in

Mencetak Pistol dari Rumah dan Negara Paranoia

Yang terjadi setelah printer 3D bisa diakses publik.

Sekarang printer sudah bisa mencetak senjata, membuat rumah, dan dashboard mobil. Apa yang akan terjadi jika printer tiga dimensi ini diakses publik?

Sekarang itu sudah terjadi. Printer 3d dijual di mana-mana, demonya mengundang jutaan klik di YouTube. Situs Staples, misalnya, menjual printer 3D dengan bandrol 1299 US dolar, dilengkapi detektor hotspot bawaan, dan 20 rancangan desain 3D siap-cetak. Masih banyak website yang berjualan printer tiga dimensi. Orang dengan mudah bisa me-reproduksi senjata maupun karya seni teknologi.

Mengganti Tinta dengan Serbuk Logam

Pengganti tintanya bisa berupa bubuk metal, gypsum (gip), keramik, dan 102 jenis metal. Seperti banyak dimaklumi, hasil printer 3D dipandang kurang bagus oleh para seniman, mekanik, dan pakar manufaktur. Kualitasnya kurang bagus, seperti mencetak foto resolusi rendah untuk majalah cetak.

Meskipun demikian, ada banyak inovasi yang bisa dihasilkan dari printer 3d ini. Printer 3d memungkinkan dibuatnya lanskap miniatur, pengujian tata-kota, serta simulasi yang bisa memampatkan realitas fisik, menjadi lebih mudah dipelajari dan dikalkulasi.

dari Karya Seni ke Souvenir

Barang-barang yang biasa dipakai dalam hidup, dengan mudah dicetak menggunakan printer ini: cangkir kopi, dashboard mobil, keyboard, stang motor, dll.

Purwarupa (prototype) sebuah produk, bisa diskala. Jika kamu memiliki file siap-cetak yang cocok dengan printer, yang sekarang banyak beredar dan bisa di-download, kamu memperbesar atau memperkecil berdasarkan ukuran sesungguhnya dari barang yang akan ditiru. Membuat mobil sebesar jempol jari namun persis aslinya, bisa jadi. Rumah juga bisa dicetak, sekitar 20 jam. Mencetak miniatur menara Eiffel berbahan logam ataupun plastik, bisa saja diwujudkan dengan mudah.

Portable, Masalah Baru

Printer 3D rata-rata portable, bisa diangkut ke mana-mana. Sudah ada sekitar 30-an type printer 3D, dengan harga mulai US$ 1.299  Type AW3D XL, bisa dibawa pulang dengan harga US$ 2.295, punya volume 17.75 x 18 x 21 inch. Masih kalah lebar dengan TV flat. Presisi mencapai 0.04 milimeter.

Penjualan publik diikuti pula kemudahan mengakses file-file publik yang siap-pakai untuk mencetak barang-barang keperluan, menggunakan printer 3D. Apapun yang sudah di-share di internet berarti mungkin diakses siapapun. File-file untuk cetak 3d, sudah banyak yang terang-terangan “open source“, orang lain boleh memodifikasi file yang dibagikan.

Ini akan menjadi masalah baru pula.

Mencetak Pistol dari Rumah

Konsekuensi yang kelak terjadi, menurut sejumlah spekulasi, yang paling mengkhawatirkan adalah berubahnya peraturan kepemilikan dan pengawasan pemakaian senjata. Sebuah pistol rakitan dari plastik yang memakai peluru sungguhan, seperti di film “In the Line of Fire“, bisa dicetak. Orang bisa mempersenjatai diri dengan mudah. Kalau misalnya seorang pakar senjata dan desainer meluncurkan senjata “baru”, bisa jadi senjata itu tidak dikenal di database senjata kepolisian dan militer.

Apa jadinya jika masyarakat dipenuhi senjata dan peluru yang belum dikenal? Tentu proses penyidikan dan forensik lebih lama. Bisa jadi, negara-negara akan meniru sikap paranoia Amerika di film Iron Man saat tahu ada orang sipil yang bisa mempersenjatai-diri. Negara yang terancam atas kehadiran teknologi baru. Negara yang akan menyita dan mengatur-ulang kekerasan, atas nama keamanan nasional. Negara (merasa) dalam keadaan bahaya.

Mengapa Beredar Bebas?

Sebagai catatan, sekarang ini tutorial membuat senjata memang beredar bebas di internet, dari yang biasa sampai yang mematikan. Jika kamu mencari user “855h0le” di YouTube, akan menghasilkan tutorial cara membuat berbagai macam senjata genggam (hand gun) tiruan, secara manual. Video ini bisa diakses orang Indonesia, luput dari sensor negara yang tampaknya lebih suka ribut men-sensor pornografi dan rasisme.

Selama ini, sistem hukum Indonesia masih cenderung menerapkan “hukuman” dan sistem “pembuktian terbalik”, belum begitu concern terhadap pencegahan cybercrime (kejahatan berbasis teknologi internet).

Pemakaian printer 3d, dalam sebuah demo video, sudah bisa mencetak pistol plastik yang bisa melewati pendeteksi logam, tanpa terlacak. Tentang pengaturan hukum dan kebijakan pemakaian printer 3D, tentu akan menjadi urusan negara, termasuk Indonesia.

Singkatnya, kecanggihan teknologi justru akan menuntun negara kepada surveillance (pemantauan), censorship (sensor), bahkan pemantauan privacy (rahasia pribadi).

Paradoks Kebebasan dan Sistem Hukum

Paradoks terjadi: kebebasan informasi dan perdagangan bebas menemukan titik-balik, menjadi pembatasan informasi dan pengawasan peredaran barang dan privacy.

Sebuah sistem pencegahan, bisa jadi sistem itu belum sempurna atau bahkan dimanipulasi. Sistem hukum berubah menjadi “mitos” atau “kebenaran matematis” yang hanya diketahui cara-kerjanya oleh negara dan aparat hukum.

Mungkin kamu ingat film “Minority Report” yang menyajikan kondisi dystopia, dunia yang sudah tidak tampak lagi seperti sekarang, di mana sebuah kota bisa menekan tingkat kejahatan sampai 600%. Kota itu menerapkan system Pre-Cogs (pre-cognition) yang bisa mencegah kejahatan yang akan terjadi. Jika Pre-Cogs mengkalkulasi akan terjadi kejahatan, segera tim pencegah mendatangi lokasi, dan membacakan perintah, “Anda ditangkap atas kejahatan yang akan terjadi di masa depan”. Suatu ketika, terjadi intrik. Lamar, sang pengurus Pre-Cogs, memanipulasi “refleksi” komputernya, sehingga Pre-Cogs menutupi kebusukan Lamar, sampai menghasilkan keputusan salah, menangkap John. Di akhir cerita, John menyingkap konspirasi kesalahan ini, dan berbicara saat Lamar menodongnya, “Kau lihat dilemma-nya, kan? Jika kamu tidak membunuhku, mesin Pre-Cogs akan salah dan divisi Pra-Kejahatan selesai. Jika kamu membunuhku, kamu bersalah, namun itu membuktikan sistemnya bekerja. Pre-Cogs terbukti benar. Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

Kecanggihan printer 3D, membawa banyak konsekuensi. Karya seni bisa di-skala dan “diturunkan” menjadi souvenir piknik. Orang bisa membikin duplikat patung Raphael seperti menduplikat kunci. Jika buruk, bisa dibuang, seperti melemparkan hasil-cetak makalah ke tong sampah. Bedanya: hasil cetak printer 3D bukanlah kertas. Pikirkan, betapa nanti “sampah” akan menjadi polemik baru. Suku cadang mobil dan industri manufaktur, akan berperang melawan kebebasan ini. Sipil bisa lebih mudah mempersenjatai-diri. Bayangkan sendiri, apa yang akan terjadi.

Amerika membiarkan printer 3d beredar, membiarkan YouTube tidak mensensor cara membuat pistol, untuk memperkenalkan konsep baru “musuh negara”.

Sekarang, musuh negara bukan lagi negara lain, mereka tidak ada di peta, memperkenalkan dunia yang tidak lagi transparan, tidak gampang lagi “membedakan”. Dunia dalam bayang-bayang teknologi canggih.

Teknologi tidak pernah berada dalam baik atau buruk, namun pemakaian dan pengawasannya yang bisa memasuki baik-buruk.

Negara sudah semestinya memikirkan konsekuensi yang terjadi dalam penggunaan teknologi, tanpa monopoli dan manipulasi, memberikan rasa aman menjalani hidup sehari-hari. Negara yang dibutuhkan bukanlah negara yang mengidap paranoia, yang membuat rakyatnya ketakutan menghadapi ekses negatif penggunaan teknologi canggih.

Jika kelak pistol dan apapun mudah dicetak publik, seberapa tingkat rasa aman yang bisa diberikan negara kepada rakyat? [dm]

What do you think?