in

Kelemahan Mendasar Facebook sebagai Media Sosial

Apa saja kelemahan mendasar Facebook sebagai media sosial?

Facebook bisa dipakai untuk banyak keperluan: sebagai catatan harian, dokumentasi karya dan riwayat hidup, menggalang gagasan, berinteraksi secara kelompok, upload gambar dan video, atau memasarkan brand. Tidak ada media sosial sebesar Facebook, selengkap Facebook. Semakin hari, semakin mantap fiturnya.

Banyak survei konsumen (produk) dan konstituen (politik) yang mencari trend dan selera para pemakai Facebook di Indonesia, namun, hasilnya sering tak sesuai harapan. Pemakai Facebook banyak namun jarang brand product atau politikus menggunakan Facebook sebagai lahan mensosialisasikan produk dan gagasannya? Politikus lebih sering “pilih saya” daripada melakukan elaborasi gagasan. Atau mengapa Facebook tidak prospektif untuk perkuliahan online? Atau dalam lingkup lebih kecil, mengapa 30 orang dengan interest sama, tidak bisa menjadikan sebuah group Facebook sebagai tempat komunikasi intensif?

Setidaknya, ada 5 (lima) kelemahan mendasar media sosial terbesar ini. Facebook memakai analogi interaksi sosial seperti penjara, tidak memperhatikan reputasi individu, fasilitas open graph belum berfungsi, banyak kesalahan penandaan lokasi, dan daftar pertemanan yang membosankan bisa membuat orang malas memakai Facebook.

Facebook memakai analogi interaksi-sosial maya, layaknya penjara. Dalam sebuah penjara, saat narapidana makan bersama, itulah “Beranda” (Home). Sesekali dicolek (poke) saat sedang berjalan, mengirim pesan langsung ke jeruji (inbox), bergabung di “kelompok” (group, genk), dan “bermain” (game) di lapangan. Kalau lagi sedih, orang menuliskan sesuatu di “Dinding” (wall) atau menempelkan foto anak atau isterinya.

Beberapa orang tidak lagi menggunakan cara klasik seperti di atas, mereka ini semacam penjahat kelas tinggi yang tahu cara “gaul” di penjara. Tanpa masuk Facebook, dia jalankan autoupdate status (pakai script), menulis catatan dari email, atau menambahkan anggota group sebanyak mungkin tanpa konfirmasi. Hanya beberapa orang yang tidak memakai Facebook dengan cara klasik.

Facebook tidak perhatikan reputasi. Jika seseorang melakukan pelanggaran “Term of Agreement”, Facebook melakukan peringatan secara personal, bukan untuk publik. Reputasi seseorang, tidak diperhatikan Facebook.

Saat kamu “add” orang lain, kamu tidak tahu apa kata Facebook tentang “orang asing” ini. Akhirnya, orang memilih berdasarkan “spekulasi” atau “tebakan” dia tentang “orang asing” ini. Mungkin dari foto, teman bersama, atau info. Masing-masing orang punya cara menyaring siapa yang mau di-add atau di-confirm sebagai teman. Sayangnya, semua itu bisa dimanipulasi dengan mudah.

Sebenarnya, orang bisa merasa aman karena mengetahui track record seseorang, berdasarkan pemberitahuan-untuk-publik yang dicatat system. Misalnya, Facebook cukup mencantumkan catatan: orang ini pernah unfriend orang berapa kali, berapa orang dia blokir (tanpa menyebut nama, hanya jumlah), dst.

Open Graph Search belum berfungsi secara global. Tidak semua pemakai Facebook mendapatkan fasilitas Open Graph Search Button.

Harap maklum, fasilitas “Search” di Facebook tidak berdaya menghadapi “Privacy Settings” (pengaturan privasi) dari user. Sayangnya,, hasil pencarian ini tergantung “input” yang dimasukkan pemakai. Kalau saya mengisi identitas Facebook saya dengan input data “keliru” atau setting privacy pada content terpilih saya atur untuk tidak bisa dicari, maka Open Graph Search Facebook tidak berdaya. Bahkan untuk mencari sebuah baris di status saya terdahulu, belum tentu bisa ketemu.

Facebook mencobakan fungsi #hashtag seperti di Twitter, namun, apa yang terjadi dengan ratusan status yang sudah lewat?

Jika fasilitas penandaan kata kunci menjadi hashtag di seluruh status kita, saya sangat ragu: bisakah itu terjadi?

Itu berarti Facebook harus menulis-ulang status semua pemakai. Jika saja itu berhasil, tak ayal lagi, keyword yang terpilih dan di-tulis-ulang oleh Facebook adalah keyword umum.

Sangat berbeda dengan Twitter, di mana kita bisa temukan tweet manapun dalam hitungan detik, asalkan hashtag yang dipakai cocok dan unik. Facebook tidak bisa melakukan secepat Google+ dan Twitter.

Database Facebook terkait “Location”, saat kamu check-in, itu penuh dengan kesalahan. Ini terjadi karena orang sembarangan menulis tempat, misalnya: “Lubuk HatiQu”, “Kampus Tercinta”, dll. Sebab lainnya adalah inakurasi (ketidaktepatan) penandaan GPS (Global Positioning System) dari gadget yang dipakai. Itu sebabnya Facebook selalu meminta koreksi dari pemakai lain.

Saya sangat suka menandai lokasi dengan ponsel, lalu memindahkan koordinatnya ke Google Map (versi baru Google Map sangat akurat dan keren, daripada Ovi, Blackberry, dan Bing) untuk keperluan tertentu. Sayangnya, trend pencarian orang Indonesia belum sepenuhnya berbasis peta, masih suka mencari “teks” dan “informasi berguna”.

Teman-teman yang membosankan, juga menjadi masalah. Banyak orang ingin berhenti-sebentar bermain Facebook. Ada yang deaktivasi akun, ada yang pindah ke media sosial lain, atau tetap di Facebook sambil mengatasi rasa bosannya. Apa alasannya? Alasan utama sebenarnya: teman-teman kamu membosankan.

Kalau kamu berteman dengan orang-orang menyenangkan (sesuai selera) maka Beranda akan menyenangkan. Tidak pernah merasa bosan. Kalaupun bosan, ada group yang membahas cara mengatasi kebosanan itu. kamu tidak bisa keluar dari Facebook.

Media sosial ini mengajari orang pintar berinternet: mengisi formulir (saat mendaftar), kenal email (saat konfirmasi pendaftaran), upload foto, download, sunting profile, privacy, mematikan chat, berbagi content, menandai orang lain, dll.

Sayangnya, lagi-lagi, media sosial ini menjadikan diri seseorang membentuk semacam kerajaan kepribadian. Lihatlah cara orang mengkonstruksi akun Facebook mereka.

Sudahkah kamu menulis komentar hari ini? [dm]

What do you think?