in

Kesibukan Penceritaan Linier dan Dominasi Realisme di Teater Indonesia

Tentang 5 problem teater di Indonesia. Penceritaan linier dalam bingkai realisme, berakar panjang dari pandangan tentang ruang dan sejarah.

Ada 5 problem teater Indonesia: 1. Penceritaan linier dan dominasi realisme; 2. Seni rupa (fine art) memasuki panggung; 3. Beban berat pesan-titipan dari makhluk bernama “negara” dan “agama”; 4. Aktor tidak melek-sastra (illiterated); dan 5. Memposisikan teater sebagai tontonan broadway.

Penceritaan Linier, Sejarah Orang Lain

Kebanyakan teater di Indonesia sibuk melakukan penceritaan linier, dengan alur cerita yang menghadirkan “sejarah orang lain” di atas panggung (stage), naskah berbentuk cerita (story) dengan konflik Aristotelian, dan dramaturgi berbasis realisme. Teater kadang tidak bisa dibedakan dari drama panggung.  Penceritaan linier ini berasal dari “status seni” dan “pandangan atas sejarah”.

Plato mengatakan, bahwa dunia ini “mimesis” (tiruan) dari alam idea, sedangkan Aristoteles mengatakan bahwa “seni” (art) merupakan tiruan atas dunia; dengan demikian, seni adalah “mimesis dari mimesis” (tiruan atas tiruan). Seni, dianggap sebagai “bayangan” dari dunia yang ingin menghadirkan-kembali kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, lengkap dengan “pesan sponsor” bernama negara, agama, dll.

Liniearitas Sejarah dalam Bingkai Realisme

Realisme, layaknya kebanyakan drama panggung, ingin menghadirkan-kembali realitas, dengan dramaturgi ketat. Realisme, di sisi lain, paling memadai dalam memberi perkenalan awal kepada dunia teater. Sejarah, digambarkan sebagai seutas benang merah, ada awal dan akhir. Pada penceritaan seperti ini, di mana seni teater sebenarnya hanya mempersepsikan realitas, memainkan “fiksi” literer, layaknya cerita pendek atau novel, namun “dimainkan” (atau diperagakan?) dengan tubuh manusia.

Drama realis mempertipis kemungkinan menghadirkan “sesuatu baru”, dia hanya mengulang narasi dari teks (dialog) menjadi pementasan. Penjelajahan menjadi dangkal, tidak memberikan penjelajahan lebih-baru bagi pikiran penonton. Kalaupun bagus, dengan ukuran penyutradaraan, keaktoran, dll., itu berhenti sebagai tontonan. Tidak terjadi “theater of mind“, semua gampang ditebak arahnya.

Dominasi Anti-Realitas

Saya pernah bertanya kepada salah seorang sutradara, “Mengapa bentuk penceritaan ini kamu pilih?”. Dia ingin “menggambarkan dunia nyata”. Waktu itu, dia bercerita tentang kediktatoran seorang Raja dengan memodifikasi cerita pewayangan. Benarkah “dunia nyata” seperti itu? Mungkin benar, mungkin pula orang tidak suka lagi mendapat “pesan baik” dari sebuah pementasan.

Dominasi realisme, mereduksi unsur “visual” dalam teater menjadi gestur tubuh manusia, menjadi cerita yang diarahkan (oleh seorang sutradara?). Visual yang mestinya bisa menjadi “teror”, menjadi pernik properti panggung yang dipetakan ke “dunia nyata”. Orang sekarang, pada zaman media sosial,  tampaknya tidak butuh konflik hitam putih (antagonis-protagonis).

Ruang, bukan Tempat

Konsep memandang sejarah sebagai rangkaian peristiwa, mempengaruhi pula pandangan atas “ruang”, sebab sering terlihat, “ruang” dalam teater telah direduksi menjadi “tempat”.

Mari bayangkan (dalam dunia nyata), sebuah “ruang tamu”. Itu adalah penamaan yang terberikan (given) untuk sebuah tempat menerima tamu.

Aktivitas apa yang terjadi di ruang tamu? Tidak hanya menerima tamu. kamu bisa bermain Facebook dengan laptop bersama dua teman, layaknya di kafe internet. kamu bisa melakukan percumbuan di sofa, seperti di ranjang hotel. kamu bisa melakukan interogasi ataupun pengakuan dosa, layaknya berada di bukan-ruang-tamu.

“Tempat” itu statis dan fisik, sedangkan “ruang” itu bergantung aktivitas orang-orang dan benda-benda mati yang berbicara di situ, ruang itu dinamis dan psikologis.

Pada kenyataannya pula, ruang adalah tempat terjadinya peristiwa “serentak”, peralihan identitas “manusia” dan “ruang” itu sendiri. kamu bisa melihat, bagaimana sebuah kantor atau peristiwa, terjadi serentak, bersamaan. Kantor adalah tempat, yang bisa menjadi ruang bertengkar, menipu, menghadirkan suasana keluarga dari telepon, dst. Demikian pula jalan, terminal, dan negara.

Justru jika berbicara “realisme”, yang terjadi adalah “identitas ruang” yang selalu berubah serta peristiwa yang serentak, tanpa sekat-sekat dan fokus yang selalu sentral. Pikiran manusia, justru bisa menerima multitasking, melompat dari satu hal ke hal lain, mengalami diorama secara cepat, kilasan, impresi, yang tidak masuk-akal. Selesai menonton, mestinya orang seperti bangun tidur, seperti selesai memasuki “mimpi”.

Realisme, tidak memadai untuk menghadirkan “ruang” dan “peristiwa” siklikal, namun surealisme bisa.

Surealisme: Mimpi dan Mitos

Surealisme muncul dari Paris 1924, saat Andre Breton menulis “Manifesto Surealisme”, lalu menyebar ke Eropa. Sebelum surealisme, ada “dadaisme” yang mengejek kebudayaan, pemikiran, teknologi, bahkan seni. Aliran Dadaisme percaya bahwa keyakinan apapun akan kemampuan kemanusiaan untuk mengembangkan diri melalui seni dan kebudayaan, itu naif dan tidak realistis. Kemanusiaan mengalami dehumanisasi setelah perang antarnegara. Dadaisme menciptakan karya dengan “ketidaksengajaan” dan mengejek “irasionalitas” manusia (kritik terhadap perang). Surealisme, memilih jalan yang tidak terlalu politis, lebih sui generis. Surealisme semula dipakai untuk menafsirkan mimpi, menulis-ulang mimpi. Seorang gadis bisa menjelma menjadi bunga.

Menurut Sigmund Freud, dalam diri manusia terjadi pertarungan id (hasrat) dan ego (etika). Superego adalah garis vertikal bagi keduanya. Kierkegaard, memperkenalkan estetika impulsif versus estetika santun. Dalam usaha untuk mengakses kinerja pikiran yang sebenarnya, banyak surealis yang menggali untuk meraba kualitas mimpi yang tak masuk akal.

Singkatnya, surealisme ingin membuka kunci bawah-sadar, dengan “mimpi”.  Surealisme mencoba mengetahui dunia lain, dan mempertanyakan realitas keseharian (yang semu). Surealisme memberikan “pencerahan”, dengan fokus pada irasionalitas (tak mengandalkan logika dan “common-sense“), dan keajaiban, kemungkinan-kemungkinan.

Irasionalitas dalam surealisme adalah “penulisan-ulang bawah-sadar”, lebih murni daripada dadaisme. Surealisme, dengan demikian, “mengerjakan” mitos Freudian. Menurut Freud, mitos-mitos mengungkap belenggu kejiwaan yang tersembunyi dalam setiap manusia. Carl Gustav Jung berpendapat, mitos lebih terbebas dari ruang dan waktu (adanya persamaan, berupa “ketaksadaran kolektif”). Mitos ini semakin menarik ketika Barat berkenalan dengan mitos-mitos dunia Timur.

Metode Surealisme

Bagaimana metode surealisme dikerjakan?

Surealisme membentuk gambaran dari alam bawah sadar disebut “exquisite corpse” (secara harfiah berarti “mengumpulkan lipatan kertas, bagian-bagian tubuh dikerjakan berlainan, lalu disatukan”), karena mereka percaya adanya “kesamaan” dan “keberhubungan” patahan-patahan itu. Surealisme membentuk makhluk “hybrid” dengan penampakan baru, walaupun berasal dari banyak persamaan.

Contohnya begini: saya rakyat biasa, ingin korupsi ditiadakan dari Indonesia, namun jarang dihadirkan “adegan” (dalam kehidupan nyata di Indonesia) seorang Kiai turun di jalan menuntut pengusutan kasus korupsi. Kalau ada adegan seperti itu di teater, maka saya (rakyat biasa) dan Kiai (elit-religius), bertemu (menjadi “unitas” baru), karena persamaan: menuntut koruptor.

Metode lain adalah “automatisme”, yaitu membebaskan pikiran bawah-sadar dari pikiran-sadar: bawah sadar, diungkapkan, kesadaran digilas dan diledakkan lalu dikembalikan lagi pada kesadaran. Terjadi penceritaan siklikal, tidak linier. Ada ledakan imaji spontan dan tidak logis.

Surealisme bukanlah antitesis atas realisme, bukan pula solusi atas kebekuan penceritaan linier, namun dia memberikan pandangan lain atas realitas yang bisa menghadirkan “teater” dalam pikiran penonton. Surealisme bukanlah “siluet” dengan gerakan orang menari, bukan pula sosok malaikat putih terbang dengan ayat-ayat untuk mengabarkan bencana, mempertegas hukuman Tuhan. Itu common sense, akal sehat, sudah umum, tidak perlu dihadirkan kepada penonton.

Penceritaan linier dan dominasi realisme, telah mengakar dalam teater Indonesia. Kebiasaan ini bisa mencitrakan teater sebagai drama dan menghambat jalan teater sebagai media penjelajahan pikiran manusia. [dm]

What do you think?