in

Menghadapi Revolusi Industri Masa Sekarang

Seperti apakah bentuk revolusi industri di masa sekarang?

Revolusi industri masih terjadi. Bentuknya, software dan aplikasi. Dengan konsekuensi dan efek berbeda dari revolusi industri klasik.

Kemarin saya jalan kaki ke sebuah swalayan sambil browsing, membagikan (share) berita tentang keberhasilan ilmuwan membuat cloning embrio manusia, ada pula berita lain tentang penggunaan manusia dalam simulasi ujicoba senjata pembuat-cuaca milik Amerika.

Semua itu nyata, sebab yang nyata sekarang ini kadang seperti prediksi di film fiksi-ilmiah.

Ada beberapa anak muda sedang foto-foto di depan toko dengan ponsel. Mereka seperti kebanyakan anak muda, sangat suka foto dengan instagram dan bermedia sosial. Rupanya mereka sedang gathering (ngumpul bareng), dan tak lama kemudian, asyik dengan gadget masing-masing.

Informasi itu Tidak Free

Mereka selalu suka dengan satu hal: mendapatkan akses murah untuk koneksi. Facebook dan Twitter memang free, tetapi koneksinya tidak gratis. Sering terdengar ucapan informasi itu “free“. Informasi memang bisa “gratis” atau “bebas”. Sayangnya, “free” ini ilusi semata. Kapan informasi bisa free?

Informasi bisa free jika seluruh tindakan ekonomi itu bukan terkait informasi, mengingat sekarang ini masih banyak bidang yang belum mengalami otomatisasi atau belum sepenuhnya bergantung pada internet. Perlahan, semua akan diperantarai software. Membayar listrik, registrasi kependudukan, sudah memakai software. Sekarang mobil digerakkan dengan komputer, printer 3D (tiga dimensi) sudah bisa mencetak bulldozer, kacamata keluaran Google bisa memotret dengan kedipan mata, dll.

Bentuk Revolusi-Industri Akhir

Seperti itulah bentuk revolusi industri sekarang. Software.

Sampai zaman kapanpun, bisakah orang beranjak dari penemuan mesin dan software? Mungkin tidak.

Kebergantungan orang, semakin menguat pula. Bisakah kamu tidak menggunakan ponsel? Bisakah kamu menggunakan ponsel tanpa kamera? Bisakah kamu menggunakan ponsel tanpa kamera sekaligus tanpa media sosial?

Orang hanya bisa beralih dari satu gadget ke gadget lain, beralih ke bentuk komunikasi lain, namun tetap menggunakan internet dan peran software.

Menggunakan Facebook dan piranti teknologi, tidak membuat status atau keberadaan seseorang menjadi “meningkat”, sebaliknya, pemakaian software dan gadget akan menyamaratakan seseorang di lautan informasi, sebuah mesin yang tak terlihat, makhluk yang tak bisa dimatikan, bernama: internet. Kalau sudah terhubung internet, secara tidak langsung kamu menghadapi ketaksadaran global (global unconsciousness).

Instagram, Kasus Ketaksadaran Global

Apa yang terjadi saat seseorang memotret-diri dengan Instagram? Sebuah karya seni, mungkin; namun karya ini adalah filter untuk memproses foto menjadi beberapa efek pilihan. Dahsyatnya, keberhasilan aplikasi Instagram bisa mengguncang perusahaan besar.

Kodak, perusahaan yang mempekerjakan lebih dari 140.000 orang, pernah meraup keuntungan 28 milyar dolar. Kodak kemudian bangkrut (cerita menyedihkan). Orang beralih pada aplikasi Instagram di kamera digital ponsel. Pada tahun 2012, Facebook membeli Instagram 1 milyar dolar. Instagram, pada waktu itu, hanya dijalankan 13 orang.

Orang lebih suka memakai ponsel resolusi tinggi, dengan aplikasi bernama Instagram. Gadget yang mudah dibawa, multifungsi, serta software yang mudah dipasang-copot dengan mudah, adalah dambaan orang. Nilai sebuah gambar, dalam kasus Kodak, tidak lagi pada sisi artistik dan originalitas, melainkan pada fungsi foto untuk merekam moment dengan puluhan filter. Semakin mudah diaplikasikan, di-share, dan dimodifikasi siapapun, justru semakin disukai. Sayangnya, itu hanya sebuah contoh. Masih ada ratusan contoh tentang teknologi canggih yang tidak hanya mengurangi peran pekerja konvensional, namun juga menggeser perilaku pemakai internet.

Kekacauan dan Otonomi Mesin 

Jaron Lanier, penulis buku You are not a Gadget dan Who Owns the Future? menandai pergeseran besar dalam hidup manusia modern. Teknologi internet ternyata tidak membuat orang semakin mendapatkan lapangan pekerjaan. Kita seperti menghadapi kedatangan mesin-mesin besar yang mengganti peran buruh di masa Karl Marx, namun, mesin ini tidak tampak. Mesin ini berwujud code, aplikasi, software, dan terus dikembangkan.

Kekacauan itu bisa digambarkan begini: sebuah perusahaan besar yang merilis aplikasi untuk pembuatan website (misalnya plugin atau addon), bisa menemukan kejutan zero day dari seorang bocah yang membeberkan kelemahan software itu kepada publik.

Selain itu, software pula yang membuat internet menjadi mesin autonomous, swakerja. Seperti dimaklumi bersama, tergantung di tangan siapa software ini dikerjakan.

Semua yang diperdagangkan selalu memiliki watak politis. “Knowledge is power“, kata Michel Foucault. Pernyataan “Pengetahuan adalah kekuasaan”, bukanlah tentang siapa yang menang jika menguasai pengetahuan, tetapi, tentang watak kuasa dalam diri pengetahuan. Jika di tangan pemerintah atau perusahaan besar, software bisa menjadi senjata luar biasa, di balik ilusi gratis.

Perusahaan-perusahaan besar seperti Google, Facebook, bukan rahasia lagi, melakukan pengawasan dan pendataan aktivitas pemakai. Internet sekarang sudah bermunculan cloud server, mesin-mesin server berkapasitas dan berkecepatan besar, untuk menampung semua data pemakai.

Piramida Penindasan dari Baris-baris Kode

Pemakai melakukan share, membagikan content, lalu tingkah laku ini menandai lalu-lintas data, dan menjadi bahan pengumuman dari perusahaan-perusahaan besar. Orang tidak melakukan verifikasi, melainkan sebatas menggunakan data besar. Orang malas memikirkan muasal tindakan, motivasi, bahkan behind the scene sebuah fakta. Mereka, dalam bahasa Leonardo da Vinci, tidak “berpikir”, tetapi “menggunakan hasil berpikir” orang lain. Tindakan manusia diperantarai (mediated) pikiran internet.

Kapitalisme, akan berjalan lancar jika konsumerisme berlangsung. Instagram dan Facebook akan jaya jika kamu sering share, tidak peduli itu mengancam nasib 140.000 karyawan Kodak. Piramida penindasan terjadi. Semakin mahal software beroperasi di gadget (atau komputer), semakin berkuasalah kamu, secara sadar ataupun tidak. “Mesin yang lebih baik, akan menciptakan kepatuhan,” kata Karl Marx.

Komoditas “tanpa” Nilai Tukar

Komoditas terjadi jika barang atau jasa memasuki perdagangan. Jika kamu menanam padi untuk dimakan sendiri, itu bukan komoditas. Jika beras organik melintasi laut dan memasuki swalayan, itulah komoditas. Jika komoditas bertemu di jejaring, terjadilah “nilai tukar” dari “nilai guna” pada masing-masing komoditas. Nilai ini ditentukan “durasi curahan kerja”, dalam istilah Karl Marx. Sayangnya, nilai ini bergeser.

Apa saja telah menjadi komoditas. Pada saat software menjadi mediasi sempurna untuk melakukan komunikasi dan transaksi, maka status “komoditas” menjadi sangat rumit.

Sekarang bermunculan mesin-mesin yang memiliki kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang bisa menyajikan berita secara instant. Algorithma ditulis-ulang, baris-baris code bisa menulis dan menyajikan berita, menggantikan fungsi reporter, memberitakan cuaca dan perang. Sebuah halaman bisa menampilkan apa yang terbaru. Manusia berhadapan dengan multiplisitas (copy-paste), duplicated content, dan hukuman penalti terhapus dari mesin pencari bernama Google. Pekerjaan media, sebagai satu contoh, telah ditentukan oleh penilaian Google, Bing, Yahoo, dan Facebook.

Software telah menjadi puncak revolusi industri di masa internet. Apa yang lantas terjadi pada estetika karya seni, lapangan pekerjaan, cara manusia berkomunikasi, dan ekonomi masa mendatang?

Saat kamu sedang menggunakan gadget dan media sosial, masihkah menganggapnya sebatas alat? [dm]

What do you think?