(Photo: Elastic Design Studio)
in

[Review] Serial Daredevil – Iblis Merah di Dapur Neraka

Kehebatan serial ini, bisa membuat saya mengantuk. Banyak pelajaran dari serial ini.

Ini termasuk serial yang membuat saya harus bertarung melawan rasa kantuk di siang hari. Saya suka tidur siang, walaupun sebentar. Sementara itu, ritme circadian saya mungkin berbeda dari kebanyakan orang. Begitu juga pola tidur saya. Sejak 2015 saya menerapkan jadwal “tidur 30 menit setiap 4 jam”.

Saya belajar ini dari seorang biksu. Tidak sepenuhnya saya kuasai, perlu terus-menerus berlatih. Membuat “time blocking” untuk tidur 6-8 jam, seperti kebanyakan orang, itu seperti mendidihkan susu pada suhu 100° C. Saya lebih suka “pasteurisasi”, mendidihkan susu pada 80° C, kemudian didihkan lagi pada suhu 80° C, beberapa kali. Pola tidur 30 menit setiap 4 jam, membuat pikiran lebih sering sadar. Saya bisa mengalami -lucid dream- sesuai keinginan. Bahkan bisa mengulang apa yang saya alami ketika melek, tanpa kehilangan manfaat istirahat fisik. Saya bertahun-tahun belajar tidur, baru berhasil di tahun 2015.

Saya mencari beberapa film, musik, dan serial, yang bisa membuat orang cepat tidur. Saya butuh headset untuk mendengarkan suara ambient di balik dialog film. Mencari, lagu apa ini? Saya tahu tentang -foley-, bagaimana mereka mencapai kesadaran penonton tanpa penonton sadar. Begitu pula secara visual.

Daredevil salah satunya.

Secara visual, film ini keren. Awal muncul Season 1, saya suka dengan opening “Daredevil”. Wajah Dewi Keadilan yang terbentuk dari tetesan darah, zoom-in, jembatan, tetesan merah membentuk kota Hell’s Kitchen, malaikat yang menangis di depan gereja, berakhir menjadi tetesan yang membentuk topeng Daredevil. Opening di season berikutnya, menampilkan teknik double exposure, tubuh Daredevil berisi gedung-gedung cair, seperti kota yang menjadi darahnya. Opening ini, bagi saya menjadi puisi visual yang tidak pernah saya lewatkan.

“Kamu tahu, tidak seperti musuhmu yang lain, Tuan Fisk, saya dapat menghancurkanmu tanpa melanggar satu hukumpun.
Kamu mungkin memiliki pengacara mahal, tetapi, dengan 1 amplop dan perangko berharga 6 dolar, saya bisa memastikan Vanessa tidak akan pernah menginjakkan kaki di tanah Amerika lagi. Dengan 1 surat ke kantor yang tepat, saya bisa membuat visa Vanessa ditartik. Saya dapat membuktikan bahwa ia adalah kaki-tangan untuk setiap kejahatanmu.
Dan sekarang kamu berpikir, kamu bisa menjalani hukumanmu, naik jet, pergi mengunjunginya kapanpun kamu suka. Tinggal di suatu tempat, mungkin ke Monaco, atau ke mana aku tidak tahu, di mana orang kaya gembrot sepertimu berjemur. Tetapi, kamu tidak bisa. Kamu bisa mengunjunginya, tetapi kamu tidak akan pernah bisa tinggal bersamanya.
Karena, ini New York, Wilson. Kamu tinggal di sini. Ini hutanmu. Ini darahmu, seperti darahku.”
[Matt Murdock kepada Fisk (Kingpin), dalam Serial “Daredevil”, S2E10, Episode “Man in the Box”]

Daredevil menceritakan kebutaan yang ditukar dengan kepekaan indera. Nasib “anak biasa” yang menjadi pengacara dan menerapkan “pengadilan jalanan” demi keadilan versi dirinya. Daud melawan Jalut. Matt Murdock melawan Wilson Fisk (Kingpin).

Kepahlawanan yang harus disamarkan (pada awalnya) di Hell’s Kitchen, kota yang menjadi dapur neraka. Ini jenis narasi utama yang nggak terlalu original. Daredevil yang ada di Netflix, bukanlah Daredevil yang menceritakan semua musuhnya di komik. Tidak diceritakan siapa saja musuhnya versi lengkap. Bahkan berbeda jauh dari versi movie.

Serial “Daredevil” produksi Netflix, menyajikan keindahan sinematografi. Saya mencari moment “sebagai” orang buta. Ini saya lakukan sambil terpejam. Fokus saya kepada suara latar. Kalau perlu, saya ulang beberapa adegan misterius, yang ingin saya simak lebih dalam.

Saya ingin menjadi Daredevil yang ada di atas gedung, dengan mata tertutup, dan mendengarkan jeritan para tetangga. Suara ambient yang selalu tertanam di adegan-adegan penting.

Daredevil tidak seperti Superman yang menolong semua orang dengan kecepatan. Daredevil membuat prioritas. Ia melewatkan kasus-kasus kecil, mencari di mana akarnya.

Di mana akar semua masalah ini? Bukan gang “Fixer”. Sayangnya, fase “keberanian awal” Daredevil tidak diceritakan ketika menghabisi gang Fixer.

Apa yang membuat Gereja diam melihat korupsi? Gereja tempat Daredevil tumbuh, terluka, disembuhkan, dan mendapatkan visi baru. Punisher menyebutnya “Bocah Katolik Berbaju Iblis”.

Itulah kekuatan sesungguhnya Daredevil. Keberanian.

Seluruh jalinan kejahatan berujung kepada 1 titik: Kingpin.

Matt Murdock, yang dibesarkan secara religius, kehilangan sosok bapak, tumbuh sebagai anak baik-baik. Ia melihat ketidakadilan di Dapur Neraka, kota tempatnya tinggal. Ia lelah menunggu Tuhan turun tangan, sehingga ia memilih berbaju Iblis dengan tujuan mulia: menghabisi Kingpin dan jaringan jahatnya.

Daredevil memang “dare” (berani) menghadapi rasa takutnya sendiri. Ia berani mengambil pilihan berbaju iblis, yang terbebas dari sistem peradilan yang penuh pasal dan birokrasi.

Quote yang saya ingat, “Sebagai Daredevil, aku harus selamatkan dunia. Sebagai pengacara.. mungkin aku bisa memperbaki dunia. Aku butuh keduanya. Itu yang sedang aku wujudkan. Pejuang sekaligus pengacara. Tidak bisa jalan kalau aku hanya menjadi salah satu.”.

Tidak selesai di situ. Daredevil sering kalah. Daredevil belajar dari lawan, menjalin sekutu dari para korban Kingpin. Secara praktis, ia berpolitik. Tanpa demonstrasi, tanpa mengandalkan kekuatan media.

Daredevil punya janji akan melawan Kingpin dan membebaskan Dapur Neraka dari kerusakan. *) Harap diingat, “corruption” berarti kerusakan. Bukan sekadar penggelapan uang.

Tugas Daredevil berat. Ia harus menjalankan “tugas rutin” sebagai pengacara, menghadapi Punisher yang pemarah, menghadapi orang lain yang memakai kostum seperti Daredevil. Tercatat, 3 kali Matt Murdock ganti kostum Daredevil. Semuanya keren. Dari hanya memakai penutup mata dari kain, sampai memakai baju super. Paduan warna, gerakan pertarungan, suasana malam, semua dirancang dengan sinematografi mantap.

Daredevil kemasan Netflix lebih sering melakukan pertarungan “manual”. Ada darah sungguhan, teriakan, dan keberanian seseorang yang ingin membalas dendam.

Daredevil mengambil keputusan, berpikir, dan bertarung, bukan dalam suatu urutan. Kadang ia mengutamakan mengambil keputusan, kadang ia lebih digerakkan dengan nyali begitu saja. Sangat manusiawi. Sangat sering didesak keadaan di mana ia harus melawan.

“Permainan” berubah ketika Elektra datang. Banalitas Elektra membuat penonton (yang nggak baca komiknya), melihat masa lalu Matt Murdock yang kompleks. Daredevil (dengan jiwa Matt Murdock yang pengacara), kembali mengalami kenakalan di masa muda, ketika Elektra datang dengan cinta.

Elektra yang ingin melanggar semua peraturan, memasuki rumah kosong dan memakainya semalam, Elektra yang di spinner “Defenders” (dengan pemain sama) menjadi pilihan dan bertarung habis-habisan melawan kekasihnya. Ada 1 wallpaper dari zEdge bergambar tatapan mata Elektra yang tidak ada di Google Image, yang membuat saya terpana dengan editing fotonya.

Daredevil adalah seseorang yang sudah tidak tahan dengan keadaan kota yang penuh korupsi. Dapur Neraka adalah kota yang sering kita temui.

Kota yang “sejak dulu” disetir seseorang dan kroninya, mereka yang “tak-tersentuh” (untouchables), yang membuat orang menganggap korupsi itu wajar. Kota di mana warganya mengerti cerita David dan Goliath (alias Daud melawan Jalut) tetapi tidak ada yang berani menjadi Daud. Kota yang penuh orang pintar namun diam. Kota dengan media yang lebih suka membuat berita sepotong-sepotong, tidak menuliskan secara utuh kejadian “sebagaimana adanya”. Kota yang penuh mahar dan kontrak politik, meminta dukungan warga, namun warga tidak tahu kontrak politiknya apa. Kota yang melihat kemajuan dari “fisik” dan siapa yang paling berperan. Kota yang orang-orangnya rajin beribadah, penuh kehormatan, nama-nama besar, tetapi diam melihat kerusakan. Hanya memberikan saran, wejangan, dan percaya pada apa kata para tamu mereka. Kota yang berjalan dengan politik pasewakan dan deal.

Matt Murdock menjadi antitesis dari ketidakberanian itu. “Daredevil” memanggil siapapun yang percaya bahwa cerita dengan inspirasi perubahan dapat membuat sebuah kota menjadi lebih baik.

Kota adalah “musuh” sebenarnya dari para superhero modern.

Kota selalu menjadi “dapur neraka”, birokrasi dan orang-orang korup yang membuat permainan menjadi tidak “fair” (adil). Dewi Keadilan tetap menutup kedua matanya, agar tidak membedakan “siapa” orangnya, tetapi mereka akan dihukum karena “bagaimana” orangnya.

Daredevil menutup kedua mata, dengan motivasi sama. Kota yang sudah terlampau korup, sudah pasti akan menciptakan Daredevil. Yang memiliki keberanian (karena bertopeng) dan mengalami masa lalu menyakitkan.

Seperti kutipan awal di tulisan ini, keberanian tidak hanya kuat karena nyali dan kemampuan bertarung. Orang perlu mengerti bagaimana caranya bertarung.

Kota para koruptor sudah pasti melahirkan para Daredevil yang berani menyingkap apa yang mereka tahu. Melawan.

Dan media sosial adalah tempat orang-orang bertopeng, berbicara lebih jujur dan berani, tempat terjadinya pertarungan terbuka. Mereka yang berani, mampu bertempur, dan tahu peraturan yang akan menang. [dm]

Melihat Pameran

Blind Text Generator untuk Dummy Text