in

Review Novel “Arok Dedes” Karya Pramoedya

Novel Pramoedya Ananta Toer berjudul “Arok Dedes” termasuk buku langka yang dikejar pembaca novel sejarah. Saya membacanya tiga kali, lalu menuliskan catatan ini.

Summary

  • Novel “Arok Dedes” itu istana-sentris. Wong cilik tidak dilibatkan dalam dialog dan deskripsi. Sebagian besar, berisi dialog para aktor. Ini “actor-centered history” dalam sajian fiksi.
  • Pertarungan antarkelas mewarnai sepanjang novel. Selalu digambarkan kebencian penyembah Syiwa terhadap Wishnu, brahmana terhadap sudra, dan pertarungan antarkelas.
  • Pandangan terhadap penguasa sebelumnya, direduksi dalam “penindasan perempuan oleh para penguasa Wishnu”.
  • Sosok Ken Arok terlalu dipandang sempurna, dalam banyak hal. Adakah manusia yang seperti itu?
  • Novel ini kurang memadai kalau mau disebut “novel sejarah”. Banyak kejanggalan dalam narasi dan deskripsi di sepanjang novel ini, berkaitan dengan sejarah.

Question

Saya melihat permasalahan menarik dalam novel ini:

  • Bagaimana transpersonalitas Ken Dedes di novel ini?
  • Bagaimana strategi dan siasat Ken Arok menumbangkan Tunggul Ametung?
  • Bagaimana detail novel ini dalam penuturan dan penyajian data?

Catatan atas Pembacaan Novel Pram “Arok Dedes”

Novel “Arok Dedes” itu istana-sentris. Memang, ini langkah aman kalau seorang penulis tidak memiliki data memadai tentang setting sejarah masa pemberontakan Ken Arok.

Kediri sering disebut, tetapi tidak terlalu dilibatkan. Airlangga dan keturunannya disebut-sebut, tetapi lebih sering dijelekkan demi misi Ken Arok.

Cobalah cari, di bagian mana disebutkan gerundelan rakyat kecil (di luar istana, di luar lingkaran Ken Arok), terhadap kekuasaan Tunggul Ametung? Kalau ketemu, tolong beritahu saya. Hanya keluar dari Oti, budak yang kelak memimpin kelompok pemberontak-perempuan, yang digambarkan hanya berisi perempuan bercawat.

Saya suka adegan perubahan karakter Ken Dedes. Memang ini ada dalam “panduan” penulisan cerita fiksi.

Cerita berpeluang seru, jika karakter (tokoh) mengalami perubahan, kalau perlu dibikin lemah tanpa daya, hanya diberi satu peluang “terakhir” untuk melakukan perlawanan. Ini bisa memberikan “harapan” kepada pembaca, agar konflik yang terbangun dalam cerita bisa menuju “klimaks”.

Ken Dedes mengalami perubahan ini, setelah dia terampas dari rumahnya. Ken Dedes berubah dari seorang brahmani muda yang ketakutan, menjadi seorang permaisuri yang berani. Dari perempuan yang dirampas dari rumahnya, yang melawan dengan cakaran, gigitan, dan umpatan, menjadi strategi perlawanan sistemik. Dari debat tentang pemujaan Syiwa menjadi siasat militer bersama Ken Arok. Ken Dedes dari gadis lugu yang ingin mencapai Syiwa, menjadi permaisuri yang berada dalam kuasa sudra kejam bernama Tunggul Ametung.

Sayangnya, Pram menjelaskan transpersonalitas Ken Dedes terlalu cepat.

Saya akan mengutipkan beberapa cuplikan yang menjelaskan perubahan mental Ken Dedes.

Begitu Rimang memberitahukan kekuasaan seorang prameswari, Ken Dedes mengambil-alih secepatnya.

Ken Dedes merubah konfigurasi pura di tengah kesedihannya pada masa-masa awal menjadi permaisuri Tunggul Ametung.

Dengan kepergian Tunggul Ametung ia telah perintahkan mengubah susunan pura. Ia akan mendapat tantangan dari banyak orang, dan ia sengaja hendak menantang mereka. Ia langsung pergi ke sebelah utara, berlutut di hadapan Durga. Mula-mula ragu untuk mengucapkan sesuatu. Diangkatnya mukanya, menatap syakti Sang Syiwa itu, seorang dewi yang menakutkan dengan tangannya yang delapan.

Momen ini menjelaskan bagaimana Ken Dedes memilih berpolitik dan menggunakan syakti Syiwa untuk menyingkirkan kekuasaan Tunggul Ametung. Strategi ini dimulai dengan mengubah susunan pura dan menyembah Durga. Ken Dedes tahu kelemahan Tunggul Ametung, yang tidak bisa baca-tulis, tidak mengerti “suara dewa”. Tunggul Ametung tidak bisa apa-apa ketika berbicara dengan Ken Dedes tentang pemujaan, bahkan terlihat sebagai suami (atau penguasa?) yang bodoh dan takluk dalam perintah permaisuri.

“Paramesywari Tumapel tidak terlalu hina untuk Hyang Bathari. Tidakkah Kakanda pernah dengarkan suara dewa?” Suaminya menggeleng. “Suara Dewi?” sekali lagi menggeleng. Darah panas Akuwu susut, berubah mukanya jadi pucat. “Apa kata Hyang Durga padamu?” “Carilah ayahku, sekarang juga.”

Ken Dedes berbalik. Dari semua kutukan semula, dan tidak lagi mencakar. Ken Dedes memanggil Tunggul Ametung dengan sebutan “Kakanda” untuk kali pertama. Sedangkan Tunggul Ametung, dalam keadaan marah ataupun bergairah, selalu menyebut isterinya: “Permata”. Ken Dedes memerintahkan Tunggul Ametung mencari ayahnya. Ini perintah Dewi Durga.

Ken Dedes “tidak” menyesal dipisahkan dari ayahnya, sebab dia telah bertekad akan menaklukkan Tumapel. Jika selesai membaca, pembaca akan tahu, bahwa visi Ken Dedes sebenarnya sama dalam memandang kaum brahmana. Mereka hanya bisa mengecam-ngecam tetapi tidak bisa mengubah keadaan. Ken Arok saat mendengar kecaman para brahmana atas ketidakadilan Tumapel juga memiliki visi sama.

Pramoedya dalam narasi ini, kelihatan marxian sekali. Dengan catatan, marxian dan marxist jelas berbeda. Jika kita membaca Communist Manifesto karya Karl Marx, di bagian Introduction, ada paragraf yang sangat terkenal, “Sudah banyak para filosof yang menjelaskan dunia. Persoalannya adalah: bagaimana mengubahnya.“. “Mengubah” dunia, tidak hanya mendeskripsikan seperti apa “dunia” itu.

Setelah terjadi gempa di pakuwon, terlihat bagaimana Pram mencitrakan orang-orang Tumapel dengan semangat zaman mitologi, seperti yang diuraikan Van Peursen dalam “Strategi Kebudayaan”, di mana manusia masih “terpisah” dari alam dan membutuhkan kekuatan besar untuk berlindung dan meminta pertolongan.

Setelah gempa pula, Ken Dedes berani pada Yang Suci Belakangka, orang yang ditanamkan Kediri untuk “mengawasi” Tumapel. Ken Dedes semakin mengerti, bahwa Tunggul Ametung ternyata bukan yang paling kuasa di Tumapel. Strategi Ken Dedes tetap sama: memerintah dengan meminta Tunggul Ametung, menggunakan kuasa seorang permaisuri. Ken Dedes mengerti, Tunggul Ametung selalu gemas dan tidak bisa menolak permintaannya.

Ken Dedes untuk pertama kali mencium wajah suaminya dan membelai dadanya yang berbulu. “Bicaralah, Dedes.”

Adegan menarik lain, terjadi saat Ken Arok bersama Dang Hyang Lohgawe menuju pertemuan para brahmana. Ken Arok dalam perjalanan bersama Lohgawe melihat upacara “Maithuna”, upacara persetubuhan untuk memuja kesuburan. Lohgawe menyataan bahwa Maithuna bukan ajaran Syiwa. Lohgawe menjelaskan bagaimana penganut Buddha dan Wishnu menggeser penyembah Syiwa, serta bagaimana dunia “sekarang” (masa Tumapel dalam novel ini) mengalami kerusakan. Adegan perjalanan sebelum bertemu para brahmana, menjelaskan nasehat Lohgawe ini.

Matsiya-manuya-madya-mutra[ikan-daging, arak-wanita] dalam kesatuan dengan maithu-na, itulah wabah sekarang ini yang dibawa oleh ajarannya. Yang memeluk Syiwa, yang Wisynu, apalagi yang Buddha sendiri, semua kena rambatannya. Hanya yang waspada juga tahu arti hidup dan mati.

Lohgawe dalam pertemuan dengan para brahmana, mempersembahkan mahakarya, berwujud manusia, bernama Ken Arok, murid kesayangannya, kepada kawan-kawannya. Lohgawe tidak pernah putus memuji Ken Arok. Lohgawe memuji Ken Arok sebagai “murid yang tahu kehendak para dewa”, kadang “Garudaku”, kadang “Brahmaputra”. Ken Arok di sisi lain sangat bosan menghadapi para brahmana yang mengerti kebijakan tertinggi, namun para brahmana itu dianggapnya tidak bisa bertindak.

Betapa kuat mereka mengecam-ngecam, turunan demi turunan, sampai dua ratus tahun! dan tidak berbuat sesuatu.

Sepanjang “presentasi”, Ken Arok menggunakan cerita para raja Wishnu, kisah Mpu Sedah – Prabarini, serta cerita lain seputar penindasan terhadap perempuan, untuk membuat benang merah sejarah. Poin penjelasan Ken Arok, memperlihatkan kaum Wishnu mengejek Syiwa. Watak kaum Wishnu, menurut Ken Arok, dapat dilihat dari bagaimana raja-raja mereka.

“Untuk membuktikan wujud mereka sendiri, tidak perlu diteliti semua dan seluruh kaum Wisynu, cukup raja-rajanya..”

Sampai sekarang, kalau mengetikkan “mewakili” atau mencari di “Kamus Besar Bahasa Indonesia” (KBBI), keluarnya: “wakil”. Kata “mewakili” belum diakui, walaupun terjelaskan di KBBI.

Apakah moralitas para pemimpin (atau penguasa) suatu negara, bisa mewakili keadaan suatu bangsa?

Novel “Arok Dedes” memakai perspektif pertarungan antarkelas. Ini jelas sekali terpaparkan dalam “kebencian” Arok dan Dedes terhadap para penganut Wishnu. Pandangan terhadap Wishnu sangat stereotype, sepihak. Para raja Wishnu digambarkan sering menindas perempuan.

Setidaknya, ada 3 (tiga) peristiwa yang tercatat, ketika Ken Arok menjelaskan penindasan terhadap perempuan.

Sekartaji terhalang cintanya kepada Inukertapati (keduanya merupakan cucu Airlangga, dan menjadi suami isteri), lalu kerajaan memerintahkan membunuh kekasih Inukertapati yang menghalangi cinta Inukertapati.

Sebelah Timur menjadi negara Janggala, dirajai putra selir, Sri Jayantaka. Sebelah Barat menjadi negara Panjalu, beribukotakan Dhaha, atau Kediri, dirajai oleh putra selir, Sri Jayawarsa…. Sri Jayawarsa memperanakkan Putri Mahkota Kediri, Dewi Sekartaji Candrakirana. Sri Jayantaka, Janggala, memperanakkan Putra Mahkota Inu Kretapati.

Kelak kisah panji ini diabadikan dalam relief, arca, dan tarian, bukan sekadar kisah cinta.

Sebuah tarian, punya cerita. Setiap melihat penari saya mengimajinasikan unsur komikal dari kepingan cerita bersejarah, tentang gerakan manusia, tentang falsafah hidup yang tersembunyi.

Sejak kapan figur berpenutup kepala diperkenalkan orang Jawa?

Ada “catatan” kuno, yang telah dibuat nenek moyang di Nusantara, yaitu dari relief candi. Kata Lydia Kieven (2009), figur lelaki berpenutup kepala ini bisa dilacak dengan menilik sekitar 20 candi Jawa Timur dan Jawa Tengah yang dibuat di zaman Majapahit. Figur panji merepresentasikan manusia setengah-dewa (demigod), semacam “pemandu religius”. Penutup kepala menjadi simbol kemanunggalan individu dengan Wujud Tertinggi dalam tantra, dicapai dalam manunggalnya Shiva dan Shakti. Bisa dilihat di Candi Selokelir, Mojokerto. Relief Candi Kendalisada, Mojokerto dan Candi Panataran, Blitar, misalnya, panji duduk dalam pose romantis dengan Chandrakirana, sedang menyeberang air, sebagai simbol kenaikan pengetahuan-kebijaksanaan. Ada juga “adegan” panji berjumpa rhsi (Resi). Permainan penanda religius.

Cerita panji tidak dipengaruhi sama sekali oleh budaya India, tidak seperti adaptasi “Mahabharata” dan “Ramayana”. Kalau ada yang bertanya, apa contoh budaya dari Majapahit yang tak dipengaruhi Hindia, maka cerita panji inilah contohnya.

Cerita ini mendunia. Cerita panji menyebar ke luar Jawa, sampai Lombok, Palembang, Lampung, Banjarmasin, Aceh, Campa, dan Philipina. Cerita panji, kalau menilik plot dan atmosfer yang melingkupinya, merupakan kisah konstelasi politik berlatarbelakang masa Airlangga, Kertanegara, sampai Hayam Wuruk. Agak panjang uraiannya, namun kita bisa melacaknya sendiri.

Cerita panji termasuk faktor yang kelak menghasilkan gagasan Chakra Manggala Nusantara. Gagasan untuk bersatu dan tidak saling memisahkan-diri dari kesatuan, sudah lama dipegangi sejak zaman Majapahit. Gagasan tentang reintegrasi bangsa. Menilik figur berpenutup kepala di relief candi, manusia Indonesia dapat belajar banyak tentang religiusitas dan reintegrasi. Nusantara selalu menginginkan adanya kesatuan, bukan perpecahan. Gagasan tersebut diabadikan dalam relief candi dan tarian panji.

Saya terinspirasi penelitan Lydia Kieven seputar cerita Panji dalam status saya tersebut.

Berlanjut tentang “cerita berbingkai” pada adegan pertemuan Ken Arok dengan para Brahmana di novel “Arok Dedes” Pramoedya.

Pada masa prabu Jayabaya, terjadi pembunuhan Mpu Sedah, yang tak diceritakan di Google dan Wikipedia.

Prabu Jayabaya, menurut Pram dalam novel ini, tidak bisa Sansekerta. Jayabaya mengabadikan kemenangan peperangan dan mengokohkan kekuasaannya dengan menjawakan (menerjemahkan ke dalam bahasa Jawa) kemenangan perang Pandawa atas Kaurawa, dalam kisah “Bharatayudha”, yang ada di Parwa 9 (bukan Parwa 6), dari 18 Parwa di kitab “Mahabharata”. Mpu Sedah menerjemahkan kitab ini, demi bertemu kekasihnya: Prabarini, yang dirampas Jayabaya.

Mpu Sedah menggambarkan kecantikan isteri Prabu Salya dengan menghayati Prabarini, kekasihnya. Setelah bertemu Prabarini, Mpu Sedah dihukum mati.

Silakan baca “Salya Parwa” di kitab Mahabharata dalam bahasa sanskrit, dilengkapi transliterasi, dan terjemahan berbahasa Inggris, terkait dengan cerita yang diterjemahkan Mpu Sedah ini.

Inilah salah satu benang merah yang ditarik Ken Arok untuk mempengaruhi para Brahmana, bahwa para raja Wishnu tidak mengindahkan perempuan. Ken Arok mulai memanaskan suasana di depan para brahmana:

“Dahulu, yang mengalami adalah Anggraini, kemudian Prabarini, kemudian Amisani anak Resi Brahmaraja, sekarang Dedes, anak Yang Terhormat Mpu Parwa. Oleh siapa? Oleh hanya seorang akuwu, akuwu Tumapel, Tunggul Ametung”.

Ken Arok menjelaskan penafsiran yang dia tarik dalam mempelajari sejarah.

“Para Yang Terhormat dan Yang Suci, setelah dua ratus tahun lamanya bicara, mendengar, mengecam tanpa berbuat apa-apa, barangtentu para Yang Terhormat dan Yang Suci tiada berkeberatan mendengarkan kisah sahaya ini, yang sahaya tinjau dengan cara sahaya sendiri..”

Pujian Lohgawe terhadap Ken Arok, paling lengkap dan ringkas, tertulis di kutipan ini:

“Bicara, kau, Garuda kaum brahmana, dengan berat dan ketajaman parasyu Hyang Ganesya, dengan ketajaman kilat Sang Muncukunda…”

Ken Arok tidak berhenti mempengaruhi para brahmana. Dia mengejar satu pertanyaan penting: di manakah sebenarnya kekuatan kaum brahmana?

Tidak berhenti di sini. Ken Arok menyadarkan tentang pentingnya Nandi, sebelum merebut Tumapel. Nandi: teman, kesetiaan, harta, dan senjata. Keempat hal itulah kunci perebutan Tumapel.

Teman Ken Arok adalah para brahmana, para budak (buruh) di pendulangan emas Tumapel, serta kawan-kawan masa kecilnya. Ken Arok mendapatkan kesetiaan dari orang-orang yang dia persenjatai. Mereka setia menyimpan rampasan dan rampokan upeti, setia tidak menyebarkan identitas para pemberontak, dan percaya suatu saat Tumapel akan berubah. Dia memberikan wawasan, seperti pesan Lohgawe, bahwa Tumapel hanyalah awal.

Perjuangan Ken Arok tidak akan berhasil tanpa “dana” (funding). Dia mencari sumber utama kekuatan ekonomi Tumapel: upeti dan tambang emas. Upeti dicegat dan ditimbun Ken Arok, tambang emas diambil-alih dan pekerjanya diminta bersumpah-setia agar siap angkat senjata jika waktunya nanti merebut kekuasaan Tumapel. Satu lagi, sebagian pembaca akan terkejut, bahwa ternyata yang dimaksudkan “tambang emas”, yang saya ringkas dari cerita di atas, ternyata bukan tambang emas.

Dan senjata, tentu saja. Ken Arok membutuhkan 1000 pedang dan 3000 tombak lempar, yang harus diselesaikan selama 6 bulan di pabrik senjata Empu Gandring. Pramoedya juga menyebut “pelontar panah” (crossbow). Harap dicatat, kalau ada kebutuhan senjata sebanyak dan secanggih itu, kira-kira apakah banyak perempuan yang hanya bercawat tanpa kutang? Pram menyebut barisan perempuan yang hanya bercawat dan tak berkutang, dalam serangan terhadap Tumapel.

Tahapan berikutnya adalah menjalankan strategi penyusupan di Kutaraja. Lohgawe, yang semula sudah dimintai tolong Tunggul Ametung (tentu saja, atas permintaan Ken Dedes), mendatangi Kutaraja bersama Ken Arok. Setelah melewati penyidikan, Ken Arok diterima, meraih kepercayaan “tidak penuh” dari Tunggul Ametung.

Hanya Ken Dedes yang percaya Ken Arok, setelah terpikat dalam pesona Ken Arok. Diceritakan dalam novel ini, bagaimana Ken Arok bisa tahan melihat kecantikan Ken Dedes, bahkan mengeluarkan “ekagatra” untuk menjatuhkan Ken Dedes hanya dengan pandangannya. Saat mengutip kitab-kitab berbahasa Sanskrit, Ken Dedes lebih terpesona lagi.

Sepanjang novel “Arok Dedes”, Pram menyiratkan satu hal: bahasa Sansekerta hanya dikuasai para pendeta. Bahasa yang sudah hampir punah.

Pram tidak sekalipun menampilkan dialog yang menyertakan bahasa Sansekerta asli.

Ketika Ken Arok presentasi tentang strategi mengalahkan Tumapel, penceritaan “Salya Parwa” dari Mahabharata, sampai dialog rahasia Ken Dedes dengan Ken Arok sebelum terjadi pemberontakan, tidak ada dialog bahasa Sansekerta sama sekali. Sekali lagi, tidak ada perbincangan tentang bahasa Sanskrit dalam novel ini.

Ken Dedes kadang berbicara dengan sindiran, namun lebih sering mengecam Tunggul Ametung secara terang-terangan. Tunggul Ametung selalu digambarkan sebagai penguasa yang bodoh, tak-adil, kejam, dan tidak menghormati para dewa.

“Suamiku hanya bisa meminjam tangan dan mata orang.”
“Tangan dan mataku lebih berharga untuk kerja baca tulis.”
Sekali lagi Dedes melirik pada suaminya untuk mengetahui gusar atau tidak.
“Kalau semua tidak bisa, siapakah yang akan kakanda suruh? Kakanda tak tahu Sansakerta, maka tak tahu bagaimana berterimakasih dan bermohon ampun dan petunjuk.”
“Maksudmu aku satria yang tidak dihormati?”
“Satria baru yang menakutkan,” Dedes duduk menjauh, “satria hidup dari ketakutan dunia, maka ia terus juga takut-takuti dunia.”

Ken Dedes dalam novel “Arok Dedes”, digambarkan sering mengancam (tidak hanya mengecam) Tunggul Ametung. Ken Dedes menyatakan dialah yang menentukan anak dalam kandungannya (yang akan meneruskan kekuasaan) itu akan tetap dibiarkan hidup ataukah digugurkan.

Beberapa deskripsi yang tertulis dalam novel ini, banyak yang masih “tanda tanya” bagi saya.

Umang, teman masa kecil Ken Arok, yang kelak akan menjadi isterinya, memanggil Arok dengan sebutan “Bang”. Saya tidak tahu, apakah sebutan “Bang” ini populer di masa itu.

Arok bertemu Umang.
“Maafkan aku. Bang,” katanya kemudian.

Menurut Hinduisme, Syiwa memiliki shakti, dan ada banyak aspek di dalamnya. Meskipun Parwati, Durga, dan Kali, sama-sama merupakan shakti Syiwa, sebenarnya ketiganya “berlainan”. Pram menganggapnya sama. Seandainya Pram memberikan catatan tentang Hindu dalam novel ini, tentu tidak terjadi pengaburan. Hindu memiliki konsep “ketuhanan” yang rumit. Mungkin belum menjadi trend di masa Pram, untuk menambahkan anotasi, catatan kaki, pada novel ini. Atau memang ini pilihan Pram agar tidak diketahui sedalam apa wawasan Pram tentang Hinduisme.

Ini deskripsi yang saya maksudkan:

“Berapa kali dalam hidupmu kau pernah bersumpah demi Hyang Parwati?”[Parwati atau Durga atau Kali, syakti dari Syiwa.]

Dalam sebuah adegan, Rimang, selir Tunggul Ametung yang sudah tidak dipakai, menceritakan kepada Ken Dedes bagaimana suami Rimang bertikai tentang wayang.

Saya bertanya-tanya, seperti apa “wayang” pada masa Arok. Harap diingat, ini jauh sebelum Majapahit, Demak, Mataram, dan Surakarta berdiri. Lihat saja angka tahunnya. Memang, sudah ada penerjemahan 18 parwa Mahabharata pada masa Jayabaya, namun saya belum menemukan seperti apa kisah Mahabharata disajikan dalam pertunjukan, serta bagaimana kisah ini menjadi bagian dari pengalaman keseharian manusia Tumapel waktu itu.

Seperti apakah bentuk “wayang” waktu itu?

Tanca mengurus pemuja Syiwa dari Kediri, kaum brahmana. Pram menyebutnya “biarawan biarawati”, sebutan yang punya “sense” (arti, makna) yang berbeda dengan pendeta. Istilah “biarawan biarawati” ini hanya disebut sekali. Semoga tidak ada orang lain yang menyunting novel ini. : )

Sekarang, kembali pada strategi dan siasat Ken Arok dalam menumbangkan Tunggul Ametung.

Hayam dan 50 anak buahnya menyerbu tempat pendulangan emas, bukan tambang emas, seperti yang dijelaskan dalam novel ini. Harap dibedakan, antara pendulangan emas dan pertambangan emas. Pendulangan itu melebur emas, biasanya menjadi lempengan, yang bercap kerajaan atau tanda tertentu. Ini semacam “money laundry” (pencucian uang) namun bentuknya emas. Setelah merampas barang-barang berharga yang mengandung emas, dilakukan pendulangan. Selain tak terlacak, emas yang sudah didulang akan berharga lebih mahal.

Teknologi pendulangan emas ini, jika memang ada di Tumapel waktu itu, menunjukkan kemajuan pengolahan emas dan metal, yang berarti maju pula sistem persenjataan di Tumapel. Sayangnya, Pram tidak banyak menceritakan kecanggihan senjata ini, dia hanya menceritakan peluncur panah, pedang, dan tombak-lempar yang dipesan sebelum perang.

Mengapa Pram tidak menyinggung tuah keris dan kutukan Mpu Gandring?

Pram tidak memiliki referensi memadai sepanjang novel “Arok Dedes” tentang persenjataan, padahal novel ini bercerita tentang kudeta militer. Pram hanya menjelaskan “kebutuhan bersenjata”, seperti: pedang, tombak, dan pelontar-panah (crossbow), dengan tanpa mendeskripsikan “pemakaian senjata” dalam adegan, serta seperti apa senjata di masa itu. Maaf, tidak ada informasi seperti di novel esai, apalagi tentang sejarah persenjataan Jawa. Dia bukan Papa (Ernest Hemingway) atau Guy de Maupassant yang bisa bercerita tentang “makanan” dan “ironi”.

Ketidakhadiran kutukan keris Mpu Gandring, memang telah menjadi pilihan Pram. Dia menghapus kekuatan simbol, penanda tragedi, dan pintu perbincangan berupa lekuk dan pamor. Tidak ada cita rasa pertarungan di tingkat simbol dalam novel ini.

Saya hanya membayangkan: sekacau itukah Tumapel?

Saya selalu mencari, namun tidak menemukan, adanya simbol di luar sistem kepercayaan (belief system) yang menjadi kebanggaan Tumapel atau Kediri. Tidak ada. Novel ini tidak membicarakan simbolisme, kesukaan orang kuno, terutama Asia. Ketidakhadiran simbol ini, akhirnya menghadirkan novel “Arok Dedes” sebagai novel yang bicara tentang politik dan kepentingan semata.

Jadi, saya bertanya-tanya, mengapa ketidakhadiran kutukan keris Mpu Gandring ini juga disertai dengan ketidakhadiran simbol kebanggan Tumapel dan Kediri? Apa maksud Pram sebenarnya?

Fokus Pram lebih pada konflik penyembah Syiwa dan Wishnu, watak penguasa, dan strategi pemberontakan Ken Arok.

Sewaktu Tanca mengajak menyerang Tunggul Ametung dengan “sekali sergap”, Arok memikirkan strategi lain. Ken Arok di novel ini lebih sempurna dibandingkan cara DC menceritakan Superman (Batman bisa mengalahkan dan menghidupkan-kembali Superman).

“Lantas kita mau apa kalau berhasil? Kau pun tak tahu jalan lagi, seperti orang buta bergerayangan mencari jalan, jadi tertawaan.”

Temu (panggilan Ken Arok dari emaknya) bertemu Nyi Lembung, emaknya, yang sudah 20 tahun tidak bertemu. Adegan ini hanya keharuan yang terjadi sebentar sekali. Diceritakan bagaimana Arok sudah 20 tahun tidak bertemu emaknya, sementara umur Arok waktu menjalankan pemberontakan belum ada 30 tahun. Agak membingungkan kalau memakai hitungan tahun, sebab Pram tidak menjelaskan “20 tahun” itu memakai kalender bulan ataukah matahari.

Dalam peperangan itu, diceritakan sudah ada pelempar anak panah yang bisa melepaskan (anak panah) “tiga kali lebih cepat”. Entah bagaimana ceritanya, teknologi panah ini digunakan orang Jawa. Kalau mau diklaim orang Jawa penemunya, bukti tertulis menyebutkan, Abad 5 dan 6 SM, crossbow sudah digunakan di benua lain. : )

Arok mencari sumber dana Tumapel, hasilnya: pendulangan emas. Ini yang akan direbut Ken Arok. Pada saat merebut pendulangan emas, novel “Arok Dedes” lagi-lagi kehilangan detail. Pram terlalu sering menjelaskan adegan tetapi melupakan detail dan perubahan.

Hanya dengan satu kali pidato (speech) semua orang tunduk kepada Ken Arok. Tiba-tiba, Bango Samparan, ayah-angkat Ken Arok ada di antara mereka. Semua budak menciumi Ken Arok. Adegan ini bernama: Ken Arok ingin menghapus perbudakan. Sejak peristiwa perampasan itu, Ken Arok melarang perbudakan. Betapa cepat! Momen dramatis, tanpa deskripsi dan perubahan dramatis.

“Hayam, ikuti mereka dengan regumu,” perintah Arok. Kemudian pada semua budak yang hadir: “Mulai hari ini kalian bebas. Hanya jangan bubar dulu. Tidak lama lagi pasukan Tumapel akan datang merampas lagi tempat ini dan memperbudak kalian kembali. Karena itu semua orang di antara kalian agar bersiap-siap bertempur. Setuju?”

Budak-budak itu berebutan dulu untuk mencium kulit Arok. Juga Umang mencium tangan Arok. Kemudian juga Ki Bango mengikuti contoh orang banyak.

Tidak ada adu strategi militer dan siasat politik, dalam novel “Arok Dedes”. Adanya hanya bagaimana Ken Arok menjalankan rencana dan strategi. Mulus, tanpa gangguan. Arok selalu menang. Tidak ada kecemasan, kebimbangan, sikap dilematis, ataupun ketegangan dalam langkah-langkah Ken Arok.

Pasukan Arok telah memutuskan jalan raya dan jalan air yang menghubungkan Kediri dengan Tumapel dari sebelah selatan. Kekurangan garam dan hasil laut lain membikin penduduk Kutaraja menjadi gelisah.

Arok memesan 1.000 pedang dan 3.000 tombak lempar kepada Empu Gandring. Cerita bergeser, dari medan pertempuran ke medan siasat. Lohgawe, tentu saja yang paling berperan memberikan saran, dan Ken Arok mengeksekusi strategi ini.

“Garudaku!” bisik Lohgawe, “hanya kau yang dapat tumbangkan Akuwu Tumapel. Hanya cara ini yang bisa ditempuh. Kau harus mendapatkan kepercayaan dari Tunggul Ametung. Dengan kepercayaan itu kau harus bisa menggulingkannya. Semua brahmana di Tumapel, Kediri, di seluruh pulau Jawa, akan menyokongmu. Dengan Tumapel di tanganmu kau akan bisa hadapi Kediri. Demi Hyang Mahadewa, kau pasti bisa.”

Pram tidak pernah berhenti menyulut pertikaian Syiwa dan Wishnu, brahmana dan sudra, mulai dari lingkaran para petinggi kerajaan sampai rumor yang beredar di pakuwon. Narasi dan dialog selalu menceritakan pertikaian ini. Bahkan mentalitas pertarungan antarkelas ini tertulis sangat gamblang dalam pembicaraan Ken Dedes yang sedang hamil kepada bayinya.

Dengar, kau, Jabang Bayi? Kau berdarah Hindu, ayahmu sudra hina.”

Pernahkah terbayangkan, ada seorang ibu mengutuk bapak dari si bayi, dalam bentuk penghinaan kepercayaan? Hanya ibu yang sadis dan rasis yang akan melakukan penghinaan seperti itu.

Pembaca mungkin menunggu deskripsi “betis Ken Dedes” yang terkenal itu, namun tampaknya kemulusan betis Ken Dedes tidak pernah terjelaskan di novel “Arok Dedes”. Ini adegan yang paling mendekati tentang “betis Ken Dedes”.

Paramesywari turun dari tandu. Ia terpesona oleh kecantikannya. Kulitnya gading. Angin meniup dan kainnya tersingkap memperlihatkan pahanya yang seperti pualam. Arok mengangkat muka dan menatap Dedes. Dengan sendirinya ekagrata ajaran Tantripala bekerja. Cahaya matanya memancarkan gelombang menaklukkan wanita yang di hadapannya itu.

Pram sibuk dengan adjective tanpa deskripsi memadai. Deskripsi yang terlalu cepat, bukan? Bukan betis, tetapi paha. Deskripsi yang dinantikan pembaca tentang betis Ken Dedes, ternyata paha, dan paha itu hanya digambarkan dengan: “seperti pualam”. Ken Arok dengan cepat pula digambarkan dapat memancarkan gelombang cinta hanya dengan melihat.

Ken Arok mendekati Ken Dedes karena kekuasaan permaisuri sangat besar. Ken Arok beralih ke momen pemihakan, setelah berhasil memikat Ken Dedes.

“Katakan padaku, pada pihak siapa kau berada.”
“Sahaya ada pada pihak para brahmana, pada pihak Kakanda.”
“Apakah cukup dengan hanya pemihakan?”
“Sahaya serahkan suami sahaya, hidup dan matinya, pada Kakanda,” Ia menunduk, “Semua yang dituntun oleh tangan Dang Hyang Lohgawe pasti kebenaran yang tak dapat ditawar.”
“Apakah kau tidak menyesal kehilangan suami?”
“Sahaya serahkan diri dan hidup sahaya kepada Kakanda, demi Hyang Mahadewa.”
Arok menarik Dedes berdiri, dan ia rasai tubuh Paramesywari menggigil:
“Bangun kau, Dedes, dan kembali kau ke Bilik Agung.”
“Akan Kakanda tinggalkan sahaya begini seorang diri?”
“Tidak. Setiap saat aku akan kunjungi kau di sini. Terserah pada panggilanmu.

Strategi Lohgawe bekerja, berlanjut ke level berikutnya. Apa yang harus disiapkan setelah kudeta terjadi?

“Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu. Tanpa jatuhnya Tumapel, kita takkan bisa menghadapi Kediri. Tumapel adalah modal pertama, Arok. Jangan kau lupa.”
“Segera setelah jatuhnya Tunggul Ametung, Belakangka akan bertindak sebagai wakil Kediri. Ia akan menempatkan seseorang untuk jadi pengganti sementara. Itu tidak boleh. Dedes harus segera memegang kekuasaan pengganti suaminya. Dia harus mampu menjatuhkan hukuman bagi yang bersalah dan karunia bagi yang berjasa. Kaulah harus jadi tempat ia menyandarkan diri.”

Arok menangkap Rimang, selir Tunggul Ametung yang sempat lari dari Kutaraja, untuk diserahkan kepada Ken Dedes.

Tunggul Ametung mencurigai hubungan Arok – Dedes, ini kali dengan ancaman sadis.

“Diam! Kalau sekali waktu aku panggil sepuluh budak yang kuat-kuat, aku perintahkan meniduri kau sampai mati, baru kau mengerti siapa Tunggul Ametung.”

Ken Arok membutuhkan pernyataan terbuka dari Tunggul Ametung, di hadapan para Kidang, perwira, dan tamtama, bahwa loyalitas Ken Arok tidak diragukan. Momen ini terjadi pada saat Ken Arok berhasil menangkap Kidang Gumelar. Ken Arok bahkan mengancam, seandainya dia mau, dia bisa menguasai Tumapel kapan saja. Tunggul Ametung tidak berdaya. Kepercayaan orang terhadap Ken Arok dipulihkan.

Baca baik-baik kutipan ini, namun tidak perlu dihafalkan. : )

Tumapel dalam genggaman. Setelah semuanya dipastikan lancar, Ken Arok tidur.

Kemudian Arok berangkat tidur dengan pengetahuan yang pasti: Tumapel sudah ada dalam genggamannya.

Apakah pujian terhadap Ken Arok itu selalu berasal dari tokoh lain? Tidak. Pembentukan “profile” Ken Arok yang sering diagungkan orang, sebenarnya dalam novel ini, dinyatakan secara eksplisit oleh Ken Arok sendiri, dalam paragraf berikut:

“Bagaimana sahaya harus panggil pimpinan tertinggi?”
Arok tertawa.
“Aku berasal dari sudra, berlaku satria, berhati brahmana Panggil sesuka hatimu.”

Penutup

Kalau orang menganggap novel ini sebagai sumbangan Jawa terhadap watak kekuasaan di Indonesia, saya sering bertanya-tanya: bagian mana?

Ken Arok dalam novel “Arok Dedes” menganggap bahwa kekuasaan itu “tetap” dari para Dewa, namun, jika melenceng dari “kehendak para Dewa” maka harus diluruskan. Kekuasaan yang “tetap” itu harus ditetapkan. Perebutan kekuasaan menjadi sesuatu yang niscaya.

Bagaimana kudeta terjadi? Spoiler alert. Silakan baca sendiri kelanjutannya.

Saya merasakan semangat perubahan dari seorang Pram dalam novel ini, semoga para pembaca tidak memandangnya sebagai milik orang Jawa, karena nilai-nilai kemanusiaan dalam novel “Arok Dedes” sangat bagus untuk mewujudkan mimpi-mimpi keadilan dan kemanusiaan yang lebih baik, untuk Indonesia.

Cerita Ken Arok memang memiliki banyak versi. Ken Arok dituliskan dalam Serat Pararaton. Tentang terjemah “Pararaton” (Katuturanira Ken Arok) tidak tercantum di link ini. Atau silakan bandingkan dengan referensi novel sejarah lain.

Sebaiknya, baca sendiri novel ini. Nietzsche berkata, “Sebuah buku belum selesai dituliskan jika saya belum selesai membacanya.”. Semoga kamu membaca novel ini dengan pembacaan berbeda. Mari selalu membaca dan menulis. Semoga catatan ini membuka pintu diskusi lebih-lanjut dalam mengapresiasi novel Arok Dedes Pram. [dm]

Dedicated to: Pramoedya Ananta Toer dan para pembacanya.

What do you think?