in

Chapter One [Kumpulan Puisi #2 Day Milovich]

Day Milovich,, Chapter One [Kumpulan Puisi #2 Day Milovich], (c) 2003

[satu]

mars pada titik terdekat di langit timur, mengulang jarak terdekatnya sejak zaman batu. bahkan batupun bisa mengatakan kerinduannya pada batu lain. aku sendirian di pertigaan ini. dahan meranggas diayun angin, lantas kenangan gegas menumbuhkan tunastunas duri di dadaku. menggigil. merayakan luka. kursi yang di bawah beringin menjadi batu dingin. lampulampu menciptakan bayangan nancap di aspal. bertahuntahun aku menunggu seseorang yang datang mewarisi semua perjalananku. tetapi cinta terlalu sering diperkenalkan dalam bahasa darah. sebentar lagi tiang telepon dipukul satu kali. duka mendaraskan kalimatkalimat pekat, gelap menyekap mata tatkala deras airmata memaksa pejam. telepon bergetar sekali. “malam ini aku tak bisa tidur. angin malam tidak baik untuk badan. maafkan aku. senyumlah ayah, biar aku bisa tidur. mimpikan aku.”, pesanmu di telepon. aku mesti tidur, meski aku tahu akan kautikam dari belakang. cahaya pagi mampat di matamu. aku mabuk. padamu. aku benci apapun yang dapat ditaklukkan. terutama perempuan yang aku cintai. dada. mars pada titik terdekat di langit timur, mengulang jarak terdekatnya sejak zaman batu. bahkan batupun bisa mengatakan kerinduannya pada batu lain. [beringin center, 030901]

[dua]

belum tuntas paras menguras cemas. serupa medusa, kaupandang aku jadi batu. di hitam matamu jurang granit menganga. untuk bunuh diri. di putih matamu belati tertanam tumbuh sebagai melati. aku tidak takut pada semua lubang di tubuhmu selama masih bisa kusaksikan diriku di matamu. detakkan lagi jantungku, seiring kedipanmu. lantas kauberikan seutas kalung yang kaubeli dari jauh, “ini tengkorak untukmu. kenakanlah”. bulan diiring bintang, lebih dekat daripada malam sebelumnya. kenangkanlah. aku lelaki, kau perempuan. dada. [030910]

[tiga]

bulan mengarak awan. sisakan perasaan sendirian: mengenang perempuan. minuman sembilan cawan, melambungkan perut dengan gelombang pasang. bunyi sunyi. nyanyi. mencumbu waktu. tubuh rindu, tubuh sedang kutolak. bintang selatan tak ada yang beralih. tak ada yang bisa mengalihkan rinduku padamu. laut yang kaupandang tadi siang, kupandangi juga. jalan selatan yang kautapaki tadi pagi, kulewati juga. semua hanya kabarkan: pergi.dada. [030910]

[empat]

rekah luka telah mampat disumbat kering nanah sesudah lelah berebut merah dan limbah. hidup sering lelap disekap kalah. merasa (ter)lambat melanglang, bersimbah salah. mentah melangkah. penat. setiap malam, tangis bedah di atas sajadah. basah. sembah selalu terbelah, nyaris punah. pikiran sesat melesat nikmat. sesaat. laknat. tubuh mesti menjelma batu pejal demi meremuk amuk. mengutuk suntuk, semurah wajah marah. aku ingin rumah, aku mau sepi rumah, kau cuma enyah, kau hanya lintah yang mesti punah. jangan seret aku demi merambah sampah. menghafal serapah, bersumpah. aku ingin memanah, aku mau musnah dipendam rata tanah tanpa bunga melingkar indah. di sana sembah tidak terbelah. bahkan sejarah tidak lagi sekedar bercerita tentang sesuatu yang musnah dalam rupa denah dan noktah. darah. [workshop, 031010]

[lima]

“mendatangi tanah asing, kamulah orang asingnya!”. rindu menyesah dari bau tanah basah. klorofil bugil. tubuh menggigil. kehilangan pelukan. bulan tanpa kedip. ngintip dari sela dahan. tengadah. mendudah kisah rumah. tidak ada sinyal. garam memagar tenda dari ular liar. bulan setengah bugil. bawa(lah) kabar kekasih. cuaca berebut kabut dan angin. tidur cuma saksikan mimpi kabur. kepala menggumpal menjadi tangan, dingin mengepal. geraham geram, tubuh mengeram tanpa perapian. kafein mengusir nikotin. kerumunan orang dikelilingi pembalut wanita di ujung obor. teater adalah candu masyarakat. [kiskendo, 031012]

[enam]

bulan rendah. penuh. pandanglah rebah tengadah: langit serupa laut, terbalik. angin melecut awan setipis selaput, bulan berdenyut. tatap meratap, jiwa tetap menjala sang kala. selagi sudah dekat lepas, penuh bekas [per]jalanan. malam akan direbut cahaya timur. direbut matahari. ada yang enggan melepas pandangan dari bulan itu. ada kenangan. tetapi “ada” tak menjelaskan apaapa. tetapi kenangan sudah bikin batu nisan lewat tulisan “selamat jalan”. ada bintang, setitik. mendekat! pada fajar, matahari menyadap bulan, tanpa gelap, tanpa dekap. [071103]

[tujuh]

malam dalam. jagad redam, kedap suara. lepas [sama] sekali. separuh ruang ada gemerisik naik dan suara sengit bermuara langit. separuh[nya] waktu, hanya ada blues. meronta, aorta lupa derita. merah ambang fajar berbinar mawar di bibirmu, gelap malam ditangkar alismu. mata dibalas dengan mata, kenalkan tubuh purba hingga simpul rambut direnggut tanah. kepalang setengah telanjang, terengah dihadang dada jalang. kehendak merasuk meremuk amuk: menyingkap jelita betina dan jantan rentan. “aku mau tubuh, seluruh. katakan padaku, bagaimana rasanya memeluk sekaligus melepaskan-malam itu”. aku suka buat suaka dari logika dan petaka: melumat filsafat di tubuhmu, membersihkannya dari candu kebenaran. biar aku lucuti marka neraka dari dunia, sebab terkadang dunia adalah tubuhmu. [081103]

[delapan]

matahari belum berat ke barat. merangsang siang, menebar serat cahaya di lelangit menara. hari belum semerah bata saat kuikuti dirimu menelisik peristiwa. para pelawat melepas penat, pengemis mengais belas, utas benang tak lepas memutar tasbih-tanpa ujung. aku ceritakan padamu tentang tempat yang telah menunggumu ratusan tahun: di situ sapi meneguk arus, ada keramik cina, dan menara berupa pura-menutup sumur kehidupan. sampai para dewa kudus menemani anak sekolah menghafal alfiyah. di masjid itu. menara itu bukan batu. aku sebentuk busuk remuk. membuang selendang dan dendang cinta. lantas, rentang tangan lunaskah faedah untuk tenggelam di sikusiku batu menara-bersenyawa saling selam. antara diam dan kalam. hari belum semerah pipimu yang lelah, saat kusergap tanganmu diamdiam. [menara kudus, 111103]

[sembilan]

genggam tanganku agar tanganku tidak telanjang. lepaskan dirimu dari gerimis itu, jangan [setengah] telanjang. nanti kau sakit. kenakan saja baju ini, biar dia menerima sedikit limpahan kecantikanmu. oh, mataku yang mengakar dengan pandangan tumbuh di tubuhmu, lihatlah, bagaimana kecantikan mengingatkanku pada seribu awal dan akhirmu. rasakanlah, hai perasaanku, bagaimana benangsari berlari mencari, membidik putik–agar dirinya lenyap. demi penyatuan. lewat sang hujan. jangan telanjang menatap matahari seperti itu. gerimis habis, langit tinggal[kan] pelangi. [161103]

[sepuluh]

saat kau memandangku, aku yakin: tuhan sedang memandangku. saat tuhan memandangku, aku tahu: aku sedang memandangi diriku sendiri. [161103]

[sebelas]

karena mencintaimu, dengan patah lidah mesti ku[b]uraikan kisah indah di lelintasan petuah orang rumah. aku cuma persilangan jalan yang dikebut tangan kepentingan dan [se]kalimat perintah di ujung kejadian: “bentuklah celah lahat di selangkang siang!”. karena mencintaimu, aku mau memerdekakan darah, membebaskan senyum. sebab aku juga tubuh. karena mencintaimu, aku tidak bisa puisikan (lagi) wajahmu, sebab telah jadi labirin metafora-menangkar nalar dalam pesona fana. (hujan jatuh, baju luruh, tubuh tumbuh “dari tanah kembali ke tanah”). karena mencintaimu, aku disengkarut maut tiga kali sehari, menyisihkan serakan pagina, dilembur hancur. (gugus huruf, rapat dijasadkan perkalian kalimat. makna telah membunuhnya). “bagaimanapun, aku tetaplah sekian perempuan”, katamu. karena mencintaimu, kau begitu sering melukaiku. maaf, aku pergi meninggalkanmu. gila. tak soal. cinta. atau bukan. berpisah. baikbaik. hati. hati. [291103]

[duabelas]

maghrib mau lepas. pertigaan, karib membangun bebas. kenangan susut dikerubut melar kelakar sehingga tempat yang menyaksikan terasa belum kelar disiangi matahari. “gerimis tidak lagi gerimis kalau [hanya] dibicarakan.”. ruang kelas sudah bekas, cuma kakikaki meja, lengan kursi, tertutup temok dan daun pintu kecoklatan. di depan studio, sampah sisa makan serupa sekelompok hewan bunuhdiri. ada yang setengah telanjang menjelang alir air, melucuti net, dan mencabuti kabel gitar. ada yang melepas peniti jilbab [sementara] lalu berwudhu. air membasuh tubuh, langit sesekali gemetar mengirim guruh. “bulan jantan di jeram angkasa-malam ini-[janganlah!] tenggelam. aku mau masa silam. aku jerami untuk lidah api musim penghujan”. tetapi germis tidak lagi berhenti untuk pelangi. petang, rembang, bayang, jalang, adalah waktu. tanpa past, present, future. bisakah kau lenyap dalam elipsis-gerimis? “demi masa…”. kitapun berpisah: kau mengenang godaanku, aku menelan bukumu. menukar tanda dengan waktu. [yang masih] bercerita dengan gerimis. kadang aku mau jadi bentuk. bersetubuh sempurna dengan ruang. hilang dipupur bulan di langit jantan. dan sebaris sajak akan memintamu terus bertamu, “demi waktu, di halaman buku kita bertemu”. yang cemburu, tak digetar kobar cinta. yang sementara merintih, bukan kamaratih. yang ingin milik, bukan majnun. maka tetapkanlah, jangan ikut takut terkucil direnggut kejadian musykil. [291103]

[tigabelas]

tetapkanlah diriku di suatu tempat, untuk merupa kekasih: dengan tinta, kalam, dan tanah-asalku. mintalah waktu membatukan purba dan akhir. apakah makna selesai bagi cinta? aku tak mau usai, menolak kelak, atau hanya mengulang sekarang.aku mau membentuk, tak sekadar mencegah ku-tuk remuk. [dia selalu belajar memanah-diawasi patung sang durna. sampai arjuna kalah!]. [291103]

[empatbelas]

ini memang tentang luka terbuka. luka [yang bisa] bicara. berontak dari diam, dari reda[m] amuk merah padam. [maya]pada-mu berkisah: rumah indah-sudah. terbelah. punah. ini memang tentang darah, asmara serumah yang tak lagi butuh betah, penuh perintah saling jajah. “kenapa kauhadirkan derita dalam rupa perempuan, tuhan?” [291103]

[limabelas]

sungai berujung samudera, gulung ombak berguling gigir karang selalu bermuara. semua nancap mantap tetap-tak lepas dari siklus, tanpa batu sisphus. garis pantai tanpa jejak telapak. angin thawaf di tempat itu, matahari berdzikir juga. pasir serupa pasar, tempat rangsang hidup bersilang [se]bagai ranjang panjang, memanggang jejak kenangan. hilang[kah?] langkahmu tatkala sepasang tubuh rubuh terencana, saling serang: satu tangguh lainnya pesona. puisi lenyap jadi sunyi. muara lenyap jadi ombak, bunga jadi tubuh harum, harum jadi keringat semangat. pawai pendar warna pelangi dan cokelat panas manis tak lepas dari bibirmu. burungburung membumbung di lengkung langit. panas lunas. gemuruh tabuh dada ritmis sekali serupa sepasang roda kencang bersarang sepi. jauh tercapai kayuh. “hanya kita yang sepasang, lainnya tak ada. mari saling memohon. lagi.”. doa terasa utuh sejak teraba gulir peluh. berkah dan tuah tanah pada setengah bajumu, dikukut gesa rasa. dibilas bekas muara, dilekas suara malam, semua berawal lagi. cadar memagar binar mawar di pipimu. memugar melati di matamu. ceruk cahaya di kelopakmu membunuh tanya, membungkam kalam. dari limbung bersambung, dari lambung murung, tetap berpelukan juga. mati dengan hidup. hidup dengan mati. sebab mati adalah produk sosial. [051203]

Day Milovich,,

What do you think?