in

Konflik Kepercayaan di Jawa sebagai Komoditas Cetak Jangka Panjang

Mesin stensil dan offset, ikut membantu awal penyebaran gagasan poskolonialisme.

black typewriter
Sejak Ken Arok, semua agama yang datang dari luar, harus dijawakan. Belanda mengembangkan, untuk mendukung agenda poskolonialisme. Mesin stensil dan offset, ikut membantu awal penyebaran ini. (Photo: Studio 7042)

Sejak Ken Arok, semua agama yang datang dari luar, harus dijawakan. Belanda mengembangkan, untuk mendukung agenda poskolonialisme. Mesin stensil dan offset, ikut membantu awal penyebaran ini.

Ken Arok: Semua Agama Harus Dijawakan

Ken Arok adalah raja Jawa yang pertama kali berani melakukan fusi dua agama, dari Hindu dan Buddha, menjadi Buddha-Wishnu, sesuai gelarnya: Sri Rajasa Amurwa Bhumi. Keberhasilannya menggunakan Ken Dedes dalam preseden penggulingan kekuasaan Tunggul Ametung, membawanya pada moment lebih besar kemudian.

Agama, yang masuk ke Jawa, sejak saat itu mengalami satu perlakuan sama: harus dijawakan. Jika tidak bisa dijawakan, berarti tidak diterima, dan jika tidak diterima, berarti agama itu tidak universal. Tidak mengherankan, jika agama di Jawa selalu berwajah baru.

Pulau Jawa menjadi ajang pencarian identitas agama, kebudayaan Jawa selalu ingin mencapai supremasi. Sungguh menyakitkan jika dianggap tidak “Jawa”. Padahal dalam sejarah, tidak mungkin semua aspek kebudayaan tercakup hanya dalam satu kata: Jawa.

Setiap bangsa, atau suku, memiliki cara sendiri-sendiri untuk survive menghadapi zaman. Ada yang berpegang pada senjata, ada pula pada karya sastra, atau kepercayaan. Rupanya Jawa asyik dengan ketegangan ini sejak lama.

Penjajahan Melahirkan Hibriditas

Ketegangan antara penjajah dan terjajah, menghasilkan hibriditas, yaitu persilangan dua hal berbeda. Orang sering mengaburkannya dengan asimilasi, akulturasi, pembauran, dll. Intinya, penyilangan dua subkultur. Contoh paling baik adalah merebaknya kepercayaan baru di Jawa.

Di Jawa Tengah saja, pada 2012, terdaftar 296 aliran kepercayaan di Pakem (Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat).

Peran Mesin Stensil dan Offset

Mesin stensil dan mesin cetak punya andil besar terhadap penyebaran kepercayaan di Jawa. Buku-buku berisi ajaran dan konflik kepercayaan, disemai pada peralihan abad 19 ke abad 20, melalui mesin stensil.

Sekitar 1230, Korea sudah menciptakan mesin cetak dari logam, 300 tahun sebelum Guttenberg menemukan mesin cetak di Jerman. Korea menggandakan Jikji, buku agama Buddha, tahun 1377, sekitar 100 tahun sebelum Injil diproduksi massal di Eropa. Sudah watak lama, rupanya, mesin itu ditakdirkan menggandakan kitab agama. Mesin stensil, baru ditemukan Thomas A. Edison tahun 1876. Jenis mesin ini bisa menggandakan dokumen dengan tinta murah, perawatannya mudah, dan tak butuh kemampuan ahli dalam menjalankan mesin stensil.

Kalau dulu pernah marak istilah novel porno stensilan, itu karena novelnya direproduksi dengan mesin stensil. Kertasnya kusam, gampang rusak, dan ongkos produksinya murah. Royalti kepengarangannya, tentu lebih murah lagi.

Kalau kamu jalan-jalan ke buku loakan seperti Jalan Semarang di Surabaya atau di Sriwedari Solo, masih banyak jenis buku kuno yang cetakannya jadul. Di antara judul-judul itu, cobalah mencari buku-buku seputar kepercayaan Jawa, dan lihatlah angka tahunnya. Buku-buku kejawen, kepercayaan, ajaran leluhur, di angka tahun lama (dengan teks Jawa, transkrip aksara Jawa, ataupun latin Jawa) semuanya berbentuk cetakan stensil dan offset.

Tanpa mesin ini, ajaran orang Jawa tidak akan cepat menyebar. Dulu hampir setiap kantor dan sekolah punya mesin stensil. Toko alat tulis dan perkantoran (stationery) menyediakan kertas master stensil (stencil sheet), baik Gesttner maupun Daito, lengkap dengan cairan koreksi berwarna merah fluorescent. Awal 1980-an, ketika mini-offset dengan paper plate masuk ke Indonesia, stensil terpinggirkan.

Semua orang, dulu bisa membuat buku sendiri. Kalau ada bahan yang sudah diketik, ukuran saku, disusun, sudah bisa digandakan untuk kalangan terbatas. Saat mesin stensil di sekolah sedang istirahat dari mencetak ulangan umum, buletin kampus, dan pengumuman, maka iseng-iseng beberapa siswa mengerjakan buku, untuk kalangan sendiri.

Pada tahun 1950-an, koran yang memiliki Surat Izin Terbit (SIT) mendapat subsidi kertas lebih murah dari pemerintah.

Kita masih bisa melihat jejaknya, bagaimana Jakarta di masa kolonial, mampu memproduksi mesin stensil rotari kertas produksi “P.H. Vermeulen & Co.” di Weltevreden, (sekitar Lapangan Banteng di Batavia) dengan angka tahun 1910. Indonesia menjadi agen pemroduksi mesin cetak.

Sekarang, mesin stensil digital sudah sangat canggih. Mesin Stensil Digital GESTETNER DX 2430 (Copy Printer) yang mencetak 60 x 90 lembar per menit dengan resolusi 300 dpi dengan biaya cetak Rp7,00 (tujuh rupiah) per lembar.

Belanda yang mengawali penjajahan dengan genocide, mengakhiri koloni dengan amnesia. Sedangkan negeri yang ditinggalkannya, bernama Indonesia, masih penuh dengan pertikaian dan kebencian berbasis agama.

Di balik semua ketegangan menikmati teks buku dan pertikaian seputar kepercayaan Jawa, tidakkah kamu melihat grafik keuntungan di balik cetakan-cetakan kertas itu?

Akhirnya, “kepercayaan” adalah sebuah komoditas cetak jangka panjang. [dm]

What do you think?