in

Media Sosial sebagai Mesin Propaganda

Mengapa media sosial menjadi mesin propaganda?

media-sosial-mesin-propaganda
Berdasarkan sejarah dan cara-kerja propaganda, maka media sosial merupakan mesin propaganda. (Photo: Tracy Le Blanc dari Pexels)

Prediksi Politik, Spekulasi Teknologi

Politik dan teknologi selalu kental dengan prediksi. Apa yang diprediksikan orang terkait situasi politik dan tren teknologi, lebih sering salah. Kesalahan prediksi politik, bisa mengubah status “program politik” menjadi sekadar “janji politik”, sedangkan semua yang dianggap “masa depan teknologi”, selalu merupakan “spekulasi”.

Semula, orang berharap banyak pada penggunaan teknologi untuk kemanusiaan, namun, perjalanan sejarah mencatat terjadinya Perang Dunia I dan II, di mana teknologi digunakan untuk menumbuhkan perlombaan metode penyiksaan, mengumbar kebencian rasial (ingat kasus holocaust Nazi), dan propaganda. Setelah dua perang besar itu, Amerika dan Rusia pernah terlibat dalam Perang Dingin, yang berakhir ketika Amerika berhasil mengedarkan video casette rumahan, untuk memperkenalkan seks, kebebasan berpikir, dan demokrasi, dalam bentuk entertainment (musik, film). Siapa yang pernah memprediksi bahwa perang dingin itu akan selesai di ruang tamu semua orang?

Sayangnya, orang sering memaklumi adanya kebiasaan salah-prediksi, sebab begitulah watak politik dan teknologi. Prediksi apapun bisa salah.

Zaman sudah berubah. Sekarang, negara tidak lagi bermusuhan dengan negara lain, negara tidak lagi menjalankan “actor-centered-history” (sejarah yang berpusat pada tokoh), negara tidak lagi menjadi perwakilan tunggal sebuah kebudayaan. Negara-negara di Asia dan Africa bisa dikendalikan kepentingan Uni-Eropa dan Amerika dalam bentuk permainan kebijakan perusahaan lintas-negara (MNC, multinational corporation).

Propaganda: Sejarah dan Cara Kerja

Perang masih terjadi di mana-mana. Ada yang tetap berlangsung dari “perang” yang tak pernah selesai ini, yaitu: propaganda. Kata “propaganda” sebelumnya netral, baru setelah Perang Dunia II, kata ini berkonotasi negatif karena ulah Jerman yang berperang dengan cara kotor. Propaganda merupakan teknik membujuk dan mengarahkan khayalan. Entitas di balik semua pesan, berasal dari gagasan sama: “yakinkan pemirsa agar menyetujui dan mengadopsi gagasanmu”.

Istilah “propaganda” berasal dari Pope Gregory XV yang membuat Congregation of Propaganda tahun 1622, untuk memenangkan kembali Katolik yang telah direbut kaum Protestan selama Reformasi. Menyebarkan Sabda, bergeser fungsinya ke wilayah perang. Kata ini lantas lantas mendapatkan konotasi negatif saat propaganda digunakan Hitler di Perang Dunia II. Propaganda disebarkan melalui poster, televisi (harap diingat, Nazi menemukan televisi), siaran radio, dan brosur.

Propaganda selalu melakukan penyederhanaan, dengan beberapa teknik. Propaganda menyederhanakan gagasan menjadi sebuah nama, misalnya: “Pilih Gubernur Joni, Masa Depan Cerah!”. Masa depan cerah (atau apapun janji politiknya), sudah diidentikkan dengan Joni (sebuah nama), entah benar atau belum tentu benar identitas itu.

Kadang propaganda juga mengajak orang bergabung dengan alasan sudah pernah ada kesuksesan sebelumnya, misalnya: “Ingin sukses di bisnis properti? Gabung dengan kami.”

Propaganda juga memainkan teknik glittering, memainkan kesan-baik, dengan menggabungkan “peristilahan positif” dan “penugasan suci”, misalnya: “Tolong broadcast pesan ini jika kamu peduli korupsi!”.

Propaganda bermain data sesuai kebutuhan, misalnya: “9 dari 10 perempuan menginginkan kulitnya putih”. Statistik siapa itu, di mana respondennya, dan kapan penelitian itu terjadi, menjadi tidak penting lagi.

Propaganda melakukan pembauran identitas jika diperlukan. Seorang politikus asal Jawa pemilik perusahaan mebel yang “main kayu” sampai Irian Jaya, misalnya, perlu dicitrakan suka “blusukan”, agar ide “berbaur dengan rakyat kecil” bisa disebarkan media. Kalau kemudian media massa mengabarkan kebohongan sang Gubernur tadi, orang mungkin sudah terlanjur percaya.

Propaganda juga bisa disampaikan dengan memanfaatkan rasa takut. Kalau rakyat takut miskin, alihkan isu ke “jangan biarkan Indonesia krisis pangan”, maka gagasan kamu akan mudah diikuti orang. Propaganda juga bisa dijalankan dengan mengedarkan pesan yang menggugah bawah-sadar, mengingatkan orang akan kebutuhan dasarnya, misalnya: “ada kuman mematikan di balik apa yang kamu minum”.

Propaganda menggunakan banyak medium (media, perantara pesan), misalnya: poster, televisi, film, majalah, koran, dll. Semua media itu bisa disaring lagi berdasarkan jenis content-nya, yaitu: teks, gambar, dan video. Tidak lebih dari itu. Tidak ada yang memuat fungsi propaganda secepat media sosial.

Media Sosial, Mesin Propaganda

Mari melihat bagaimana sebuah content menyebar secepat virus di media sosial. Sebuah gambar, dengan satu sentral, disertai dua kalimat, sudah bisa membuat orang marah. Atau foto bayi terluka karena bom dengan bertuliskan, “Korban Kebiadaban Israel” bisa membuat orang Islam segera berdemonstrasi di mana-mana. Video fake (tipuan) tentang kubah terbang, bisa membuat orang menangis. Sebuah acara pemilihan bintang atau pertandingan bola, bisa “memerintahkan” jutaan pemirsa mengubah jadwal jam tidurnya. Foto dengan pesan dua baris, bisa mengembalikan “retro memorabilia”, ingatan tentang masa lalu yang lebih indah daripada sekarang. Google+, Facebook, Youtube, dan Twitter, adalah empat raksasa media sosial yang bisa menyebarkan gagasan propaganda secepat virus.

Gagasan bertarung di mana-mana. Tidak jelas lagi dan tidak soal lagi, siapa yang menyulut tersebarnya sebuah kalimat propaganda. Perang psikologi di internet adalah permainan yang tak pernah selesai. Mungkin antarfaksi politik, kelompok beragama, produk dagang, atau apa saja. Di media sosial pula, propaganda dicobakan, selera orang dikalkulasi begitu cermat.

Media sosial adalah tempat bermain (play ground) semua orang, tidak mengherankan jika media sosial dipakai untuk mengukur selera orang, mulai dari selera makan, baju, sampai calon Presiden yang paling disukai. Intelijen dan militer ikut memantau pemakaian media sosial.

Pentagon, pada tahun 2011, menginginkan piranti yang bisa menjadi propaganda media sosial, agar militer bisa memantau secara real-time, apa yang sedang mempengaruhi pikiran semua orang: formasi, pengembangan, penyebaran gagasan, ide, dan konsep. Tidak sebatas melihat trending topic Twitter atau content yang paling banyak dibagikan di Facebook. Tujuannya, melakukan prediksi secara tepat, agar bisa mendeteksi dan mencegah bahaya.

Paradoks Propaganda

Propaganda sekilas tampak terang-terangan, main kasar, dan naif, tetapi sekaligus juga bawah-sadar, curang, dan berbahaya. Propaganda selalu berupa paradoks. Baru saja kita mendapat seruan “bahaya merokok” dengan poster dan data meyakinkan, tak lama kemudian, kita mendapatkan artikel ekonomi yang menyerukan, “merokok berarti membantu perekonomian Indonesia”.

Dua arus semacam ini menggerus pribadi kepada pilihan-pilihan, atau seolah-olah kita bebas menentukan pilihan. Jika kebebasan ditentukan hanya berdasarkan pilihan yang ada (atau pilihan yang disediakan?) maka sebenarnya kita tidak berhadapan dengan kebebasan memilih, melainkan berhadapan dengan komoditi. Entah berupa gagasan, jasa, ataupun barang.

Sebab komoditi terjadi dalam pertukaran dan perdagangan, tempat terjadinya nilai-tukar. Singkatnya, di balik keingintahuan semantik dari kalimat-kalimat propaganda, tersembunyi ketidakmampuan manusia dalam mengatasi pertanyaan: siapa yang sedang mempengaruhi saya?

Sifat paradoks dari propaganda akhirnya membuat orang sangat permisif menerima apapun sebagai iklan dan sebagai komoditi. Kebenaran dan keindahan apapun, selalu dinilai dari “siapa mempengaruhi siapa”, “siapa menjual apa”, dan berapa “harga”nya jika saya memilih. Iklan menjadi ada di mana-mana.

Semiotika, ilmu yang memperlajari fungsi dan pertukaran “tanda” (sign), mengenal “teks” tidak sekadar sebagai tulisan, teks bisa berupa citraan visual. Propaganda bisa berupa kaos bergambar Che Guevara tanpa tulisan nama, atau siluet Iwan Fals bertuliskan “Bongkar!”, atau tulisan di bak truk, “Penak Jamanku To?” atau sebuah pertunjukan televisi. Kita memilih, mengerjakan ketakutan dan kecemasan, atau tersenyum bahagia, menikmat pesan tersembunyi.

Sudahkah kamu menyebarkan propaganda di media sosial hari ini? [dm]

What do you think?