(Photo: Pexels, 255527)

Terlalu Cepat Meminta

Kamu punya 5000 kawan di medsos? Hanya 500 (10%, tidak lebih) yang benar-benar membacamu.

Kamu punya 5000 kawan di medsos? Hanya 500 (10%, tidak lebih) yang benar-benar membacamu.

Di website, proses ini bisa dibalik. Kamu bisa meraih 5000 pembaca, dari hanya 50 pembaca. Manusia sungguhan. Ada analytics yang bisa kamu lihat. Website membutuhkan eksperimen, memakai banyak code, optimasi, dan yang terpenting: kamu mengendalikan sendiri proses “dari 50 menjadi 5000”.

Orang menyukai pintasan. Mereka ingin serba-cepat. Mereka terlalu cepat meminta. Saya sering mendapatkan permintaan, “Bagaimana caranya menambah 10K follower? Bagaimana agar dapat duit dari AdSense dengan cepat?”. Mereka tidak mau mendengarkan ketika saya beri penjelasan. Mereka memilih kesia-siaan, hanya karena tidak mau belajar. Mereka memilih mencari ahlinya, agar tidak perlu belajar.

Setelah menyajikan yang terbaik, perlu ada perbaikan. Dan itu perlu waktu.

Apa yang membuat orang cepat mengeluh? Sama. Mereka terlalu banyak meminta.

“Sudah saya lakukan, tetapi tidak ada tanggapan,” kata kawan saya. Sedangkan yang tidak suka (dan tidak tahu pentingnya kritik) menyatakan, “Tidak ada komentar buruk, berarti, ini berhasil.”. Keduanya memiliki persamaan: tidak mendapatkan tanggapan.

Kontribusi, saran, dan umpan-balik (feedback), lebih sering tidak berhasil.

Mau berhasil? Sajikan apa yang memang 90% kamu lakukan. Passion dan pengalaman kamu, fokus energi kamu. Presentasikan berdasarkan apa yang menjadi bagian hidupmu.

Terlalu dini dalam proses, jika mengharapkan wawasan konseptual, hasilnya akan mengecewakan orang lain dan diri sendiri. Baru membuat 5 video, sudah menyerah ketika tidak ada tanggapan.

Melihat peringkat dan keberhasilan orang lain, hanya membuatmu melihat kulit, tanpa kedalaman. Kamu melihat hasil, tanpa mengerti bagaimana mereka menjalani proses. Kamu melihat 333K subscriber di channel YouTube orang lain, sudah surut ke belakang. Kamu tidak.melihat prosesnya.

Jalankan prosesmu sendiri. Tidak perlu menduplikasi proses orang lain. Adaptasi. Improvisasi.

Orang tertarik memberikan umpan balik kepada hal-hal yang kecil, umum, datar, “merata”, seperti pidato sambutan pejabat.

Mereka memilih penghakiman (bukan lagi menilai) dari sisi jumlah, kecepatan, dan kualitas. Pekerjaan panjangmu berakhir di komentar singkat.

Terlalu cepat meminta orang lain menyadari kehadiranmu, tanpa persiapan-panggung yang bagus, hasilnya sangat mengecewakan.

Itulah sebabnya, jangan kabarkan ke orang ketika panggung sedang kamu persiapkan. Jangan terburu-buru menuliskan status WhatsApp ketika kamu sedang otw dan menyiapkan acara. Jangan menjadi orang lain, dengan proses orang lain. Jangan meminta Google meng-index website kamu, kalau masih mirip dummy content. Jangan meminta orang berkomentar sebelum kamu mengamankan kotak komentar, agar spam ikut masuk. Jangan meminta orang membagikan artikelmu, kalau kamu sendiri tidak berani memastikan bahwa artikel kamu memiliki perspektif yang berbeda.

Jika kamu mengerjakan sesuatu karena itu bagian penting dari pengalaman dan hidupmu, maka orang akan menyadari kehadiranmu.

Jangan terlalu cepat bertanya, “Di mana saya bisa download aplikasinya? Bagaimana caranya?” kalau kamu belum mencoba sendiri. Tempuh proses kamu sendiri, jangan menapak di jalan orang-lain.

Terlalu cepat meminta adalah pintasan yang membuatmu tidak mau menjalani proses. Orang lain tidak akan suka. [dm]