in

Ahistorisitas Teks Sejarah dan Agama Berwajah Mitologi

Kesamaan pola dan penyikapan terhadap status teks (sastra atau sejarah), membuat orang ingin me-nyata-kan fiksi dalam dunia nyata, dari komik sampai kitab orang beragama.

Agama mengalami penceritaan yang lekat dengan bahasa mitologi. Apakah “tuhan” menyejarah? Mewaktu? Terlepas dari pro-kontra jawaban atas pertanyaan itu, saya punya cerita lain.

Manusia Nyata dan Karakter Fiktif

Banyak karakter cerita fiksi, berasal (atau dibentuk) dari tokoh di dunia nyata. Saya sebut 10 di antara tokoh fiktif, yang populer di komik, buku, dan film, namun sebenarnya berasal dari manusia sungguhan.

Tintin, karya Herge dari Belgia, sebenarnya dari seorang penggalang asal Denmark, Palle Huld, setahun sebelum komik Tintin diluncurkan sejak tahun 1929 sampai lebih dari 200 judul.

Ebenezer Scrooge, dari karya klasik Charles Dickens, berasal dari politikus abad ke-18, dan Scrooge menjadi cerita tutur di Eropa, menenggelamkan muasalnya.

Severus Snape, dalam novel Harry Potter, semula diambil dari guru pelajaran kimia JK Rowling (pengarang Harry Potter), bernama John Nettleship. Dirty Harry, tokoh film misteri pembunuhan berpola zodiak, dibentuk dari orang bernama Dave Toschi.

Dorian Gray, di tulisan Oscar Wilde tentang lukisan misterius, sebenarnya terinspirasi dari John Gray, teman Oscar Wilde yang sama-sama sastrawan.

Norman Bates dalam film klasik Psycho karya Alfred Hitchcock adalah Ed Gein, pembunuh brutal tahun 1950-an di Wisconsin.

Indiana Jones, petualang bengal yang selalu beruntung di film berjudul sama, sebenarnya Hiram Bingham III, seorang dosen sejarah Latin America di Yale University, yang bekerja pada 1907-1915.

James Bond, mata-mata rekaan Ian Fleming, sebenarnya Forest Yeo-Thomas, mata-mata ulung di Perang Dunia II.

Zorro, pahlawan bertopeng yang direka sejak 1919, menjadi idola di televisi dan film, terinspirasi dari lelaki bernama Joaquin Murrieta, dia adalah “Robin Hood” Mexico kelahiran 1829 yang matinya di pertambangan.

Sherlock Holmes, karakter paling pintar dalam sejarah fiksi detektif, sebenarnya Dr. Joseph Bell, dosen University of Edinburgh di Skotlandia abad ke-19, teman Sir Arthur Conan Doyle, sang penulis Sherlock Holmes. Tidak hanya 10 karakter tersebut, mungkin ada 100 atau 1000 karakter fiktif yang berbasis dari dunia nyata.

Me-nyata-kan yang Fiktif

Banyak juga tokoh fiksi yang dianggap nyata. Santa Clause (yang membawakan hadiah natal untuk anak-anak), boneka Barbie, Robin Hood, juga Big Brothers yang konon menguasai semua lobi Amerika dan perputaran dunia. Jawa juga mengenal fiksi hidup, bernama Nyai Roro Kidul dan Semar. Ada yang mendukung keberadaan dua tokoh ini, ada pula yang tidak.

Orang sering menganggap perulangan dan kesamaan sebagai pembentuk kenyataan. Begitu ada kesamaan nama dan pola, suatu fenomena dianggap nyata, atau diarahkan menjadi nyata.

Kesamaan Pola dan Status Teks

Saya ambil contoh tentang fenomena Atlantis. Ribuan tahun lalu, Plato, filosof Yunani yang mengawali gagasan negara ideal (setelah merenungkan sejarah Yunani yang ditempa pertarungan 300 dinasti) dalam Republik, menggulirkan “atlantis yang hilang” dengan penyajian data tak-memadai. Plato, hanya punya 20 halaman tentang Atlantis. Orang sibuk menghubungkannya dengan alternatif di dunia sekarang. Bukan lagi bagaimana Plato membentuk gagasannya, tetapi, orang sibuk mencari Atlantis. Game, buku, komik, dan film, sudah pasti mendapat banyak keuntungan dari rasa penasaran semua orang.

Namun status teks sejarah yang dituliskan, itu sering bermasalah. Buku, karya sastra, kitab orang beragama, semestinya dikembalikan kepada statusnya: apakah semula itu didominasi fiksi ataukah sejarah? Apakah fakta numerik dan detail di dalamnya memang nyata ataukah tidak?

Karya sastra memiliki kebebasan bercerita kalau dia berstatus karya sastra, berbeda dengan kitab orang beragama yang sering kabur batas status teksnya. Mengherankan, jika status teks sastra diperlakukan sebagai teks sejarah, atau sebaliknya.

Dulu saya percaya, perang Troya di zaman Yunani itu ada, karena buku, televisi, dan namun setelah melacak literatur dan mengikuti perjalanan British Museum, ternyata perang Troya tidak pernah terbukti ada secara historis. Dulu saya percaya tentang ide dunia yang hilang, namun ternyata dunia yang hilang tidak hanya Atlantis, masih banyak contoh: Shambala, Dwaraka, Lyonesse, Cantre’r Gwaelod, El Dorado, Agharti, Hy-Brasil, Avalon, Lemuria (Mu), Cibola, dll.

Ramainya rumor Atlantis yang hilang (sebagai contoh kaburnya status teks, apakah sastra ataukah sejarah), dibesarkan dunia web yang bebas-translate (dan penuh kesalahan), bebas membikin propaganda (dengan gambar), dan lebih banyak menghasilkan kesamaan pola-cerita. Kuantitas mengutip (untuk melepaskan sebagian teks dari tubuh besarnya), percepatan (secepat apa orang share informasi), dan kemudahan repost (posting ulang), membuat sebuah cerita sama diulang-ulang. Begitulah pola terbentuk. Basisnya sama: adanya kesukaan terhadap kesamaan pola, tidak peduli pada status teks itu sendiri.

Konsekuensi atas Status Teks

Ketidakjelasan menyikapi teks, akan berakibat pada kekaburan sikap. Teks kitab orang beragama, misalnya, bisa dihadapkan secara diametral dengan sumber pengetahuan (epistemology) jika dia mendudukkan diri sebagai teks sains ataupun sejarah.

Ketika sebuah kitab orang beragama menjelaskan Supreme Being (semacam “Tuhan”) yang immateri, namun kemudian kitab itu diposisikan sebagai kitab sejarah, berarti Tuhan menyejarah. Kalau menyejarah, agama menjadi mitologi. Kalau menjadi mitologi, orang hanya mengambil “pelajaran” dari agama, lalu menjawab “misteri” yang ditawarkan agama dengan ilmu pengetahuan, namun seringkali dimenangkan ilmu pengetahuan.

Lihatlah bagaimana sejarahwan membuktikan adanya kesamaan pola-cerita dalam teks agama, tentang “banjir besar” (selalu diulang setiap beberapa abad dan dari pelbagai kebudayaan), kisah apocalyptic, masa dystopia, ide “surga yang hilang”, kepercayaan adanya penyelamat dunia, sebuah bangsa yang lenyap, dll. Pemahaman terhadap teks ini pula, menyebabkan cara manusia bertindak. Munculnya ide xenophobia (kebencian terhadap “yang lain”) selalu berasal dari Tuhan yang menyejarah dan tidak sanggup mengatasi gerak zaman dengan ilmu pengetahuan. Moral, sains, dan spiritualitas, menjadi “cabang” yang mulai melepaskan-diri dari agama.

Orang Jawa sangat gemar melakukan pengandaian sejarah, teks Jawa sangat kejam dalam membalik kenyataan, melalui teks sastra. Lihatlah bagaimana orang sibuk “membuktikan” sebuah ramalan dari kitab kuno (lumpur Lapindo dikaitkan dengan ramalan Sabdopalon), mencari pembenaran sejarah dengan asal-kata (seperti cerita bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan Sulaiman), itu semua terjadi karena manusia “mengandaikan” sejarah, “mengilmiahkan” sejarah, dan mencari alasan atas terjadinya hal-hal buruk (keadaan sosial politik) yang tidak sanggup dijelaskan agama dan ilmu pengetahuan.

Sastra, sebagai pengetahuan, memiliki watak-kuasa bawaan (meminjam gagasan Michel Foucault), yang menguasai dan mendominasi, dengan permainan status dan identitas teksnya. Mataram-Jawa membutuhkan 200 tahun lebih untuk mengubah 6 desa perdikan menjadi sebuah kerajaan yang dibesarkan di atas teks sastra.

Pada saat manusia tidak sanggup menyejarah, “surga” dan “negara ideal” hanya menjadi fiksi. Kadang fiksi ini digulirkan agama, atau ilmu pengetahuan. Tidak mengherankan, mereka me-nyata-kan fiksi yang muncul di mitologi dan teks kuno yang tak-memadai, untuk mengubah keadaan, yang tak sanggup digenggamnya sendirian.

Agama diam-diam bisa berubah menjadi mitologi atau tidak diminati manusia modern karena pembacaan yang memaksakan teksnya sebagai teks sejarah. Diam-diam pula, semakin banyak manusia nyata, dimitoskan, menjadi fiksi di keseharian, memasuki imajinasi anak-anak, melalui televisi, komik, film, dan buku, mengikuti jejak Tintin dan Zorro.

Teks sejarah menjadi lekat dengan ahistorisitas, tak menyejarah pula, jika pembaca tak dewasa menyikapinya.

Agama yang mengaku ajarannya suci, sering menjelaskan cerita tentang Tuhan mereka yang menyejarah, pada tahun sekian berkata kepada utusannya, sementara pada sisi lain, mereka bilang Tuhan mereka tidak mewaktu, tidak serupa dengan apapun. Tidak jarang, orang mengalami Tuhan mereka seperti cerita-cerita mitologi. Bisakah kamu menjelaskan? Spoiler: Dalam agama Islam, penjelasan terbaik tentang ini, saya baca di buku-buku Ibn al-‘Arabi.

Anak kecil membutuhkan penjelasan. Orang bijaksana, selalu mau belajar kepada orang bodoh. Dunia selalu “hidup” dengan fiksi.

Sudahkah kamu menikmati fiksi hari ini? [dm]

What do you think?