in

Identitas Bangsa dalam Rumah tanpa Identitas

Mengapa arsitektur rumah baru di Indonesia seperti tidak menunjukkan identitas kebudayaan? Penyebabnya, bukan soal biaya mahal.

identitas-bangsa-rumah-tanpa-identitas
Problem identitas daerah (dan bangsa) dapat dilihat dari rumahnya. Terdorong migrasi dan status rumah sebagai “property”, identitas kebangsaan kurang bisa dilihat dari rumah penduduknya. (Photo: @giovanypg dari Unsplash)

Kota Simulasi dan Mental Penghuni

Saya sempat kecanduan game SimCity3000, jenis game strategi yang membuat pemain berperan sebagai seorang walikota virtual. Masalah dalam game ini adalah bagaimana mengembangkan sebuah wilayah menjadi sebuah kota besar. Bisa sebulan lebih memainkan SimCity3000.

Game ini menciptakan batas jelas tipe hunian dan aktivitas manusianya. Game SimCity3000 memiliki “kecerdasan buatan” yang bisa menganalisis perubahan perilaku para penduduknya berdasarkan tempat mereka tinggal.

Perkotaan, menjadi kompleksitas hubungan antarbangunan, bukan sekadar hubungan antarmanusia. Psikologi orang-orangnya kini dipengaruhi lingkungan di mana mereka tinggal. Setiap ada kompleks militer dan bandara, selalu ada kejahatan tinggi di situ. Setiap ada gedung pemerintah, pasti ada tempat bersejarah dan demonstrasi gampang disulut di situ.

Kadang saya menjadi “walikota” kejam: kalau mau dapat duit banyak, lakukan “penyalaan bergilir” (istilah lain untuk “pemadaman bergilir”) atau bakar kompleks rumah berkepadatan rendah lalu ganti dengan kepadatan tinggi, khusus kelas menengah ke atas.  Ada beberapa analogi yang mirip kehidupan nyata.

Rumah tanpa Identitas Lokal?

Setiap suku dan budaya di Indonesia pastilah memiliki filosofi dari arsitektur rumah mereka: Sunda, Betawi, Bugis, Batak, Chinese, Jawa, dll. Arsitektur ini masih tersisa sedikit, setidaknya di tempat-tempat yang diberi suaka kebudayaan, atau minimal di buku-buku arsitektur.

Sayangnya, rumah dengan falsafah ini tidak bisa ditangkar, tidak bisa dikembang-biakkan dengan murah dan mudah, apalagi “melawan” tawaran murahnya harga rumah di perumahan (pamflet para developer menyebutnya: harga yang layak).

Hidup Profesi, Harga Mati

Pola hidup manusia modern adalah pola hidup yang diatur profesi. Seseorang dipaksa meninggalkan rumahnya karena harus bekerja, menempuh pendidikan, atau pindah bekerja. Migrasi ini membawa pula kebudayaan dalam tubuhnya, ingatan tentang kampung halamannya menjadi liburan sebulan atau setahun sekali.

Rumah tidak lagi didirikan dengan gotong-royong, tetapi diserahkan kepada pemborong dan orang-orang yang berprofesi mendirikan rumah. Kalau sedang jalan-jalan di mal, kamu bisa melihat bagaimana developer memamerkan rumah dengan leaflet, poster, serta miniatur cantik: berapa kamarnya, luas tanahnya, dan seberapa dekat jaraknya dengan pusat kota atau tempat berbelanja. Jarak tidak lagi diukur dengan kilometer, melainkan: waktu. Misalnya, “10 Menit dari Pusat Kota”, kalau tidak sedang macet.

Rumah di perkotaan, menjadi bagian dari “properti”, bagian dari tanah yang diperluas, tumbuh di tempat-tempat yang kelak menjadi ramai karena migrasi orang-orang yang memulai hidupnya di situ. Rumah seperti tumbuhan yang hidup, muncul di atas tanah-tanah baru, disemai oleh mesin-mesin perata.

Rumah di kompleks perumahan, akhirnya menjadi keseragaman, yang dipilih berdasarkan keterjangkauan, daya beli, dan hidup profesi.

Rumah di sebuah perumahan, dengan “fungsi” dan “struktur”, membentuk perilaku mereka, seperti yang terjadi di game simulasi kota SimCity3000.

Tidak hanya di kompleks perumahan perkotaan, bahkan rumah-rumah yang baru didirikan di desa pun semakin kehilangan falsafah sebuah rumah.

Kantor, Cangkang Interior Seragam

Bukan hanya rumah. Saya melihat beberapa gedung lama mendapatkan label baru, ditempati sebagai kantor baru. Mereka menempatinya begitu saja, mungkin soal lokasi strategis, harga, dan kebutuhan pasar. Sebagian besar, memiliki interior sama. Saya tidak seperti memasuki ruang yang membentuk mental seorang pengunjung. Hanya tulisan, seragam, dan jenis layanan mereka yang berbeda.

Rumah dan kantor, hanya menjadi hunian, yang sudah kehilangan daya sapa, filosofi “ruang” yang menyatukan bentuk dan fungsi ternyata hanya terkesan sebagai masa lampau, di balik ingatan yang hilang.

Satu Desa, Satu Rumah Adat

Kalau saja di perkampungan dalam kota, atau di pedesaan, kita masih bisa menemukan minimal satu rumah adat dengan bangunan yang masih asli, rasanya ada ketenangan yang datang dari masa lampau, tempat orang masih mendirikan rumah bersama, merindukan sebuah sudut bersejarah di situ, lalu menikmati kebersamaan di halaman dan ruang tamu.

Sekarang rumah sudah berkembang biak, seperti makhluk yang di-cloning, rata di sebuah kompleks perumahan, bertingkat-tingkat, namun tidak bisa dinaiki publik layaknya sebuah candi. Rumah adat, tempat kita masih bisa merasakan harmoni dan keseimbangan antara manusia, jagat raya, dan sebuah rumah. Banyak falsafah rumah yang panjang jika diuraikan.

Identitas kebudayaan, bukanlah jargon yang bisa diwariskan kepada anak cucu, jikalau rumah-rumah yang baru, didirikan dengan pengabaian falsafah hidup. Sebab dari sebuah rumah adat, sebuah identitas dibangun sejak dini.

Adakah rumah dengan falsafah kehidupan yang masih dihormati itu menjadi identitas rumah Anda? [dm]

What do you think?