in

Budaya Pameran Kemiskinan

Kemiskinan selalu menarik dipamerkan, untuk alasan seni ataupun meningkatkan utang luar negeri. “Kemiskinan” dipamerkan, namun, proses “pemiskinan” jarang diungkapkan.

Xin Hua News Agency mengadakan acara pameran foto tahunan bertajuk “Zoom-in on Poverty”, menyorot lebih-dekat kemiskinan. Selain bekerja sama dengan UNDP (Program Pembangunan PBB) tahun 2011, sampai kemudian Kantor Berita Antara Indonesia tahun 2012 ikut mengadakannya. Label di balik acara tersebut adalah “perang melawan kemiskinan”. Ada banyak event seperti ini. Kalaupun tidak menggunakan label resmi “kemiskinan”, setidaknya banyak produk terkait pemandangan kemiskinan di Indonesia, dipamerkan kepada publik. Termasuk kepada luar negeri, tentu saja.

Media sering memandang kemiskinan sebagai ekses negatif globalisasi di bidang ekonomi. Kemiskinan sering ditampilkan dalam visual rumah kumuh, tubuh kurus kurang-makan, atau pewartaan foto yang lebih “berbicara” daripada sekadar pelaporan data statistik seputar kemiskinan ataupun investigative reporting.

Kemiskinan digambarkan sebagai “produk”, ampas buruk dari developmentalisme.

Pameran kemiskinan ini semacam “kesalahan logika” (logical fallacy) dalam memandang realitas, mengingat bahwa “perang melawan kemiskinan” menjadi seruan baru di zaman baru, yang sering dikumandangkan NGO (Non-Governmental Organization, berbeda dari LSM) dan pengkritik globalisasi.

Melawan “pemiskinan” (proses memiskinakan orang lain) lebih mendasar daripada melawan “kemiskinan”. Melawan pemiskinan berarti melacak terbentuknya kemiskinan. Mencari peran kebijakan negara dan korporasi lintas-negara (MNC, Multinational Corporation) dalam memiskinkan orang banyak merupakan salah satu contohnya.

Ada beda mendasar antara melawan pemiskinan dan melawan kemiskinan.

Melawan pemiskinan itu mencari akar, memasuki proses pembentukan kemiskinan agar dapat mencegah efek domino yang lebih buruk. Contoh melawan pemiskinan adalah menolak utang luar negeri. Melawan kemiskinan bersifat temporer, hanya mengatasi permukaan. Memperlihatkan bagaimana kongsi dagang luar negeri melalui WHO mengeluarkan lisensi kesehatan yang membuat hasil pertanian di Indonesia digantikan produk luar negeri, adalah contoh melawan pemiskinan. Lihatlah, bagaimana Indonesia mulai mengimpor gula, beras, melarang tembakau, mengganti minyak kelapa sawit dengan minyak impor, dll.

Contoh melawan kemiskinan adalah: memberikan bantuan lima juta kepada seorang ibu miskin untuk biaya hidup sehari-hari. Berguna, tetapi tidak berjangka panjang, dan tidak mencegah jejaring lain yang menyebabkan tetangga dan anaknya miskin.

Televisi sangat rajin menyebarkan kuis kejutan, membagi uang cuma-cuma, sebagai bentuk kepedulian terhadap kaum miskin. Ada “tangan tersembunyi” (invisible hand) di balik semua yang gratisan, ada produk raksasa yang mengeluarkan recehan dari sekian persen keuntungannya dalam meraih simpati “melawan kemiskinan”. Partai politik juga demikian. Slogannya, selalu bagus.

Selain televisi, masih banyak media dan event yang menggunakan kemiskinan sebagai “inspirasi”. Mari melihat karya seni Indonesia kontemporer, seberapa sering mereka memamerkan kemiskinan? Berapa sering media mencantumkan angka statistik seputar kemiskinan, lantas data ini digunakan LSM dan NGO untuk mendapatkan bantuan dari luar negeri? Berapa pihak swasta asing yang rutin membiayai perbaikan ekonomi di Indonesia? Kemiskinan selalu dipamerkan, dengan banyak maksud di baliknya: ada pameran, proposal, kepedulian, pengentasan, dll.

Ada yang baik, buruk, ada pula tidak diketahui maksudnya.

Bank Indonesia mencatat nilai utang luar negeri perbankan mencapai 3,6 miliar dolar AS, sedangkan utang luar negeri swasta yang didapat dari Eropa mencapai 7 miliar dolar AS. Rasio utang luar negeri swasta dibanding produk domestik bruto (PDB) sampai Oktober 2012 mencapai 27,3 persen. Kalau sudah sampai 30%, Indonesia bisa kembali me-replay krisis ekonomi 1998. Laporan Bank Indonesia tahun 2012 mencatat, utang luar negeri mengalami peningkatan: tahun 2006 sebesar 132,63 miliar dollar AS dan 2011 menjadi 221,60 miliar dollar AS. Itu baru utang luar negeri. Angka tersebut sudah tidak lagi menggetarkan karena rakyat Indonesia sudah “kebal” (immune) terhadap penampakan kemiskinan yang dipamerkan.

Seorang teman pernah berseloroh, “Tampaknya di Indonesia hanya ada 2 cara untuk bebas dari kemiskinan: pertama, dapat hadiah kuis dan kedua, korupsi.”

Keduanya biasa dipraktekkan di Indonesia. Dan dipamerkan.

Pameran kemiskinan apa yang sedang kamu lihat hari ini? [dm]

What do you think?