in

Budaya Makan, Kolonialisme Baru, dan Janji Politik

Peta dunia berubah karena makanan. Makanan menjadi motif penjajahan. Sampai sekarang.

Budaya makan menjadi faktor penyebab berubahnya peta dunia, menjadi penjajahan antarbangsa. Ritual baru masyarakat modern berubah karena budaya makan.

Jika tidak dikontrol, budaya makan bisa membahayakan tubuh, bahkan daya dukung lingkungan hidup di bumi.

Suatu kali, saya mencari jus buah kawis, banyak dijual di pinggir jalan kota Rembang namun sulit didapatkan di kota lain. Kawis termasuk tanaman yang tidak mudah dibawa ke kota lain. Saya minum jus itu bersama seorang kawan, pelan-pelan cerita merembet pada buku bacaan di sekolah, musim ujian, dan “menjolok jambu” di rumah nenek. Bacaan tahun 1980-an di sekolah dasar, menjelaskan “nyiur melambai”, kopra, kina, tembakau, gula, kopi, padi, jamu, dan ikan melimpah.

Makanan, Motif Penjajahan

Bacaan yang menjelaskan bagaimana sebuah mitos tentang Dewi Sri, dewi kesuburan, masih menjadi satu dengan materi ajar para guru di sekolah. Kami, sampai sekarang, masih “doyan nasi”, merokok, menikmati kawis, dan mencari ikan di sungai.

Saya membayangkan, setelah membaca buku-buku sejarah, bagaimana Belanda membawa rempah-rempah ke Eropa, memaksa petani menanam petani, menghadapi wabah, dan menyebarkan ganja. Budaya makan orang Belanda dan cara mereka menikmati hidup, adalah pendorong terjadinya perdagangan, tanam paksa, dan kolonialisme di Nusantara. Kalau orang Belanda tidak suka rempah-rempah dan kopi, mungkin lain cerita. Begitu pula yang terjadi pada Inggris terhadap India dan Amerika terhadap Timur Tengah. Secara langsung ataupun tidak langsung, kolonialisme yang terjadi karena makanan, terus terjadi, merubah peta politik dan ekonomi dunia.

Krisis Pangan, Peraturan Barat

Bukan rahasia pula, sekarang dunia sangat kekurangan pasokan bahan mentah makanan. Sistem makanan dunia dalam sepuluh tahun terakhir, menurut World Bank (Bank Dunia) dan Organisasi Pangan Dunia (FAO, Food and Agriculture Organization, milik Perserikatan Bangsa-bangsa), berada di ambang mengkhawatirkan. Bahkan lingkungan hidup semakin terancam akibat budaya makan manusia yang tidak terkontrol. Manusia tidak takut lagi pada kemarahan Dewa Bumi yang kesakitan karena manusia merusak lingkungan hidup.

Sekarang kekuatan “cerita” dari buku bacaan di sekolah dasar zaman saya, sudah dikalahkan standarisasi produk dan lisensi kesehatan tentang cara menanam dan tanaman apa yang boleh diperdagangkan. Jika tidak, kamu dianggap menanam sesuatu yang membahayakan “kesehatan” orang lain. Menjadi sehat lebih banyak terkait apa yang kita makan, begitulah yang diajarkan televisi dan artikel kesehatan. Lisensi, dunia iklan, dan perusahaan-perusahaan besar menyebarkan bagaimana seharusnya budaya makan dibentuk, sesuai cara “mereka”.

Makanan dan Mitos Makanan

Banyak mitos tentang makanan baik dan makanan buruk untuk tubuh manusia. Mitos ini disebarkan dalam pertarungan bisnis, melalui artikel-artikel ilmiah, “sesuai pesanan”. Dulu orang Indonesia tidak begitu menyukai es krim, namun setelah melihat kandungan gizinya, orang ramai membeli es krim dan merayakan kemenangan kecil dengan es krim. Es krim merupakan makanan dengan glycemix index rendah, gula yang dilepaskan lebih sedikit, itu sebabnya rasa es krim di lidah lebih tahan lama, sama halnya dengan bertahannya rasa kopi dan teh kental. Satu es krim rata-rata berisi 114 kalori, seimbang dengan sepertiga kebutuhan rata-rata manusia, belum lagi vitamin dan kandungan bahan lain: coklat, strawberry, dll. Menarik, begitu kata artikel.

Fakta kesehatan, yang disebarkan artikel ilmiah tentang makanan, akhirnya merubah persepsi dan daya terima masyarakat. Orang menjadi “berjarak” terhadap makanan-makanan tertentu, bahkan dianggap sebagai “musuh” bagi tubuh. 10 jenis makanan populer yang dianggap musuh, adalah: minyak sayur, pasta, roti tawar, soup mix, saus, minuman diet berkarbonasi, keju terproses, saus kecap, dan jus jeruk. Saus kecap, misalnya, memiliki antioksidan tinggi tetapi tidak diimbangi isoflavone.

Sedangkan contoh konsumsi yang dianggap buruk namun sebenarnya “baik”, antara lain: kafein (dipakai di dunia medis untuk relaksan otot bagi penderita bronchitis). Anggur merah.  sejak 6000 SM dikonsumsi orang Iran dan Israel, mengandung polyfenol, mengurangi resiko kanker. Cokelat, dari Africa, dikonsumsi sejak 1400 SM mengandung panacea, mengandung antitoxine banyak, dan bisa merubah mood menjadi lebih baik.  Bir, disebut sebagai “roti cair”, bagus bagi tubuh, karena mengandung magnesium, selenium, potassium, phosphorus, biotine, dan vitamin B. Bir bisa menurunkan resiko sakit kepala, stroke, dan penurunan mental. Tembakau bisa mengurangi resiko alzheimer, dikembangkan sebagai terapi untuk mengobati autisme dan schizophrenia. Indonesia memiliki Dr. Greta Zahar yang melakukan penelitian puluhan tahun tentang terapi kesehatan menggunakan tembakau.

Mungkin kamu memprotesnya atau mendukung fakta kesehatan tertentu.

Tubuh sebagai Medan Kontroversi

Kontroversi seperti ini, mencitrakan tubuh sebagai sistem organ yang tak lagi terpisah dari “orang lain” (setiap tubuh adalah tubuh yang berjual-beli), tubuh bentukan sosial (tempat berlangsungnya pertarungan resep makanan dari pelbagai kebudayaan), tubuh medis yang rentan terhadap segala macam penyakit. Budaya makan telah mendefinisikan-ulang pengertian “tubuh” yang tak lagi biologis, bukan lagi entitas hidup yang membutuhkan makan, melainkan tubuh yang beradaptasi dan berjuang mengusahakan makanan, sekaligus memilih makanan yang paling sehat.

Fakta yang terjadi adalah: ritual kehidupan manusia modern banyak yang berubah setelah terjadinya penyebaran makanan dari kota ke kota, dari negara ke negara, bahkan antarbenua. Harap diingat, bahwa makanan itu disebarkan (dengan budidaya tanaman dan pembiakan hewan), diperebutkan (nama dan resepnya), dirampas (dengan penjajahan, kolonialisme), dan diperdagangkan dengan sistem ekonomi baru.

Makanan, Janji Politik

Suatu kali, saya pernah menemukan poster di kampanye pilkada di sebuah kota, bergambar seorang tokoh dan sebuah seruan: “merdeka atau lapar!”. Merdeka menjadi “option” (pilihan) yang berlawanan dengan “lapar”, sebab lapar membuat orang mudah tergoda melakukan “korupsi”, kata yang diturunkan dari “corrupt“, berarti “berbuat kerusakan”. Lapar membuat orang mudah terjajah, membuka kolonialisme mental, manusia diperbudak keinginan.

Tidak perlu berharap banyak pada janji. Jika kamu bisa survive menghadapi krisis makanan, kebergantungan pada janji politik sudah tidak penting lagi. Makanan, bisa merubah segalanya. Merubah tubuh ataupun negara.

Apa yang kamu konsumsi hari ini? [dm]

What do you think?