in

puisi “hutan, mengurai aku”

(Image: Tetiana Garkusha)
hutan sedang menceritakan diriku. aku terurai di antara rerumputan, dedaunan entah-nama. kita di sini, kemah orang-orang purba, yang kenal sembah dari tuah pepohonan. aku mendengar mereka berdoa, mendengar burung berkicau; burung itu mungkin tak-peduli arti kicau itu, betapa merdu ia yang tanpa-arti. kau menyesap mata air, hutan basah, bulan seperti berembun, bening, di langit sana, di dasar sendang ini. bulan menjadi bayang, membuat bias bayang. bulan seperti segala bulan. lalu bebatuan kita susun, membuat api, persembahan tanpa bunyi. kita melihat bayang sendiri, di mana kedua pipimu beralaskan dadaku. sesekali, cinta tanpa tikai, tanpa berkata. malam adalah yang terpekat dan berapi. aku warna pohon, beralas rumput, berselimut rumput. suaraku milik pagi, persembahan musim. aku penciuman yang tenggelam dalam hutan. bunga-bunga, renungan bermekaran, hanya batinku saja yang telanjang bersama hutan. sunyi melepas baju-baju duka. dalam diam, hutan dan gunung telah menyerap cerita kita. persembahan yang berputar, siklus waktu, persembahan tanpa bertanya kamu yakin pada apa. tak ada sisa, tak ada sia-sia. bumi bekerja tanpa rahasia, bagi tangan yang bekerja. aku kembali kepada aku. di hutan ini, warna tidur bersama, mata mereka terbuka, menelan kita yang datang, dengan tatapannya. sampai kita menengadah, meratap pada langit yang lebih dingin. bebatuan langit, rasi bintang itu, masih di tenggara. penanda kembara. lapar dan pisau mengawal firasat kita, dan tenda yang tak-kenal cuaca. lagu-lagu biasa, seluruhnya berhenti. angin sedang bisukan kata kita. tepat di luka batin, luruh, melepaskan cahaya di sana. kita sedang membuat cahaya, mengukur ketinggian dan berapa menit lagi akan sampai. kita melepas waktu, memotret tanpa kamera, hutan ini menelan kita dengan pandangan delapan penjuru. kita tidak menulis apa-apa, tidak bicarakan apa-apa. tamu yang asing di pundak raksasa bumi. sesekali, kau ingin berjalan tanpa kompas. membaca angin laut, melihat burung-burung pulang mengusung makan membawa penanda arah barat, dan sesekali kilat melambai, berkabar tentang daratan lain: kota para bangsat, pengasingan kita sejak lahir. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.