalu melatihnya.

Pelajari manajemen waktu, maka waktumu akan lebih bermanfaat. Pelajari skill maka kamu bisa selesaikan pekerjaan dengan cepat.

Buat “time block“. Gunakan metode “pomodoro“. Hilangkan gangguan notifikasi dan pemicu-tindakan yang negatif. Kerjakan.

“Saya tidak bisa fokus”

Wajar. Banyak orang mengidap ADHD (penyakit gangguan-perhatian). Sebagian besar penari, orang-orang dengan kecerdasan audio dan kinestetis, mengidap ADHD. Mereka tidak tertarik kalau apa yang kamu berikan itu tidak menarik. Mereka justru bisa fokus dan konsentrasi jika ada “gangguan” bernama musik. Para penari bisa fokus berjam-jam pada beberapa gerakan dan tenang menikmati kesendirian dalam ruangan.

Kamu hanya butuh pemicu yang bisa membuatmu fokus.

Saya bisa fokus dengan menulis. Saya bisa ingat sambil mengingat susunan di sekitar saya, atau mencatat lalu membakarnya, atau mendengarkan sambil menggerakkan jari-jari saya seolah-olah sedang mengetikkan kalimat ke dalam komputer di pikiran saya.

Apakah kamu pernah secara sadar melatih fokusmu?

“Saya tahu jawabannya, saya pernah baca begini..”

Kamu pakai informasi orang lain. Apakah ini berupa data ataukah analisis? Gagasan asli ataukah turunan? Apakah kamu memakainya dalam bentuk mentah, ataukah sudah memfilternya? Apakah kamu sudah mengujinya dengan disiplin verifikasi? Apakah sudah kamu cross-check?

Kalau itu trivia, kamu nggak cerdas sama sekali. Kalau itu penalaran, lakukan sendiri menurut versimu.

“Saya belum percaya-diri untuk ikut menampilkan karya..”

Masalah percaya-diri (self-confidence) lebih banyak terjadi karena asumsi, ketakutan yang belum terbukti, dan kesalahan mengukur kemampuan..Lawan dari “percaya-diri” (self-confidence) adalah “self-reliance“, percaya berdasarkan pengalaman dan sistem yang jelas. Coba dan lakukan, sebelum menilai.

Para amatir berkontribusi, sedangkan para profesional menciptakan. Membiarkan orang lain memasuki proses mereka, bahkan membiarkan para amatir mencuri.

Amatir tidak mau merugi, mereka mencoba apa saja, dan dengan enteng membagikan hasilnya. Amatir memikirkan banyak kemungkinan, profesional hanya punya beberapa yang terbaik, karena selalu menyortir pikirannya sendiri.

Antusiasme mentah itu menular.

Amatir menggunakan alat apapun lalu mencoba memasukkan ide-ide mereka ke dunia.

Leonardo Da Vinci meninggalkan 400+ karya yang “belum selesai”. Perupa Dubois menunjukkan karyanya yang hancur, sebagai “bagian dari proses kreatif”. Seniman dan ilmuwan yang berhasil, berani menampilkan kegagalan. Steve Jobs menyukai “momen kebodohan”. Setiap aplikasi yang bagus, mendapatkan komplain dan melakukan update.

Berikut ini, beberapa quote dari Show Your Work! karya Austin Kleon

Cara terbaik untuk memulai di jalan untuk berbagi pekerjaan kamu adalah untuk berpikir tentang apa yang ingin kamu pelajari, dan membuat komitmen untuk mempelajarinya di depan orang lain.

“Bagikan apa yang kamu sukai, dan orang-orang yang menyukai hal yang sama akan menemukanmu.

Jika kamu ingin orang tahu tentang apa yang kamu lakukan dan hal-hal yang kamu pedulikan, kamu harus berbagi.”

Jangan perlihatkan makan siang atau minuman latte kamu. Tunjukkan pekerjaanmu.

Begitu kamu mempelajari sesuatu, berbalik dan mengajarkannya kepada orang lain, bagikan daftar bacaan kamu. Tunjuk ke bahan referensi yang bermanfaat. Buat beberapa tutorial dan posting secara online.

“Sudah pernah saya coba dan gagal..”

Gagal menurut siapa? Orang kreatif memiliki pengetahuan, standar kualitas, dan tahapan kemajuannya sendiri.

Berapa kali gagal? Apa pekerjaannya? Coba evaluasi, mungkin strateginya perlu berubah atau timing-nya bermasalah. Jangan menilai suatu pekerjaan, apalagi pekerjaan bersama, hanya dengan 1 kata.

Thomas Alva Edison setelah berhasil menyalakan bola lampu pijar, memperbaiki kawat pijarnya sampai lebih dari 999 kali agar kualitasnya lebih-baik. *) Spoiler: Edison bukan penemu bola lampu pijar.

“Untuk memikirkan itu, saya perlu refreshing ke pantai..”

Berikut ini ada quote tentang itu:

Banyak di antara kita yang menjadi budak pikiran sendiri.

Pikiran adalah musuh terburuk kita.

Kita mencoba fokus, sementara pikiran ke mana-mana. Kita mencoba menghilangkan stress di pantai, namun kegelisahan membangunkan kita di tengah malam. Kita mencoba bersikap baik kepada orang-orang yang kita cintai,, namun kita lantas melupakan mereka dan justru menempatkan diri kita di urutan pertama (egois).

Dan ketika kita ingin mengubah hidup, kita menyelami praktik spiritual dan mengharap hasil yang cepat, namun hasilnya hanya kehilangan fokus setelah acara bulan madu selesai.
Kita kembali pada keadaan liar. Kita pernah merasa tak-tertolong dan patah-semangat.

Nampaknya kita semua setuju bahwa melatih badan melalui latihan, diet, dan relaksasi adalah ide yang bagus, namun mengapa kita tidak berpikiran tentang melatih pikiran kita?

[Sakyong Mipham Rinpoche]

“Tidak ada gurunya..”

Dalam ilmu apa? Banyak disiplin ilmu dan pekerjaan baru sejak manusia berinternet. Bahkan banyak yang belum ada sekolahnya. Kalau kamu menunggu mengikuti dan mempelajari apa saja secara formal, jadinya malah masuk ke mindset sekolah tradisional lagi.

Belajar itu soal tujuan, membuat roadmap sendiri, dan terus mempelajarinya.

Tidak belajar online itu menyia-nyiakan internet. Banyak ilmu baru dan orang-orang hebat, kamu bisa belajar kepada mereka.

“.. akan saya kerjakan nanti..”

Wajar kalau memulihkan stamina dan bukan penundaan.

Penundaan itu “hambatan” (kata Steven Pressfield) yang berkecamuk sebagai kalimat-kalimat panjang dalam pikiran. Amatir menunda. Profesional bertindak.

Jika lelah, istirahatlah. Jika ingin lebih tenang beristirahat, selesaikan pekerjaan. Yang penting selesai, revisi dan sempurnakan nanti. Jika ini masalah “kemampuan” (skill), teruslah berlatih.

Kerjakan hal-hal penting agar tidak berhadapan dengan hal-hal mendesak (darurat). Belajar dan membaca itu penting, deadline itu darurat. Disiplin verifikasi dan mencatat itu penting, sedangkan mendapatkan komplain karena salah-tulis itu darurat.

Bertindak itu penting. Mengatakan “.. akan saya kerjakan nanti ..” akan membawamu pada kondisi darurat.

“Belum ada panggilan alam..”

“Passion” itu bentukan, tidak jatuh dari langit, tidak ada-dengan-sendirinya di dalam dirimu.

“Passion” baru muncul setelah kamu bertindak. Bukan sebaliknya. Belum tahu, belum mendalami, belum melakukan, passion tidak akan muncul. “Passion” memicu daya kreatif. Passion menyukai hambatan dan tekanan.

Kalau sudah mengalami passion, tahu bahwa ide di kepala hanya pantas diimbangi dengan tindakan. Bukan dengan duduk dan meminta orang lain memberikan motivasi.

Pemikir dan pekerja yang hebat tidak menunggu inspirasi. Mereka tahu, menunggu inspirasi itu lawan dari kreativitas. Mereka yang mengerti jalan kreatifnya, justru mengantisipasi “inspirasi”. Momen kedatangan “inspirasi” selalu mengguncang, tidak jelas, mengganggu.

Menunggu “inspirasi” terjadi karena orang tidak tahu apa itu strategi berpikir, apa itu berpikir divergent, bahkan tidak melatihnya dengan tindakan.

“Yang lain juga gitu, apa salahnya?”

Ikut-ikutan dan “seperti orang lain”, tidak masalah. Asalkan tidak untuk semua hal. Kreativitas bukan sebagaimana orang lain. Tulisan pop, terjadi seperti ini. Mencari yang nge-hit lalu menirunya. Melihat yang-lain bilang bagus, ikut bilang bagus. Ini sangat nggak kreatif.

Novel Laskar Pelangi di mana sastranya? Jawabannya, karena novel ini dipuji di mana-mana, tetapi, benarkah itu karya sastra? Novel Arok Dedes karya Pramoedya di mana bagusnya? Jawabannya, karena banyak yang bilang bagus. Saya menuliskan review novel Arok Dedes.

Mengikuti yang-lain, terjadi karena orang nggak punya sistem pengetahuan yang mapan. Bicara sastra, padahal hanya bicara politik-sastra. Bicara seni, padahal hanya lobi agar dapat orderan mengerjakan souvenir yang terlanjur dianggap sebagai karya seni. Bicara tentang video demi mendapatkan traffic.

Prinsip “yang lain juga gitu, apa salahnya?” ada di kebanyakan media online.

Meniru yang sedang viral hanyalah meniru gejala yang akan cepat selesai.

Mereka yang tidak tahu skema besar di balik penciptaan tren, hanya ikut-ikutan. Alasan mereka juga hanya ikut-ikutan.

“.. terlalu banyak hambatan ..”

Seperti itulah dunia kreatif. Tidak ada yang lancar, mudah, apalagi tanpa hambatan berat. Berharaplah kelancaran saat berdoa, tetapi saat menghadapi dunia kreatif, kenyataan adalah kenyataan.

Saya membaca 325 halaman buku, hanya untuk meringkasnya menjadi 7 paragraf dan memakainya dalam hidup. Saya menulis 480 puisi hanya untuk mempraktekkan apa yang saya pelajari seputar menulis puisi.

Hambatan hanya bisa disingkirkan dengan mengatasi hambatan itu. Bertindak. Berlatih, meningkatkan skill menjadi lebih baik.

Setiap ada hambatan baru, katakan, “Saya bisa karena ini pekerjaan saya”. Dan bersenang-hatilah jika hambatan itu baru kali pertama dalam hidupmu.

Mengharap kemudahan, hanya layak dalam berdoa. Dalam kenyataan, hadapilah hambatan, sebab itulah jalan kreatif.

Mungkin kamu punya kalimat lain dan cara lain untuk.mengatasinya, silakan tambahkan. Sebanyak apapun kalimat pemblokir kreativitas datang, pastikan kamu punya jawaban dan bisa mengatasi pemblokiran kreativitas. [dm]

What do you think?

5667 points
Upvote Downvote