in

shinta

Puisi Day Milovich, “Shinta”.

(Photo: Balairung Press)

akulah shinta. perempuan-perawan di hutan perawan. lapar dalam sepi. yang dijaga guratan keris, kalacakra.

sebab cintaku tak ingin kuasa. setia menuntut setia.

kakiku menganyam duri mawar. setapak berdarah, setapak tersembuhkan, dengan ciuman.

dalam bahaya, cintaku tanpa sangkar. bahkan angin cemburu pada kebebasanku.

suara orang tua meminta di balik jiwa raja denawa, membuatku terangkat dari lingkaran kesetiaan.

rahwana mengenalkanku pada pertarungan dan angkasa.

akulah shinta. perempuan yang membuat lelaki bersumpah-suci. dan musuh bersimpuh, tak menyentuh.

akulah sinta. yang menukar hadirku dengan cincin dan alengka yang terbakar.

akulah shinta. yang direbut dengan jembatan di atas lautan.

akulah shinta. yang membuat semar turun-tangan menyembuhkan mereka yang buta karena amarah perempuan.

dan api pengorbanan telah dinyalakan usai perang. api berbinar melihatku. cahaya bulan melindungi urai rambutku.

“siapa yang kuasa berbicara di depan kecantikan? akulah rumahmu. yang melucuti seluruh peperanganmu. dengan kesetiaan.”

sudah selayaknya, cinta berdarah.

aku hidup dengan tumbal rahwana. yang melayani dan membesarkanku.

aku terlahir-kembali dari api. menyarungkan keris dan tombak. jalan suci seorang perawan.

[dm, 250820]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.