in

8 Pemicu Proses Kreatif dalam Menulis

Memahami proses kreatif semdiri, perlu diawali dengan mengerti jalan pikiran sendiri, bagaimana cara memperlakukan sebuah gagasan menjadi tulisan.

Saya punya daftar untuk diri-sendiri, yang selalu saya jalankan agar ide bisa menjadi tulisan.

1. Fail (Gagal)

Menulis bisa diawali dari pengalaman gagal. Tidak harus menceritakan kegagalanmu, tetapi, jadikan kegagalan sebagai ide menulis.

Kegagalan, tidak perlu disengaja, namun selalu datang. Setidaknya, ubah kegagalan menjadi ide untuk menulis.

“Hidup itu perjalanan yang harus dialami, bukannya masalah yang harus diselesaikan,” kata Winnie the Pooh.

Adakah sesuatu yang menyakitkan dalam hidupmu? Hampir semua orang mengalami, termasuk orang yang menuliskan status semacam “lupakan hal menyakitkan dalam hidupmu, tetap semangat dan jangan lupa bahagia”. Saya tidak mengajak move-on. Saya mengajak mengkonversi rasa sakit menjadi energi kreatif dalam menulis. Bukan motivasi yang terpenting, melainkan bagaimana cara mengkonversi rasa sakit itu.

Misalnya, selama 3 semester Anda tidak berhasil sekalipun, membaca sebuah buku. Ini tercatat dalam rekor kegagalan, lalu Anda ingin memulainya. Sakit rasanya kalau ditanya, “Berapa buku yang berhasil Anda tuntaskan dalam 3 semester terakhir?” Tidak ada. Berhasil atau tidak kemudian, bukan masalah.

Yang terpenting adalah, ini bisa menjadi “lead”, menjadi piramida terbalik di awal tulisan, tentang kegagalan Anda.

“Akhirnya saya berhasil melewatkan 3 semester tanpa membaca buku. Saya berhasil mengubahnya dengan kebiasaan berikut.”

Bayangkan pengalaman gagal sebagai “piramida terbalik” dalam tulisan.

2. Gangguan

Sesuatu yang menjengkelkan. Saat membaca tulisan berjudul: “Menjadi penulis sukses”, walaupun hanya membaca sepintas demi sepintas, ending tulisan semacam ini sering nggak enak. Ternyata tidak seperti yang saya harapkan. Hanya segini kemampuan penulis itu dalam menjelaskan. Saya bisa lebih baik.

Ini bisa berubah menjadi “10 hal yang tidak disukai pembaca buku.”

Kalau kamu terganggu, berikan solusi terbaik.

Pada tahun 1998, saya suka mempelajari virus komputer. Orang menghindari dan mencegah virus, saya justru mencari dan mempelajari source-code virus komputer yang menyerang Windows. Setiap membaca buku atau rubrik pencegahan virus, dalam hati saya berkata, “Solusi dalam artikel ini salah. Saya bisa menjelaskan konsep virus ini dan mengatasi system yang telah terinfeksi dengan cara yang lebih mudah.”

3. Angka 3

Saya suka angka tiga. “Segitiga” berarti kamu tidak berdebat-kusir, ada pihak ketiga, ada pemihakan, ada keputusan. Segitiga itu konstruksi stabil. Angka tiga berarti Allah, alam, dan manusia. Angka tiga bukan dikotomi, bukan oposisi biner. Apa saja saya pecahkan menjadi 3 langkah. Pertanyaan, pembahasan, kesimpulan. Ritual, hiburan, penutup. Problem, penyelesaian, download aplikasi di sini. Produk A, produk B, tabel review. Pikirkan angka tiga.

Uraikan, persingkat, dan jika mengalami kesulitan, pecahkan menjadi 3.

Kalau saya membuat tulisan menjadi daftar (list), itu karena ada #proses bernama “angka 3”.

4. Proses, Nama, dan Keunikan

Setiap tulisan sebenarnya suatu cerita (story). Kalau mengalami kemacetan, misteri, saya selalu bertanya:

  • Bagaimana prosesnya?
  • Ini disebut apa?
  • Apa uniknya?

Proses dan nama selalu menjadi bagian paling mudah dalam menjelaskan segala hal.

Suatu hari saya mengumpulkan 30 film dalam label “mind blowing“. Jenis film yang mengimajinasikan sesuatu yang mengguncang pikiran dan kesadaran saya. Misalnya: Inception, Snowpiercer, In Time, dll.

Setelah menonton, saya sering bertanya: proses, nama, dan keunikan dalam film itu.

Misalnya, waktu saya menonton film “In Time” (2011).

Film “In Time” menceritakan sebuah kota yang menggunakan mata-uang (currency) waktu. Kalau kamu bekerja, maka waktumu bertambah. Kalau kamu melanggar peraturan, waktumu dikurangi. Ada bank waktu, ada polisi waktu, ada perampokan waktu, dan ada penguasa waktu di zona lain.

Kalau ini realitas baru, setidaknya saya mengerti, ini genre film dystopia, yang menjelaskan kondisi dunia yang “berbeda” atau “sudah berbeda” dengan dunia kita sekarang. Saya menamai (atau mencari nama) dari proses yang berlangsung.

Tentu saja saya tidak hanya mendapatkan satu proses. Sylvia Weis mengalami “stockholm syndrome“, merampok waktu untuk “menurunkan nilai” waktu (sebagai mata uang sah satu-satunya), melancarkan serangan “anarki”, dan melawan “penjajahan berbasis zona waktu”. Apa yang saya tuliskan dalam apostrof (tanda “”) tersebut adalah peristilahan.

Mengapa peristilahan ini bermakna bagi saya selama menulis?

Peristilahan itu menjelaskan sesuatu dengan cara yang lebih singkat. Kalau tidak ada peristilahan (yang disepakati), maka satu berita, artikel, atau opini, bisa menjadi debat panjang.

Kawan-kawan yang sedang menuliskan cerita fiksi, sering menceritakan kesulitan selama menulis. Dalam pikiran saya sudah ada istilah dan cara menyelesaikan masalah itu.

Apa yang terjadi pada mereka itu disebut “writer’s block”. Keterhalangan dalam menulis.

“Writer’s block” adalah kondisi, biasanya berhubungan dengan kepenulisan, di mana seorang penulis kehilangan kemampuan menghasilkan karya bar, atau mengalami kelambanan kreatif.

Problem ini sudah terdokumentasikan dengan lengkap dan pasti bisa diatasi.

Masalahnya, yang mengerikan, kalau seorang penulis tidak tahu apa nama suatu proses, sebuah deskripsi, yang dia temukan dan sedang diproses dalam pikiran itu, ketika dia #sedang menulis. Proses menulis akan menjadi sangat lama.

Ajakan saya: mari mempersingkat deskripsi dengan peristilahan, agar bisa menemukan “di mana uniknya” sebuah karya.

Kalau saya sudah bisa menamai proses di dalam film “In Time”, tugas saya adalah menemukan keunikan film ini. Setidaknya saya menemukan satu hal: bagaimana film ini menunjukkan terjadinya penjajahan ekonomi berbasis zona waktu. Agak panjang kalau diuraikan.

Bayangkan sebuah negara bernama Inggris, yang dulu dijajah Perancis, lalu berdirilah Inggris dengan kebudayaan buatan. Negara yang tidak mau mengajarkan “sejarah Amerika” di sekolah menengah mereka. Negara yang banyak menjajah negara lain sehingga (menjadi salah satu faktor mengapa) bahasa Inggris menjadi bahasa internasional. Negara yang mencanangkan sistem zona waktu yang akhirnya dipakai untuk sistem perbankan, penerbangan, dan telekomunikasi di seluruh dunia. Tentang detail seperti apa dampak zona waktu terhadap poskolonialisme, bisa Anda teliti sendiri.

5. Mencatat untuk Diri Sendiri, Menuliskan untuk Orang Lain

Buat catatan. Saya suka mencatat dengan Sublime, sign-in di Google Chrome dan membuat bookmark, menyimpan dengan Google Save. Tuliskan aforisme. Bisa di buku harian, bisa di Google Keep, atau di WhatsApp dan Facebook (kirim pesan kepada diri-sendiri). Pastikan Anda bisa mengaksesnya dengan cepat. Saya suka pena dan buku catatan karena bisa cepat menuliskan, tanpa perlu buka sandi pattern di smartphone. Hanya saja, untuk urusan tulisan yang terorganisasi, saya tetap menyimpan dalam bentuk file.

6. Foto Bisa Bercerita

Saya suka foto. Para pemakai Instagram dan Facebook tentu juga suka foto. Untuk menguji seorang penulis, saya menyodorkan foto dan bertanya, “Bagaimana menurutmu foto ini?”. Dari jawabannya, saya akan menebak: bagaimana cara dia menilai sesuatu, bisakah dia bercerita tentang foto itu, seperti apa pengalamannya, dst.

7. Pertanyaan

Setelah mengamati sekeliling, buatlah pertanyaan. Menulis kadang hanya menjawab sebuah pertanyaan. Atau membuat pertanyaan baru.

8. Perjalanan

Jangan diam di tempat. Inspirasi bukan di gunung, bukan di dalam kamar. Inspirasi hanyalah pemicu yang bisa membuatu menghubungkan kepingan-kepingan informasi dalam pikiran. Lakukan perjalanan, walaupun dekat, walaupun singkat. Buka indera dan pikiran, agar terhubung antara dirimu dengan hal-hal di luar dirimu.

Tulisan saya biasanya juga datang dari sana.

Sebenarnya masih banyak lagi. Silakan buat daftar Anda sendiri.

Ada banyak hal kurang menyenangkan di sekitar kita yang bisa menjadi jembatan gagasan dan proses kreatif dalam menulis. [md]

What do you think?