in

Mata Uang Kedua Bernama “Informasi”

Informasi yang mengajak “melakukan sendiri”, di zaman sekarang, adalah mata-uang kedua yang tak bisa dipalsukan.Informasi apa yang paling sering beredar di media?

Jenis informasi yang banyak beredar dan dikonsumsi masyarakat, lebih banyak mengenai: kasus, penyikapan isu (dari narasumber), hiburan, dan advertorial (artikel-iklan). Semuanya bagus, semuanya perlu.

Media tidak pernah terlepas dari 3 tema besar: news (berita), education (pendidikan), dan entertainment (hiburan). Kalau ketiganya tidak seimbang, yang terjadi pastilah ketimpangan informasi. Terlalu banyak hiburan dan berita politik, misalnya, akan mengurangi ruang pendidikan bagi penikmat media.

Selain mengkonsumsi informasi, masyarakat juga butuh “bertahan-hidup” (survive), mereka mencari peluang dan ide bisnis untuk menambah penghasilan.

Koran, televisi, media sosial, di antara berita-berita dan ragam sajian, memiliki satu titik yang paling diminati dan bisa dikembangkan, yaitu jenis informasi “do it yourself” (lakukan sendiri). Informasi “do it yourself” mengajak pembaca dan pemirsa untuk melakukan sendiri, mempraktekkan sesuatu. Misalnya, cara membuat aksesoris, cara mengganti wallpaper ponsel, cara mengatasi flu di malam hari, cara mewaspadai penjambretan, dll.

Kalau masih sebatas menginformasikan, belum tentu bisa dibisniskan. Mengajarkan cara mengatasi penjambretan belum tentu bisa menghasilkan uang bagi pembaca atau pemirsa, masih sebatas untuk kepentingan individual.

Betapa banyak peminat liputan pemeliharaan burung (dilengkapi foto dan petunjuknya), betapa menyenangkan membaca tutorial membuat boneka dari kain perca (yang bisa dijual). Anak kecil sampai orang tua, menyukai instruksi dan tutorial. Berawal dari sinilah, kreativitas dan produktivitas bisa menjadi bisnis.

Kalau Anda sudah memiliki anak kecil di rumah, atau berprofesi sebagai pengajar, pasti mengukur kreativitas anak dari cara mereka praktek. Betapa senang melihat si kecil mempraktekkan origami (seni melipat kertas) yang dibacanya dari sebuah majalah.

Apa artinya informasi membludak (overload) tetapi tidak berhasil mengajarkan orang lain untuk melakukan sendiri? Apa artinya menikmati informasi tentang sikap politikus dan penjelajahan literatur jika tidak bisa menghasilkan sesuatu untuk menambah penghasilan?

Informasi yang mengajak orang lain, dengan instruksi detail, dan bisa dibisniskan inilah, yang bisa membuat tren bisnis berkembang. Tidak mengherankan jika minimnya informasi yang mengajak orang “melakukan sendiri” ini, merupakan salah satu faktor mengapa generasi sekarang kurang kreatif dan kurang produktif.

Setiap membuka internet, yang sering terlihat sebagai tawaran bisnis adalah multilevel marketing (MLM) yang menuntut kerja keras “menjual”, bukan kreativitas “memproduksi”. Atau tawaran “pay per click” (PPC) di antara pemakai blog yang menjanjikan dapat uang sekian dolar setelah sekian ratus klik. Akhirnya, informasi yang berkembang adalah bagaimana caranya menjadi nomor satu di Google, bukan bagaimana caranya menghasilkan produk nyata yang bisa dijual.

Marilah menengok sebentar pada YouTube.com, tempat semua orang menyiarkan dirinya. Ada banyak sekali ide bisnis yang mengajarkan mulai cara membuat kue sampai cara mereparasi ponsel. Semua tinggal kejelian orang memilah dan menerapkan informasi.

Mungkin Anda terpesona dengan informasi yang “super sekali” di rubrik motivasi, persoalannya, bisnis mengenal lapangan yang ganas. Ada tren, spekulasi, modal, kompetitor (pesaing), dll. Pasar adalah medan perang, sekecil apapun medan itu.

Biarpun informasi “super” punya seribu saran, sayangnya, informasi tentang motivasi bisnis itu tidak sama dengan bisnis yang dijalankan. Awali semua itu dengan informasi yang terkait langsung dengan bisnis yang akan Anda masuki, langsung ke artikel instruksi, langsung dari tuturan pengalaman orang yang berbisnis di sana.

Jepang, Amerika, Eropa, dan negara yang menjadikan informasi sebagai mata uang kedua mereka, kalau Anda lihat di internet, berani membagikan “cara membuat dan melakukan”. Mereka tidak takut bisnisnya direbut, justru dengan berbagi, dia akan menjadi trend-maker (pembuat tren). Ada blog LifeHacker dan ApartmentTheraphy yang membahas hal-hal kecil di dalam rumah, cara membuat rumah nyaman, sampai membisniskan hal-hal kecil di sekitar kita.

Berita terkini memang penting, mengikuti aktualitas juga perlu biar tidak ketinggalan informasi, namun jangan sampai waktu itu menyita kemampuan Anda untuk memproduksi sendiri, berbisnis sendiri.

Sudah banyak orang sukses dan berubah hidupnya karena rajin mengkonsumsi dan mengembangkan informasi berjenis “lakukan sendiri” (do it yourself).

Sudahkah Anda memulainya? m/

What do you think?