in

Membaca Emosi dalam Puisi

Bagaimana “emosi” diekspresikan (dan bisa dirasakan) kalau sudah menjadi kalimat dalam puisi? Mungkin itu bukan emosi.

membaca-emosi-puisi
Emosi yang diekspresikan ke dalam bentuk kalimat, sudah menjadi keadaan-pikiran.

Pengertian Emosi

Ada banyak pengertian “emosi”, antara lain: “1. Keadaan instingtif yang alami dari pikiran, yang diturunkan atau terjadi atas suatu keadaan, mood, atau hubungan dengan hal-lain; 2. Perasaan khusus apapun yang berupa keadaan pikiran, seperti: senang, marah, cinta, benci, takut, dll.; 3. Pengalaman subyektif, sadar, yang dicirikan dengan ekspresi psikofisiologi, reaksi biologis, dan keadaan mental.”.

Emosi itu instingtif, naluriah, sekaligus hasil dari keadaan-pikiran (state of mind). “Ekspresi” dari emosi, tidak selalu spontan, tidak selalu cepat, tergantung bagaimana pikiran seseorang saat itu. Emosi melibatkan tubuh seseorang, entah berupa “penginderaan” (sensation), rangsangan (stimulus), ataupun tingkah-laku (behavior). Emosi tidak sama dengan “marah”, sebab “marah” hanyalah salah satu “keadaan” atau “ekspresi” dari emosi.

Sedih sampai menitikkan air mata ketika melihat foto korban bencana, atau tertawa sampai urat pipi meregang, seperti itulah contoh “emosi”, termasuk juga jantung berdebar ketika menghadapi ujian.

Ada yang mendefinisikan cinta dalam kategori “emosi beruntun”, sejenis “reaksi kimia”. Pengertian ini berasal dari kondisi “psikofisiologi” seseorang, misalnya ketika Tomy berdebar jantungnya saat mendengar suara Andrea di telepon.

Memvisualkan Emosi, Mengungkapkan Emosi

Tidak mudah memvisualkan “emosi” dalam fotografi, film, dan puisi, namun jika berhasil diekspresikan dengan baik, “emosi” memiliki kekuatan dalam meraih perhatian penikmatnya.

Bagaimana “emosi” diekspresikan melalui puisi? Pengertian panjang tentang “emosi”, saat menjadi teks puisi, mau tidak mau menghadapi jalan pembacaan rasional, tak soal bentuk puisinya seperti apa. Seseorang yang sedang mengalami emosi, jikalau menghasilkan teks puisi dengan redaksi klise, tidak akan dirasakan emosinya, tidak menyentuh keindahan mendalam bagi pembaca. Singkatnya, keadaan, perasaan, dan pengalaman yang menjadi emosi itu, ketika menjadi sebuah teks puisi, akan menjadi keputusan berpikir (mengapa sebuah kalimat dipilih), imaginary (pemakaian diksi), enkripsi (penyandian), dan reduksi. Itu semua, ternyata aktivitas otak, bukan?

Tidak gampang mengungkapkan “emosi” ke dalam puisi. Jika kamu menulis “…. nadiku gemetar, dadaku terbakar, mendengar kau berkabar ….” belum tentu bisa dikatakan sebagai ungkapan emosi. Di sini, “emosi” berhadapan dengan “identifikasi” pembaca, mereka akan bertanya: ini tentang apa? Mengapa dituliskan dengan cara seperti ini?

Seperti halnya, saat kamu menonton drama Bertolt Brecht, mungkin kamu bisa merasakan “emosi” mengalir di adegannya, namun sulit melakukan identifikasi adegan. Pada pengamatan visual (teater atau film), orang mudah merasakan suasana, walaupun tidak tahu suasana lengkap dari adegan itu.

dari Emosi menjadi Keadaan-Pikiran

Puisi tidak demikian, dia lebih rumit dan menantang. Tantangan umum yang terjadi dalam “penulisan” puisi adalah menerjemahkan “emosi” dan “kata-kerja pikiran” dalam bentuk kata-kata.

Tunjukkan, jangan katakan., begitu katanya. “Berduka”, “merindukan”, “membenci”, itu kata-kerja pikiran. Kalau hanya ditulis “aku merindukanmu”, orang sulit mengidentifikasi kata “merindukanmu”. Begitulah kata-kerja pikiran.

Lain halnya jika “merindukanmu” diuraikan menjadi sebuah kalimat: “bayang wajahmu, menyerbu pejamku. bersenyawa dengan diam dan laguku, menjadi laguku.”.

Setidaknya, di situ ada proses tentang “gerak” (menyerbu), “tindakan tubuh” (pejam), kadang “menubuh” (bersenyawa dalam diam dan laguku), ada “proses” (menyerbu, bersenyawa), ada detail kecil yang menggantikan kata “merindukanmu” menjadi ungkapan lain, beberapa parafrase.

Sebuah puisi, pada dasarnya merupakan teks berorientasi pembaca (readerly text). Jenis teks ini berusaha “merekonstruksi” pengamatan si penulis, mendeskripsikan “makna”, tentu saja dia melakukan “destruksi” (perusakan), “dekonstruksi” (pembongkaran), dan menyampaikan kenyataan yang “hilang”. Itu sebabnya, dia disebut sebagai “sudut pandang” (angle).

Mendengar suatu kalimat inspirasi (misalnya: “nikmati lukamu, itu akan mendewasakanmu.”), membenturkan biografi dengan sebuah konsepsi, sebagai misal, akan membawa kenyataan tereduksi, disembunyikan, dan dirahasiakan, ke dalam puisi. Luka macam apa itu, disembunyikan. Mendewasakan dengan cara apa, pasti direduksi. Tentang tentang yang lain, dirahasiakan, disandikan. Puisi kadang menjadi “medium” untuk melakukan kontekstualisasi, evaluasi, dan interpretasi. Ini bukan tugas puisi, kalau puisi dibalikkan prosesnya, sering dinilai dengan cara seperti ini. Banyak penulis yang dijempol pendukungnya, karena memiliki “cara pandang lain”, atau memakai diksi keren, pada kenyataannya berkubang pada 3 hal itu.

Dekontekstualisasi, Devaluasi, dan Anti-Interpretasi

Kadang menulis puisi juga menjadi proses pembalikan: melakukan dekontekstualisasi, devaluasi, dan anti-interpretasi.

Saya mencoba sebuah misal, tak soal klise atau bukan, seperti teks ini: “Rindu adalah jalan menuju pertemuan indah”. Kata “rindu” menjadi kontekstual, cocok dengan keadaan, jika dihubungkan dengan “pertemuan”. Ini pengertian klasik.

Namun boleh saja dalam puisi, bahasanya menjadi “anti-konteks”, semacam bait dari Mawlana Rumi berikut ini: “dua kekasih saling cinta, tak pernah benar-benar berpisah, mereka selalu berkisah, bersama dalam Waktu“. Ups, dari mana asalnya, “waktu” menjadi “Waktu”? Rindu menjadi “antikonteks” bagi pertemuan, dalam puisi ini, karena dua kekasih selalu bersatu dalam Waktu (Tuhan). Sejak tradisi sufisme Persia Kuno, kata “Waktu” boleh diidentifikasikan untuk “Tuhan”.

Mari kita ambil sebuah teks lagi untuk mencontohkan: “waktuku tanpa dua ujung dan lautku tanpa pantai.” dan “menantimu, menanti kepergianku. tubuhku berubah tiga, semua merindukanmu.”

Puisi dalam teks di atas melakukan “devaluasi” terhadap “nilai” bernama “waktu” (dengan “w” kecil, bagi saya). Waktu tidak lagi berupa hitungan musim, tetapi sudah ditiadakan dalam diri seseorang yang sedang jatuh cinta. Devaluasi sering terjadi pada puisi yang mempermasalahkan banyak hal: keampuhan agama, keadilan, sistem nilai, kebenaran, dan kesaktian cinta, dll.

Ada juga paradoks lain, dalam penulisan puisi, yaitu “anti-interpretasi”. Puisi sering menjadi “anti-interpretasi” manakala teks puisi menjadi pembahasaan-ulang suatu realitas klise dan penuh bunga-bunga. Seperti banyak dimaklumi publik, banyak orang merindu dan jatuh cinta, namun ungkapannya hampir sama. Mereka membahasakan suasana dengan “rinai gerimis”, “bias pelangi”, “temaram senja”, dan jenis-jenis frase yang ditunggalkan maknanya, hanya untuk menyatakan perasaan dengan pembahasaan yang hampir sama.

Emosi, saat dipuisikan, sering menjadi keadaan-mental dan pikiran yang telah diturunkan (disunting parafrasenya), menjadi kalimat yang dianalisis sebatas pikiran. [dm]

What do you think?