melihat sungai

tubuhnya, kuil tersingkap, tempat bintang-bintang dilukiskan. sebagian tak bersegi, berselimut lumut. peluk angin berarah, memanggil nasib para arwah. di sekitar, sungai-sungai melarikan diri. hujan meluapkan segala nama untuk sembunyikan rintih tujuh pendosa. langit dan bumi, telanjang sejak purba. tanahmu menandai getar, mengguratkan garis darah. hujan yang kau putar menghanyutkan kecemasan, tiris dalam tangis. tanpa luka. lelah menerjang segala suaka.” [dm.200313]