resensi-film-the-room-2019
Olga Kurylenko bermain sebagai ibu yang mengajukan permintaan terlarang, kepada "Ruangan" yang bisa memberikan aap saja. Film tentang fiksi surga dan psikologi manusia, dengan metafora dan jalinan adegan yang keren. (Credit: imdb.com)
in

Fiksi Surga dan Rahim yang Terbuat dari Ruangan

Resensi film “the Room” (2019)

Matt dan Kate membeli rumah kuno. Ada sebuah ruangan, di mana semua permintaan berupa hal-hal material, terpenuhi seketika. Kate yang pernah keguguran 2 kali, meminta anak. Ramalan dan kejadian sebelumnya, berkata sama: anak itu akan melawan kedua orang tuanya. Dari sinilah, cerita bermula.

The Room (2019)
Initial release: September 19, 2019 (Russia)
Starrings: Olga Kurylenko, Kevin Jamssen.
Director: Christian Volckman
Music: Raf Keunen
Editor: Sophie Fourdrinoy
Screenplay: Christian Volckman, Éric Forestier

Matt dan Kate, seperti layaknya pasangan muda, sedang memulai-ulang hidupnya. Matt memilki mimpi seorang seniman, untuk ngetop, serta butuh suasana sepi. Rumah di tengah hutan itu, sangatlah tepat. Namun keduanya belum punya apa-apa. Kate, yang berbakat sebagai penerjemah terbaik, pernah keguguran 2 kali, dan ingin punya uang banyak.

Pada malam yang tak pernah direncanakan, Matt sedang sepi inspirasi, ditemani minuman yang sudah habis. “Aku membutuhkan botol lain”. Matt terkejut, tiba-tiba ada botol minuman kesukaannya. Ia meminta lukisan-lukisan terbaik, datanglah lukisan-lukisan terbaik, seketika.

Matt mengajak Kate meminta, tanpa protokol serumit orang berdoa, tanpa penukaran seperti orang meminta kekayaan. Kate meminta uang 100 ribu dollar kepada ruangan itu. Uang 100 ribu dollar datang. Uang asli.

Hari-hari dan malam-malam berikutnya, mereka sibuk hingga kelelahan, meminta dan meminta. Keinginan yang lebih banyak, barang-barang mewah yang lebih banyak lagi. Mandi mewah, menjadi seorang princess, bercinta dengan gaya BDSM, memandangi dinding penuh lukisan karya para maestro, uang bertebaran di mana-mana.

Ruangan itu menjadi semacam printer 3 dimensi, yang bisa memberikan apa saja kepada Matt dan Kate.

Apa yang belum ada?
Orang lain. Selama ini mereka terkucil di rumah itu. Kerajaan cinta, sepasang suami-isteri, membutuhkan tetangga dan kehadiran anak.

Matt mendapatkan teguran dari pekerja instalasi listrik, agar segera lari dari rumah itu, karena, rumah itu selalu meminta korban. Dari browsing, Matt melacak penghuni sebelumnya, yang dirawat di rumah sakit jiwa karena membunuh kedua orang fuanya, atas permintaan ruangan itu.

Matt baru menyadari, ternyata, uang ratusan dollar yang ia bawa, berubah menjadi abu ketika keluar dari rumah itu. Demikian pula lukiaan “potret diri” Van Gogh. Separuh menjadi abu.

Matt memesan pistol, untuk menjaga-diri dari kemungkinan buruk, jika anaknya melawan.

Matt memilih jalan lain. Ia mencari tahu cara-kerja ruangan itu. Kesimpulannya, “Jangan bawa apa yang kamu minta, keluar dari rumah.” Materi akan menempuh waktu, menjadi menua, dan menjadi debu.

Matt tidak bisa bersusah-payah bekerja dibandingkan dengan penghasilan yang diberikan ruangan itu. Ruangan itu mengajarkan untuk menghemat permintaan dan semakin mengisolasi mereka berdua dari dunia.

Kate meminta anak. Terjadilah.

Bayi lelaki, tak soal wajahnya mirip siapa. Betapa tampan. Pertumbuhan.bayi itu, menjadi bukti keajaiban. Menjadi seorang anak. Tidak bersekolah, cukup homeschooling. Telepon dari rumah sakit jiwa mengingatkan Matt dan Kate, anak itu kelak akan memberontak karena tahu siapa jati dirinya.

Anak kecil itu akan membunuh bapaknya.

Anak kecil itu membesar dengan cepat. Mendengar bapak dan ibunya bertengkar, ia bertanya, tentang penciptaan. Bagaimana aku ada? Mengapa aku terpisah dari duniaku? Bagaimana cara dunia bekerja?

Ia ingin bermain di hutan. Bukan menjadi seniman atau penerjemah.

Apakah ada ruangan seperti di “the Room” (2019)? Tidak ada.

Ruangan seperti itu, bukan hanya bekerja melalui mimpi, namun, itulah bentuk mimpi. Ruangan yang “ada begitu saja”, kemudian penghuni mencari riwayatnya. Ruangan yang memberikan makna baru kepada pertanyaan besar dalam beragama.

Apakah Tuhan itu adil? Dari mana asal semua ini? Bagaimana cara kerja sistem ini?

Keadilan Tuhan justru berhadapan dengan theodesi (pembuktian keadilan Tuhan, secara ilmiah), bahwa ia memberikan apa yang baik untuk kebutuhan “saya”. Bahwa materi lebih mudah dipahami daripada konsep abstrak seperti keadilan dan kebahagiaan.

Ruangan yang menjadi pemenuhan permintaan.

Bahwa “ingin melihat lukisan asli Van Gogh” berarti harus meng-ada-kan lukisan asli itu sendiri, bukan sekadar presentasi multimedia. Ruangan yang tidak mengizinkan “pembuktian” bahwa lukisan ini asli. Matt menganggap “ada”nya lukisan itu asli, karena kabar (pengetahuan tentang seni) bahwa itu asli.

Apa yang ada di ruangan itulah kenyataan. Bahkan ruangan itu “melarang” keluar dari rumah. Luar rumah adalah tempat yang pantas bagi abu. Kesementaraan.

Ini pula “hukum” yang berubah menjadi “hukuman” bagi Shane sejak lahir. Orang tuanya menanamkan “larangan” untuk mendekati pengetahuan bernama dunia-luar.

Shane harus mau menikmati dunia-luar sebagai buku, mainan, miniatur plastik, dan “pengetahuan palsu”. Shane hidup dalam kepalsuan, hanya karena ketakutan pendahulunya, yaitu Matt dan Kate, bahwa jika melanggar maka ia akan mengalami kehancuran. Shane menjadi konsumen produk pe

Orang tuanya memberikan yang terbaik bagi dirinya, sebagai bentuk rasa sayang, namun sesungguhnya itu mengisolasi anak kecil itu.

Perjalanan berkata lain. Shane berhasil membuat musim-salju lokal. Bahkan meminta hutan. Ada hutam di.dalam ruangan itu. Shane pelan-pelan mempelajari cara-kerja ruangan itu. Ia tahu seperti apa keinginan orang tuanya, sebab keinginan orang tua tergambar pada batas, sekat, dan peraturan.

Shane melihat orang tuanya menutup jendela dan pintu, agar dirinya, yang hanya berstatus materi sebagaimana lukisan dan bath tube, akan hancur jika keluar dari rumah. Shane meradikalkan pengertian dunia luar sebagai dekorasi ruangan semata. Bujankah hutan dan musim salju hanyalah bagian dari ruang itu?

Shane ingin menjadi bapaknya, yang mencintai ibunya. Shane menerjemahkan “bersama selamanya..” dalam bentuk mencintai ibunya.

Shane mati dalam pergumulan dengan pistol. Matt dan Kate keluar dari rumah itu. Kate menerima kenyataan, test pack kehamilannnya menujukkan 2 garis merah. Kate hamil. End.

Film ini sangat saya rekomendasikan untuk melihat bagaimana bekerjanya teori-teori tentang agama dan filsafat.

Agama bagi Freud dan Durkheim, dapat dilihat dari maskulinitas dan complex oedipus, serta bagaimana taboo bekerja. Ruangan ini memperlihatkan dikotomi realitas yang dibentuk dalam keluarga dan pendidikan. Bagaimana pengetahuan palsu ditanamkan dalam bentuk duplikasi, imitasi, dan bagaimana kebahagiaan dimaterikan.
Saya ragu apakah film ini akan ditayangkan di bioskop ternama karena ada adegan Shane bercinta dengan ibunya.

Yang saya tidak ragu, Olga Kurylenko semakin matang dalam acting. Kehadirannya di film-film action yang ia lakoni, termasuk di Quantum of Solace, sebagai Bond girl atas request para penggemar, terhenti sejenak.

Orang melihat Olga sebagai emak-emak yang tidak berlari di antara desingan peluru, seperti di film terbarunya yang lain, keluaran 2019, “the Courier”. Pesona wajah terbelah Olga, di poster film ini, sudah menampilkan cerita split personality dam pertarungan diri yang complicated. Kita melihat Olga yang kelelahan menghadapi kejamnya hidup, ekspresi bahagianya ketika berubah menjadi banyak karakter ketika mencoba materi-materi yang ia minta dari ruangan itu.

Film ini mengajukan kilasan-kilasan, kemudian berhenti di dialog. Film ini menghadirkan kesunyian, benar-benar jembatan yang tepat bagi penonton untuk merenung dan menahan kebisingan dalam pikiran selama bertanya-tanya, “Apa yang akan terjadi setelah adegan ini? Bagaimana bisa begini? Mengapa begitu?”.

Film ini membuat saya speechless ketika kecemasan saya terwakili kecemasan di wajah Olga. Ia menjadi sosok ibu, menyusui sekaligus memarahi anak, memeluk setelah marah, dengan pandangan yang hanya bisa digambarkan oleh lautan.

Olga menjadi “hutan” yang diciptakan Shane di dalam ruangan, di mana ibu adalah “orang lain” yang dikenal pertama kali oleh anak dalam tahapan “mirror staging”, seperti dalam psikologi Lacan.

Menurut Jung, ego melahirkan perasaan identitas dan kontinuitas seseorang. Prospektif sekaligus restropektif. Jung menggabungkan telelologi dan kausalitas.

Film ini mengajak penonton melihat perjuangan Shane menemukan “bayang” (shadow), terminologi dalam psikologi Jung, yang ada namun tak ditampakkan kepada “orang lain”.

Shane menjadi kemarahan, manusia pemegang pisau, yang menyerang Sang Bapak, maskulinitas yang dianggap membuat sistem “the Room” terjadi. Ketika Shane berhadapan dengan insting untuk keluar dari rumah (ini merupakan Id), ia dibayang sepenuhnya oleh larangan, peraturan, sebagai bentuk Super Ego, dan akhirnya ia memutuskan (di sinilah peran Ego) untuk keluar dari rumah.

Shane berada di batas rumah dan tumbuh-dewasa begitu saja. Shane bergulat dengan “bayang” (shadow) untuk menikam Bapak, sebagai personifikasi dari Super Ego.

Shane tidak bisa bertemu dengan muasalnya, tidak memiliki.identitas dan kesadaran yang dibentuk sebagaimana manusia lain, karena ia “diadakan”, bukan “diciptakan”. Shane tidak melewati fase 1 sel, tidak melewati rahim, ia hanya menerima asuhan postnatal, setelah terlahirkan.

Shane mengalami keterasingan sejak lahir. Ia tidak mungkin membuat pembandingan, hidup tanpa teman sebaya, tanpa peraturan lain.

Shane seperti anak kecil dalam novel Choke, karya Chuck Oalahniuk, yang terbangun (tersadar) sedang berada di tengah Neraka, memotong tangannya sendiri demi beradaptasi dengan lingkungannya. Hanya saja, Shane di sini beradaptasi dengan memupus keinginan tanpa menghemat keinginan. Ia hanya perlu membatasi diri dengan satu peraturan: jangan keluar dari rumah.

Shane adalah anak yang terlahir dari surga (ruangan itu) yang bisa memberikan apa saja, namun bukan “orang lain” dan bukan “dunia sebagaimana adanya”. Mitos Adam bekerja di sini.

Shane menghadapi cerita tentang macan, hutan, tanpa boleh menyentuh. Bahkan tidak ada kata “suatu saat nanti..”.

Bagaimana hidup dalam situasi semacam itu, kalau yang muncul bukan pemberontakan? Manakah yang lebih disukai, mengalami apa yang tertulis di buku ataukah sebatas menjangkaunya dalam pikiran? Mengapa selalu ada bisikan skizofrenik untuk mempertanyakan “keadaan ini”, siapa pengendalinya, dan bagimana cara kerja ruangan ini? Mengapa ibunya yang menjadi pemanusiaan alam-raya yang merawatnya, justru tidak bisa ia kendalikan dan berada di antara ia dan bapaknya?

Shane kemudian mengerti bagaimana duplikasi dan sistem copy bekerja. Ia menjelma menjadi Super Ego bagi orang lain, yang secara fisik digambarkan dalam film imi, sebagai bapaknya sendiri? Ia melihat bapak dan ibunya, di luar hutan, juga sedang berlari.menemui dirinya.

Shane yang selalu berada dalam “mirror staging” (menurut psikologi Lacan), melihat sosok feminin-maskulin, alam-raya dan “Tuhan”, menjadi lebih banyak. Shane bahkan tidak melihat orang lain selain ia dan ruangan itu.

Akhirnya, ruangan itu menjadi eksteriorisasi dan ekstensi (perluasan) dari dirinya. Aku adalah surga ini, ruangan ini. Dunia ada di dalam sini, jika kamu melarangku keluar.

Dan sebagai penonton, kalaupun “tembok keempat” tontonan dapat kita tembus, Shane terlihat sebagai sosok yang berhasil mengendalikan keputusan dirinya: membunuh Super Ego dan meniadakan aturan.

Ruangan ini adalah metafora yang sangat tepat bagi agama yang egois. Agama yang menjanjikan pemenuhan kebutuhan kelak, di mana Keadilan Tuhan ditegaskan dengan dosa dan larangan, hukuman yang lebih kelihatan daripada hukum itu sendiri. Ruangan ini adalah metafora bagi pertarungan id, ego, dan Super Ego. Mirror staging. Metafora bagi eksteriorisasi dan ekstensi tubuh manusia yang ingin menjangkau cara kerja jagat raya. Ruangan ini menjadi metafora bagaimana kebahagiaan dimaterikan dalam rupa pemenuhan kebutuhan dan seribu aturan.

Film “the Room” sejak awal memberikan pemisahan tegas antara rumah ini dan dunia itu. Ketika langit hanyalah tempurung yang gagal dilubangi oleh katak, sehingga merek yang menghuni tidak tahu, ada dunia ynag lebih luas. Dunia yang berisi orang lain, makhluk lain, dan kepercayaan lain. Sebagai pembandingan, ataupun sebagai musuh, sebagai tempat untuk mempertanyakan insting dan Super Ego, sebagai “cermin” dalam “mirror staging“, dan sebagai pengingat bagaimana materi bernama otak manusia dapat membangkitkan kesadaran sampai ketika manusia masih dalam bentuk 1 sel. Ketika mereka belum tahu keinginan, kebutuban, agama, dan manusia lain.

Setelah menonton “the Room” (2019) lagi, apa yang kamu lihat? [dm]

What do you think?

4227 points
Upvote Downvote