in

hari biasa

aku ingin menyebut namamu, dalam sadar, lebih banyak dari yang disebutkan angin kepada bunga-bunga yang mereka serbuk di depan mataku.

aku ingin menyebut namamu, sebagai mantera yang memanggil hujan, namun bukan dari kedua mataku. agar kusaksikan tanah basah, mengirimkan bau tubuhmu kepadaku.

aku ingin memejamkan mata, agar nyala api di mataku tak terlihat siapapun. agar aku melihat apimu dalam gelapku. aku menjadi satu-satunya saksi atas aku yang terbakar rinduku kepadamu.

aku hanyalah rasa haus. dan jika cinta terpaksa digambarkan seperti samudera, di manapun mataku memandang, kaulah pantai tempatku bertolak-pergi dan kembali. dan jika cinta ini terpaksa digambarkan seperti minuman, kaulah gelas sekaligus kemabukanku.

kamu melukaiku dengan perkenalan dan cinta ini. luka yang kurindukan, pintu masuk cahaya, yang membuka jalan sejati tentang diriku. mengenalmu, aku mengenal aku.

dengan apa kuhapus kata, jika bukan dengan bertemu denganmu? mata menjadi mata, dengan pertemuan. bahasa kembali menjadi nafasku, di depanmu.

pada hari yang sangat biasa, terjadilah ungkapan ini.

– dm.07062021 –

What do you think?

Pengertian “Seniman”

Di Mana Segala-Sesuatu adalah Musik