in

Catatan atas Film “Baby Driver” (2017)

Film generasi MTV yang mengulang resep keberhasilan adegan pertama. Musikalitas sekitar kita, -melalui- telinga Baby.

Saya termasuk generasi MTV. Pada tahun 1994, setiap malam saya membaca buku sampai pagi, ditemani MTV. Saya suka mengamati detail adegan, biarpun secepat videoklip MTV. Menonton film itu jangan kehilangan detail. Saya menonton “Baby Driver” (2017) 3 kali, dan nggak menghitung berapa kali saya mendengarkan Sky Ferreira melantunkan “Easy”, salah satu OST film ini.

Film aksi musikal garapan Edgar Wright ini pada 6 menit pertama (perampokan bank), sama persis dengan videoklip Mint Royale “Blue Song” yang dia garap tahun 2003. Kalau di Adobe After Effect, video ini digarap #pakai teknik “jump cut” atau “J/L cut”.

Ini yang bikin film menjadi sepenuhnya bergaya videoklip. Batasan flashback, before-after, menjadi sepenuhnya kabur.

Adegan “menceritakan, merencanakan”, sambil “adegannya sedang terjadi”, sudah biasa dalam gaya editing film.Film Amerika belajar dari Hongkong (setahu saya, John Woo sudah bikin ginian sebelum tahun 1990).

Adegan dengan nuansa sama, terjadi pada “Hudson Hawk” (1991) pada adegan perampokan benda-antik, yang dibintangi Bruce Willies, tentang pencurian buku Leonardo Da Vinci. Persis kayak film “Baby Driver” (2007).

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=D8KvM3vZo0w&w=690&h=388]
Video adegan pencurian di “Hudson Hawk” (1991).

Film “Baby Driver” memang garapan berat bagi seniman #foley, yang kebagian mengisi suara dalam film, untuk sinkronisasi dan intensitas suara (jauh-dekat, berat-ringan). Berbeda dari filmDengan satu catatan: Barat menganggap musik (selain sebagai seni) juga sebagai ilmu pengetahuan (science). Tangga nada itu “matematis”, semua musik itu punya “pola”, frekuensi di udara bisa diatur dan dikendalikan, dst.

Coba lihat baik-baik adegan “simphony city” di film “August Rush” (2017). Bahkan banyak seniman-musik (bukan hanya musikus) yang bikin konser dengan gaya “kota simfoni” seperti ini, sebelum August Rush.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=9hrDNGmAigU&w=690&h=388]
Film “August Rush” menghadirkan bunyi dan suara kota, melalui telinga bocah jenius-musik bernama August Rush, yang berjuang mengatasi “kelaparan” pada musik, sampai bertemu kedua orangtuanya.

Jadi, dalam film, termasuk “Baby Driver” (2017), menurutku, kerennya terjadi bukan sekadar menerjemahkan “musik” ke dalam adegan, tetapi sudah sampai di tingkatan “bunyi”. Dan frequency. Ada suara denging yang disengaja, ada suara gesekan sepatu, jemari diketuk-ketukkan ke meja, dll. Coba pakai headset bagus dan besarkan volume saat menonton film ini. Pakai kualitas HD.

Film ini seperti bercerita tentang bagaimana Baby mendengarkan sekelilingnya. Penonton diajak menjadi Baby, secara audio. Bukan hanya mendengar “pernyataan mental” betapa sedihnya Baby dan betapa kacau mentalnya, tetapi, seperti beginilah Baby mendengarkan bunyi #untuk “survive” dan dianggap normal. Dengan cara harus merampok.

“Mental is slow. Was he slow?”. Orang berpenyakit-mental itu lambat. Apa dia lambat?

Itu sebabnya dalam adegan perencanaan perampokan, ada dialog yang mengekspos seperti apa keadaan Baby. Ternyata banyak orang (termasuk penyanyi Barbara Streissand) yang mengidap “mental” (penyakit mental) seperti dia.

Hazrat Inayat Khan, dalam sebuah seminar, ditanya seorang peserta, saat dia mempresentasikan konser musik-sufi, “Mengapa Anda tidak bermusik lagi?”. Dia bilang, “Saya sudah mencapai tahap sebagai #pendengar. Semua bunyi yang saya dengarkan, sudah menjadi musik.”. Ini sebuah “jalan” bagi Inayat Khan untuk “bersama” Keindahan Tuhan.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=2DScjas2Nv8&w=690&h=388]
Performa Sky Ferreira dalam “Easy”, OST. “Baby Driver” (2017)

Kalau kita menikmati film ini hanya dari sisi musikalitas, kesesuaian soundtrack dengan adegan, atau aksi laga jalanan, maka film ini hanya sebatas “enak”. Film ini justru “mengilmiahkan” setiap adegan melalui musik.

Tetapi, kalau kita melihat bagaimana perhatian film ini terhadap bunyi, keadaan bisa berbalik. Ibarat videoklip itu puisi, kalau film ini menjadi prosa yang menjelaskan adegan dengan musik, menurutku film ini justru gagal, gara-gara kita menontonnya sebagai prosa. Tetapi kalau bisa mengantar orang kepada unsur musikalitas bunyi, itu baru keren.

Berbeda dari film yang dikerjakan setelah naskah jadi, maka “Baby Driver” 2017 punya metode berbeda. Casting dulu, lalu sutradara melihat playlist yang ada di iPod aktornya, barulah dibuat cerita.

Selamat menonton kembali. [md]

What do you think?