in

Kalam Hitam Malam [Kumpulan Puisi #7 Day Milovich]

Day Milovich,, Kalam Hitam Malam [Kumpulan Puisi #7 Day Milovich], (c) 2011

.001

semalam ada lelah di merah rawa. aku simpuh, lumpuh merindu[kan] berdua. tenggelam pada pusaran api hawa. atas beratus hari meretas kata dan tawa. di nyata, bulan maya. di tangan, matahari ganda. nafas memburu malam menua. siang saling saing, raut bersambut sahut, didih di ujung rambut pula. setengah tubuh, seluruhnya kelenjar. mengejar gerak, saling mengakar. bermula senja, mengawal fajar. berharap kekal. tanpa selembar bekal. kau-aku kembali: bersenyawa.

.002

“sekarang” bagiku, hanya ada dua simpang: tak pernah terjadi, atau selalu terjadi. rupanya diri telah lelah mengikuti segala pengertianmu tentang kata [dan] hati. aku ingin menjadi waktu, ruang tanpa henti, raung tak terbagi. aku ingin sebagai bayang, tanpa sesakkan ruangmu. terlupakan. dari satu menjadi [de]tak terbilang. aku hanya bayang, menyimpan[g]mu di sepi.

.003

hanya tanya, tanpa tanda. kau tawa, aku hambar, di hampar rerumputan tersiangi. hati telah bertanah wangi kamboja, berkabung sudah perbincangan dalam kotak masuk. tertutup. aku hitam bagi bias pelangimu, aku dirajam. biasa digenangi arus merah di mataku. sendiri. malam ini rumah hanya berwujud langkah. alasan pejalan, telah di simpang, di bising masing-masing.

.004

aku hanya menandai jejak di ujung halamanmu. saat aku kembali, di kertas terlipat itu, aku berharap mengenalmu. kekal. tikai tak terpakai, cerita tentang desah sepasang tubuh basah, dan laut kalut, tak tenggelamkan se-karang senyummu. senyap, asap, lelah di hisapmu. dekap. pergi mengayuh biduk selepas peluk. kau satu-satunya pulau [ter]asing, memulangkan setia[p] pagi. pada diri.

.005

aku haus, namun arus di mataku, tak sampai di bibir. bayang bulan, mendua di matamu. malam memelukku, sehitam gagak pengabar mati, atas sakit tanpa henti. menanti. merangkai ulang pertikaian sekabur erat bayang. badai separuh tempuh, seasin air mata. setetes demi setetes. demi sendiri. aku lelah membaca pesan penuh sandi. rasa meronta, sepanas nafas, meluruhkan sendi. cinta pelan-pelan [telah] sampai mati.

.006

waktu masih mero[n]da, ditikam tiga jarum jam. kedua punggung bicara, mata terbuka. menyimak kecamuk, melacak amuk. peluk telah berat, kenangan penat. peluh tak terseka[t], kata tercekat. pembicaraan selalu bersilangan saling-cegat, dikerat pisau berkarat. lelah berenang di genang bayang. tenggelam selama malam berulang. sepanjang pejam dan jaga, cuma kunang-kunang terbang. ciuman selalu tumbuh menjadi tanya: sedang apa kau di sana? kau masih meron[t]a. kau di kalender merah, kau di nomorku, kau di santer berita berdarah, kau di api dapurku, kau berputar di denah beranda rumah, kau di dinding pertemanan, kau di tengkuk, di kutuk, di peluk. atau kau tepat di dalam dada, sehingga aku tak melihatmu?

.007

biarkan aku mencium baumu, tepat di dasar. melarung kalah, merasakan istirah tak terkejar setiap malam. daratan penuh kesepakatan pasar saling cecar. biarkan aku tersebar, beredar. merupa sinar yang menyesah wajah indahmu. biarkan aku menciummu, menguap di dupa doa, setiap waktu. selekas deru nafas, sebatas paras dan sambut lembut bibir. dalam pergi selalu aku sertakan sengketa tanpa kata, [me]ruang berbagi rindu. dihantar lisan, yang telah membuat kata lumat, berguguran di putik bunga buku harian. dan ritus ratusan status pertemanan. biarkan aku tenggelam di dasarmu, menyertamu sebagai orang ketiga segala percakapan.

.008

di sentuhmu aku tengadah, menghitung kedip bintang merasi, menjadi arahmu, menjelajahiku. sekejap taman bermekaran pelan. di tarik kain, ada terik menghauskan, dalam sedetik pula ada rintik arus. setengah gelap pandangan, angin berpusaran di lembah dan pangkuan. kau-aku sesekali beku salju. menggulir, memucat, membesar, melaju. aku benang sari, kau putik. aku berenang, kau semang. kau-aku remuk dalam amuk, merasuk seribu rasa: tanpa paksa, tanpa bentuk. menyelam di [d]alam masing-masing. bising tanpa paling ataupun kerling. akar berkait di simpul dahan, menyebar perkalian waktu. selingkar pelangi rasa, hangat basah. berbilas lekas, mengulang tuntas, saling balas. rupanya kau-aku tak pernah berhenti, menyelesaikan tikai dengan tikam di atas tilam, membalut gurat luka dengan tuah garam, mengeramkan sebagian tubuh, di dekap jauh. setiap malam, tikai selesai di sini. tikai hanya separuh waktu, tak setia menemani, seperti[ga] benciku saja pada selesainya pertemuan ini. lantas tubuhku berpindah arah, membedah denah segala faedah. menuju kau-aku: satu.

.009

aku merindukanmu, hingga hinggaplah gusar setiap kau lenyap kabar. mata,hari tetap gelap sebab senyapmu berputar. berpuluh gunung beratus wajah, tampakku hanya bayang berpusar. kau warna bermilyar, dari putihmu yang berpendar. kau gitar pengalun, nada tanpa senar. kau bisik, tak dapat aku terlisik, hanya bisa kudengar. kau menjadi rumah, menjadi tanah di setiap pijak langkah tersebar. kau liar tanpa cagar, buas tanpa pagar. kau lautan sepi tanpa pantai, aku daratan cemar penuh pasar. kau udara, aku degup tanpa katup, lebur padamu sebagai sinar. kau api tak bertepi, mata [se]pasang pengetahuan yang berbinar. kau air, mengalir [di] pikir yang melesat memancar. aku merindukanmu, musnah sudah segala kaidah dan nalar. bahkan setiap tak mengingatmu, rinduku api menjalar. aku merindukanmu, setiap dada ditabuh shubuh. setiap kapal berlabuh. setiap kalimat menempuh makna yang sudah [se]kian jauh. aku merindukanmu, biar setiap minuman meracuniku, biar segala sehat menyakitiku, biar segala pikir telah akhir, biar berkas, angka, dan sang kala bermuka petaka, biar semua peta semakin membawa kabar samar, biar sinar tinggal pudar, biar segala yang tetap, berubah nanar. aku merindukanmu, diam di kitaranmu, aku masuk di pusara[n]mu. aku merindukanmu, di hilang-diri, melawan pencar menjadi tubuh yang terus beredar. aku merindukanmu, hingga getar. sebagai tubuh, aku merindukanmu.

.010

aku merindukanmu dalam nyanyian dedaunan di [se]luruh angin. tidak ada letup api melagu retak hati, selain bibir menanti. kata melebur di rintik peluh, sirna. sengketa berbaur di seribu titik tubuh, bertemu segala jauh bertempur mencari utuh. cinta selalu diiring tikai, semerah sentuh, serapuh tubuh. aku merindukanmu, melupakan sapa sesiapa saja, merupa bayangmu yang menang menyamun lamunan ke sekian, sampai duka tinggal semacam saja.

.011

kau basah di airmataku, kau kenang di semua linanganku. kau gelisah di pejamku. kau hitam di segala warnaku. kau lingkaran sempurna, yang tak mungkin terlihat di nyataku. kau mengusir segala batu, menyerta waktu. kau menjadikanku, tengah dari segala sesuatu.

.012

setiap kali jumpa, aku jantung tanpa degup. kau merangkai kalam hitam malam. menelan matahari, bintang-bintang. mata hati kuyup, berteduh di gaduh dada. sendiri. getar mata berbinar masih pejam, bibir katup pula. kau menyeka[p] airmata, mengaburkan denah, menyesatkan langkahku di kau. bahkan rinduku telah kau rampas menjadi rindumu.

.013

masihkah kau, mau mengabarkan bau matahari pagi, selagi malam mengirimkan lagi elegi, tentang duka, datang-pergi. masihkah kau, mau berbagi bayang dengan cerminmu di sini, selagi hati sere[n]tak detak, melampaui segala gerak. masihkah kau berbaring, mendengarku berbisik mengusikmu, menelisik kabar, tentang bunga-bunga dua musim yang tak mekar selain di dadamu sendiri? masihkah kau, menyandang dua matahari di kedua matamu, yang membutakanku dari kerling sekeliling. masihkah, mawar berbias karena ciumanku di pipimu? lihatlah aku berjalan, menyibak udara timur, membentur seribu tabir yang kau bentang. [agar] aku merindukanmu. masihkah kau?

.014

kau senyap di gelap. kau hilang di terang. bahkan bayangmu telah gaib. apakah kau butuh seribu landasan untuk mendarat lagi di pantaiku? kau telah membuatnya tak bertepi, tepat di hitam mata ini. bahkan aku tak melihatmu, sepanjang melawat jejak angin dan segala ingin, yang kalah di pertempuran kenangan. itu sebabnya, aku harus mendoakanmu, dari gelisah tak tercegah. berdarah. aku tuliskan peta di atas tubuhmu, agar marah dan rindumu, tak membuatmu tersesat: menemukanku. bulan terang. tanpamu. sapa terbenam menjadi erang, menentang malam jahanam. sabtu membatu, menunggu. sepi merupa api. sementara kau tak terganggu, oleh ragu. tanyakan padaku bagaimana rindu dan marah menyatu, memusnahkan waktu, bagaimana jarak mengarak gagak penunggu pertempuran matahari dan senja. tanyakan padaku bagaimana kedua matamu, tanyakan padaku yang telah bertemu denganmu, menanggung arung kidung rindu dan gelombang bayang itu. menungguku, mencecarku, membuatku utuh. tanpa sentuh.

.015

atap rendah, pandang satu arah. kau merah di langit indah. angin selatan serupa desah. kau-aku bertarung tanpa menang kalah, melawan sekawan kenangan dari masa depan. biarkan membiak jadi gundah, nanti pasti di pelukan akan punah. bulan bundar merah. kau-aku terkapar lelah. tak selesai menikmati, tak usai mengamati. berderai tawa, mengurai suka-duka dari mimpi asing masing-masing. bahwa kau-aku di bawah langit, terpingit cinta rumit. dalam rupa bahagia dan sakit. kelak kau-aku akan bertemu lagi, menjadi pagi bagi segala kejadian, sementara bunga di tubuhmu telah tumbuh menjadi taman.

.016

semalam kau telah meninggalkan, sepasang telapak tak menyerah. setengah terbuka, genggam getar. sepagi tubuhmu yang dirindukan matahari. sepasang telapak itu menjadi pejalan kelelahan. menuruti guratan setengah genggam di garis kehidupan dan bukit venus. sesekali berhenti sejenak, membuat gelak di dada, menaikkan arus di tubuhmu. kemudian kau telah, menyerah dan melepaskan, segala simpul dan warna. kau membawa laut, gelombang sejauh desah, dan pandang menyesah setengah gelap, meraut wajah. semalam kau telah menanggalkan, sejumlah berkas merah, di lekuk tak bersudut, getar dalam doa berdua, menyulut api, menjemput lelap. kau-aku satu debur, tidur dalam nyala pandang, mengarak detak masing-masing, di ruang yang masih berputar, seperti shubuh bagi tubuhmu. yang kau sadari, tak sendiri. kau terpejam, dengan sudut mata berlinang, segala teredam. entah kejam, entah malam.

.017

di pelukmu, kabut tak lagi berebut gunung. di sungaimu, arus tak lagi menyusur muara. di jalanmu, jalanmu sendiri. diri menepi. bermukim di wajahmu yang tak bermusim. gunung hanya batu, menyahut suaraku: sendiri. kalut tanya kubawa, laut hanya tertawa. aku di puncakmu. rembulan telanjang di atas tanah. bunga-bunga yang tak tercium, tilam yang terbebas dari sebagian tidurmu, dan cermin di telepon: masih penuh rencana. tentang siang. tentang berlaga di jelaga matahari yang menurunkan ribuan kendaraan besi. mencakari jalan, mentusir bayang satu putar, mengelilingi kota-kota, dengan tiga jarum dan telepon. rintik langit meratapi malam yang mesti habis. di perang[kap] percakapan, dan halaman-halaman buku yang tak tersentuh. aku menjadikanmu buku, tak habis tulis, menjadikanmu kanvas, mencerna warna, melepas setiap nafas menjadi apa saja, menjadi dan menjadi.

.018

malam ini masih saja, ada pedih dalam nyanyi. perih lirih menyapih segala luka yang semakin [sem]bunyi. ada saja yang tak terkatakan, di gerai rambutmu dan senyum di atas tilam. tidurlah di laguku, biar aku usir dingin, biarpun itu melawan ingin. istirah segala lelah ke antah berantah, jadilah bintang-bintang merasi di wajahmu, yang kian mendekat di dadaku. di dukaku.

.019

lebih baik aku menjadi tujuh hari, yang kaurasa, tak terlihat. diam, mengatasi-diri dari sekeliling kian berpaling. saat batu berjatuhan aku akan menjadi batu. diam selalu tentang hidup yang rumit, selalu tentang sakit. lagi pula, dalam perjalanan ini, lebih banyak abai dan alpa dirayakan. malam sehati, tenggelam mati, mengapa kau-aku berjumpa di tubuh yang sekarang ini?

.020

pagi ini kau telah terbangkan kepak sepasang jendela. menyalakan api, membasuh diri. dalam tengadah doa, kau alir bagi luka. tak ada yang terbagi segala[nya] duka. hari telah lama melupa mimpi, dari tidur tak-tersadari. sebab musim panas masih saja selimuti tubuhmu dalam pintu tertutup. tak ada sejarah orang lain hari ini yang memasuki rumahmu, selain: bayanganmu. yang menghilang di permukaan air matamu.

.021

kata masih saja, membawa tikai berpusaran, sederas hujan, sekeras waktu. tentang makna dan ungkapan, dan raung kedap-sunyi. ruang bertutur dikubur segala kabur, digilas beku waktu, melingkar. berkisaran di dinding dan halaman. pernahkah sekali saja, aku melihatmu tersenyum tanpa pertanyaan tentang makna. pernahkah sekali saja, tubuh dan rasa ini, tidak lebur [hanya] dalam merahnya perih?

.022

hujan melesap, bau tanah sedap. kau-aku bertemu di halaman pertemanan. tanpa rembulan, sepi menjadi bara. api dalam dada, padam karena air mata langit, dan kupu-kupu yang terbang di mimpi, telah mengubah setangkai angrek, menjadi setaman.

.023

duka akan dilarung, setiap tarik nafas. pada senandung semesta, segalanya lepas. larut dalam usap rambutmu, menggamit dagumu. memandangmu tersenyum. tenggelam dalam tidurmu nanti, aku kembali. mengada, bertarung. sepi.

.024

tanganku sepi. anganku menjilatkan api. sepanas kata, senafas sengketa. aku telah bersepakat dengan maut, akan menggurat-diri di bebatuan purba pemantik api, sebelum tinggalkan dindingmu yang berubah menjadi [se]jarah bisikan dan grafiti. aku tuli dari segala desis, buta dari segala tulis. berebut melawan sengkarut hidup, selarut laut, dan rautmu meredup. lari dariku, seperti maut itu.

.025

ijinkan aku mengakar, menjadi getar. memelukmu di pendar sinar, sebab sudah tak perlu lagi menang kalah, mari sudahi segala ukuran benar dan benar. di pintu ini, tak ada sejarah orang lain, tak ada dinding meratap. hanya wajah saling-hadap, memula dekap, menebarnya di seluruh senyap. kau-aku melawan sadar, berlawanan dalam putar. tak ada dalam, tiada luar. matahari kembali pada senja, rampas saja menjadi sinar. malam biar tinggal bintang. di seribu titik tubuhmu aku seribu – [mem]bentuk hujan rintik, sepanas nafas berpapasan, waktu berputar. tak menanti henti, kau-aku selepas luas waktu, kau aku duka yang saling timpa, melepas petaka ke lelangit kamar, berbelas pertemuan semakin membakar, mengisi hampa menjalani seratus jumpa. di alir, di ruas tubuh, di udara, di bara. sampai nalar tak bersabda, selain mengeja kerja. malam itu [aku] merindukanmu. siang itu [kau] memanggilku. ada jejak di tubuh, namun kau masih utuh. menyalakan api, menembus sepi. aku di tengah lelah. hanya di setiap putar, kau-aku berpapasan, meski berlawanan. melawan sekawan kejadian, menaklukkan-diri. sendiri.

.026

tanyakan padaku bagaimana rindu dan marah menyatu, memusnahkan waktu, bagaimana jarak mengarak gagak penunggu pertempuran matahari dan senja. tanyakan padaku bagaimana kedua matamu, tanyakan padaku yang telah bertemu denganmu, menanggung arung kidung rindu dan gelombang bayang itu. menungguku, mencecarku, membuatku jatuh. tanpa sentuh.

.027

cuaca dingin mengeram di tubuhmu. matahari tanpa selongsong di dadaku. kau-aku saling pegang, walau masih bayang. terbaca ingin di suaramu, tentang tidur tenang di jarak merentang, sejauh malam kepada siang. mengitari sapa berupa suara berbunga-bunga. dan asap setebal dupa, menyahut ingatan segala kabar. tentang bintang-bintang hilang, demi doa penjemput hujan.

.028

kata masih saja, membawa tikai berpusaran, sederas hujan, sekeras waktu. tentang makna dan ungkapan, dan raung kedap-sunyi. ruang bertutur dikubur segala kabur, digilas beku waktu, melingkar. berkisaran di dinding dan halaman. pernahkah sekali saja, aku melihatmu tersenyum tanpa pertanyaan tentang makna. pernahkah sekali saja, tubuh dan rasa ini, tidak lebur [hanya] dalam merahnya perih?

.029

tanganku sepi. anganku menjilatkan api. sepanas kata, senafas sengketa. aku telah bersepakat dengan maut, akan menggurat-diri di bebatuan purba pemantik api, sebelum tinggalkan dindingmu yang berubah menjadi [se]jarah bisikan dan grafiti. aku tuli dari segala desis, buta dari segala tulis. berebut melawan sengkarut hidup, selarut laut, dan rautmu meredup. lari dariku, seperti maut itu.

.030

sepi sedang berfaedah api, memurnikanku dari [se]karat pikiran, mengembalikan ‘kacau dalam daging’ ke perabuan mimpi. sambut lembut hanya pejam, lamun di alun daun. seribu bintang telanjang, menurunkan kunang-kunang di kepala, mengarah pada kubur segala yang kabur. tak ada marka dan angka di denah marah. semua jelajah telah berubah. hanya ada aku di tubuhku. beku.

.031

malam erat pekat, lelah kesumat, telah lumat, dalam lisan tercekat. aku sesat, tertutup di dekap. menyulut bara di mata[mu], jantung nyanyi, kalamku sunyi. kudengar tawamu, manja menjauh marah, sepi terpecah menjadi seribu sepi lagi. ada yang tak sampai dalam mencari, merupa kenangan. aku ingin meluruhkan seluruhmu. mengapa yang indah tak pernah tertulis [se]lagi dengan lidah?

.032

jemariku tenggelam, merenangi jalan hitam. lelah terkulai dalam belai. menyibak rambutmu helai demi helai, merunut celah kisah tentang siang yang lelah. jejak di halaman buku. menyatu terserap mimpi. bisikku menelisik rindumu, sebelum tidur, tempat terakhir segala pikir. aku mendekapmu, hingga seluruh lanskap tenang. dari sepasang kembali ke sepasang. nafas halus. senyummu dalam pejam.

.033

bulan hitam, langit pelan memeras legam. batin terbelah tujuh rekah. mengarah sepi, meretasku. aku daun tanpa akar, alun tanpa debar, waktu berkabung meniti kenang. melawan diri sendiri untukmu, diremuk jenuh jauh. minuman meracuniku, segala hirup membalik hidup. hujan menghalangku dari teduhmu. aku merindumu di diam telepon, pada setiap kata yang masih tiada, masih berwujud peluk.

.034

senja sedang hilang, orang-orang mengungkap rasa [dengan] gelap, yang terbenam, dan membakar. mengingatkanku pada jarak, peta[k] retak, dan bibir menetak. aku tujuh, saling jauh di gaib nasib masing-masing. di laut ini orang hanya menghabiskan, tak menanam, tak menumbuhkan apa-apa. bunga menanti rekah, walau sebatang dia tetap membutuhkan langit. saat tumbuh, seluruh dadaku terbelah. merah.

.035

biar ranggas di pangkal akar, aku tak lelah menyadap air mata. aku haus, namun arus keruh. mata airku jauh dari rumah dan jamah. rayu wajah ayu, rantas beku di halaman buku. senda manja senja, tak lagi tentang cakrawala. matahari pergi. aku tak memuja. segala [yang] tenggelam dan benam. aku bukan lagi, lelaki dengan sebaris alamat. tanpa peta. aku gurita, menyerang dengan peluk dan tinta.

.036

dia berbelok di tikungan, melepaskan gandengan. dalam gelap, tanpa senyuman. meninggalkan bau bunga di dadaku, meninggalkan kedua tanganku. satunya bekerja, lainnya menyeka. luka. menjauh sudah[i] kau dari kedua mata. jalan mengunyahku, meringkas satu kota dalam pahit kata: setia. robeklah semua penanda di tubuhku, berikut kata yang lelah, layu-rayu, di tikungan berikutmu.

.037

ini kali tak ada alir indah di nyanyiku. pandang pejam, hanya derai basah. letih tanya, menyapih perih. langit sengit tangis, pikir rumit mengiris. namun tangis hanya tangis. hanya menguap diluap kesumat [sen]diri. dia sibuk menghindari seribu pintu goda dan ronta di pinta terakhir, yang masuk di setiap bentuk. tangis tidak memadamkan api sepi. yang menjilat, melumat hasrat. tragedi sealir nadi. duka sampai di titik nadir. segala getir. bayangmu hadir, di segala lelap, meringkusku. hitam, bungkam, mimpi, sepi. di remang mana[pun], teriak kembali. di kitar manapun, pijar lampu perahu, hanya datang-pergi, seperti hilang kendali. sekitarku beku, tak melihatku. berputar-putar tak menyahut teriak dan lambaiku, terus melingkari pulau ini, tubuh ini. berhentilah mengejarku, berhentilah menginggalkanku. setidaknya ajari aku merenangi basah. mencerna resah dan pesona yang mengunyahku kini. kutitipkan lidahku di segala pergimu. berikut segala kata dan sekota sengketa yang masih kau semai sampai kini. aku selalu tersesat pada sekian hadirmu yang belum kembali. dari panas api tanah mimpi.

.038

aku mau jadi hujan, meresap di hutan, membuatmu basah dalam tarian, di bawah derai mata langit. membuatmu tengadah dalam harap senyap, mengenang kisah percintaan bunga-bunga rekah yang ditinggalkan kupu-kupu, serta kaki berkejaran di atas jalan. aku mau jadi hujan, mengejar kekasih mencari rumah, menempuh teduh. aku mau jadi hujan, lenyap di seribu pelukan, mengiring senandung lirih merekam pedih, menyapih sedih meluapkan bara dada dalam cerita tentang laut dan matahari. tanpaku. aku mau jadi hujan malam ini, kau bumi yang menyimpan resap basahku. seribu derai menjadi tetumbuhan tempat matahari membelah celah menjadi arah, menjadi indah. aku mau jadi hujan, untukmu. [me]musnahkan sedihmu yang tak bisa ditakar dengan sedih lain. memulangkan segala jangkar yang jauh dalam jelajah. menempuh satu jangkau: kau!

Day Milovich,,

What do you think?