in

Cerita “Rama Bargawa”: Mesin-Hasrat Politik dan Kematian Generasi

Membaca gagasan pembasmian-kelas dan antioedipus di balik cerita “Rama Bargawa” dalam pewayangan.

Suatu kali, Rama Bargawa mengalami dilema saat bapaknya, sang Raja Maespati, meminta dia menangani sebuah kasus rumit, terkait isu perselingkuhan ibunya. Sang Bapak meminta Rama Bargawa mengeksekusi ibunya, jika benar terbukti ibunya selingkuh. Ternyata memang Renuka, ibu Rama Bargawa itu, ketahuan sedang selingkuh. Versi lain mengatakan, perselingkuhan ini tidak terjadi, hanya hasil rekayasa Dewa Indera.

“Jika memang kau akan memenuhi permintaanku, maka aku pegangi perkataanmu. Inilah permintaanku: kembalikan ibuku yang sudah mati. Setelah dia hidup lagi, ampuni segala kesalahannya. Dan benahi rumah tanggamu dengan ibu, tidak ada pertikaian lagi dalam keluarga ini.” [Rama Bargawa]

Memalsukan Kematian, Mendamba Kematian

Renuka tetaplah seorang ibu baginya. Rama Bargawa melunak, melakukan kesepakatan: ibunya tidak dibunuh, dia akan dibuatkan sebuah rumah kecil di tengah hutan, untuk memperbaiki kesalahan. Rama Bargawa berjanji akan memalsukan kematian ibunya. Ternyata sang ibu memilih jalan lain: bunuh diri.

Kematian Renuka, mengubah pandangan dan jalan-hidup Rama Bargawa. Dia marah, kembali ke pertapaan, meminta bapaknya menghidupkan sang Ibu kembali, mengampuni kesalahannya, dan memperbaiki hubungan mereka. Tidak mungkin semua itu bisa terwujud. Rama Bargawa menjadi tidak percaya pada kedigdayaan seorang begawan (dirinya), tidak percaya pada masyarakat, namun tidak ada solusi yang bisa diberikan. Dia mendatangi pusat kota, membunuh semua ksatria yang dia temui. Ksatria yang korup, ksatria yang mendukung pemerintahan yang menciptakan masyarakat yang sakit.

Semua itu harus diakhiri.

Pembasmian Kasta Ksatria

Rama Bargawa mulai melakukan pembasmian kasta ksatria. Sekarang misinya untuk dirinya sendiri: mencari kematian. Dia menantang siapapun untuk mengalahkan dirinya. Tidak ada yang menang melawan Rama Bargawa. Berita kekacauan ini menurunkan Naraddha, yang menjelma menjadi raksasa, lantas melerai perbuatannya. Naraddha mengabarkan takdir, bahwa yang bisa membunuh Rama Bargawa hanyalah seorang raja keturunan Dewa Wishnu.

Dia mendengar kabar tentang raja titisan Wishnu bernama Arjuna Sasrabahu. Mereka bertarung, Arjuna Sasrabahu justru mati di kapak sakti Rama Bargawa. Naraddha melerai lagi, menjelaskan bahwa raja titisan Wishnu yang dimaksudkan adalah Rama Wijaya. Sayangnya, Rama Wijaya belum dilahirkan. Rama Bargawa diperintahkan Naraddha untuk bertapa, menunggu kedatangan Rama Wijaya, menyempurnakan spiritualitasnya.

Rama Bargawa, selama menunggu kematiannya, melakukan satu pekerjaan besar: membuat sebuah ladang bernama Kurusetra, yang kelak akan menjadi medan pertempuran Pandawa dan Korawa di zaman berikutnya.

Zaman dan Masyarakat Rama Bargawa

Rama Bargawa hidup di zaman tetrayuga, zaman kasta ksatria merayakan kebiasaan saling bunuh untuk mencapai kebenaran dan kekuasaan. Elite politik yang bermain dengan senjata dan pasukan. Entah itu pasukan berseragam resmi, ataupun barisan underground yang memihak kepentingan kekuasaan. Masyarakat di masa Rama Bargawa adalah masyarakat yang sakit. Banyak korupsi, berita skandal, angka korupsi, data kemiskinan, agenda kegiatan, dan masa di mana media berhasil mengubah peta politik dengan melakukan “propaganda kebenaran”, informasi dianggap sebagai ilmu, status intelektual menjadi medan borjuasi ekonomi, zaman di mana seksualitas dikabarkan di ruang publik, zaman perdebatan dan kasus politik menjadi hiburan, kemiskinan menjadi parodi dan penjaringan dana, zaman rating tontonan dianggap sebagai ukuran hasrat, zaman di mana sejarah menjadi riwayat orang lain.

Zaman orang mengaku kiai memamerkan poligami, zaman pejabat berkhianat kepada rakyat.

Bagaimana kalau Rama Bargawa bukan “person”? Apa yang terjadi jika Rama Bargawa adalah personifikasi (penginsanan) sebuah generasi, atau mewakili sebuah organisasi?

Mesin-Hasrat dan AntiOedipus

Rama Bargawa tidak percaya pada bapaknya, bahkan tidak percaya pada janji bapaknya yang ternyata tidak bisa mengabulkan permintaannya. Rama Bargawa adalah generasi yang memenggal filsafat dari tubuh epistemologi, hingga filsafat menjadi “idealisme”, hanya kelihatan “fungsi”nya saja. Segalanya adalah tentang cara. Rama Bargawa menyajikan “cara” yang paling ekstrem: nihilisme. Semua yang tidak bisa menuntaskan pertanyaannya, harus dibunuh.

Jika para elit terdapat sedikit cacat dalam kebijakan ataupun riwayat (biarpun itu kata media), harus berani menghadapi peperangan dengannya. Melawan [kata] “rakyat”. Kata-kata menjadi media resistensi (perlawanan), itulah sejatinya kapak pamungkas Rama Bargawa yang tidak bisa dikalahkan. Siapapun yang dianggapnya mendukung pemerintahan korup, walaupun itu “pegawai negeri”, mantan “orang partai”, atau pejabat, bisa dianggap sebagai penopang kerusakan.

Semuanya akan “dibunuh” Rama Bargawa.

Rama Bargawa seperti remaja punk yang mengibarkan “A” besar: meneriakkan “Anarki” dan “invasi”. Mengedarkan stiker, “Negarane Bobrok Aparate Bosok”. Atau seperti jaringan bawah tanah yang menteror siapapun dengan isu pembantaian, negara bayangan, gerakan spiritual, aliansi intelektual, kebangkitan kerajaan, majapahit era modern, atau apapun yang sering kamu lihat di status dan group Facebook sebagai ketidakpercayaan kepada institusi negara. Melawan parlemen, melawan sistem, melawan apa saja yang dianggapnya menindas, tidak ideal, tidak seperti Indonesia yang dicita-citakan para pendahulu, yang dianggap tidak Jawa, atau tidak Islam, dan seterusnya. Generasi yang melawan bapaknya, generasi yang tidak percaya pada “tema” kesepakatan politik.

Rama Bargawa adalah cerita tentang masyarakat yang sakit, mesin hasrat (desire machine), generasi yang membalas, ketidakpercayaan terhadap sistem, keluarga yang mengalami deteritorialisasi dalam jalinan politik negara, tubuh yang mengalami keabadian jiwa, keinginan mencapai spiritualitas dari seorang begawan-petarung dengan cara ksatria: melakukan peperangan.

Peperangan untuk menyempurnakan kematian, dengan gaya nihilistik. Generasi yang memilih menghancurkan-diri dalam ketaksadaran, membentuk “fight club” yang tidak lagi percaya pada label politik, agama, kekuasaan, generasi yang ingin mempertarungkan takdir dan kebetulan.

Sudahkah kamu menunda kematian generasi hari ini? [dm]

What do you think?