in

Tidak Harus Mengingat Detail Buku

Pengalaman, lebih penting daripada detail.

Tergantung, buku model apa. Memahami dan mendapatkan pengalaman berharga dari buku, kadang lebih penting daripada harus mengingat detail buku.

Seorang kawan mengeluh kepada saya, “Setiap membaca buku, saya lupa isinya. Tidak ada satu kalimatpun yang bisa saya kutip.”.

Pernah mendengarkan pernyataan seperti itu?

Saya berpikir, “Siapa yang mengharuskanmu mengingat kalimat dalam buku?”. Mungkin sekolah sering menuntut hafalan, mungkin pula ia terlalu sering mendengar kehebatan orang lain yang diukur dari seberapa tepat dan seberapa ingat dalam mengutip. Apa yang bisa kamu hafal? Apa yang bisa kamu ingat? Tugas menghafal. Memori. Tepatnya, memori jangka-panjang (long-term memory) sering menjadi masalah, dalam mengingat detail dan mengutip. Tidak semua bisa, tidak semua orang harus.

Tidak setiap buku harus diperlakukan dengan “model mental” yang sama.

Ada seorang kawan yang sangat pelan sekali dalam membaca. Ia menikmati halaman demi halaman, ia menikmati “pengalaman selama membaca”. Setelah buku ditutup, ia tidak ingat: detail, nama-nama, dialog, dll. Ada juga seorang kawan yang sangat “menikmati” puisi. Dia tidak bisa menulis puisi, ia tidak tahu dunia puisi. Ia hanya punya kriteria “nikmat” dan “tidak nikmat”. Bahkan ia tidak bisa mengartikulasikan (mengungkapkan gagasan) puisi.

Ia seperti menonton film. Enjoy #selama menonton, tanpa ada mau dibebani tuntutan untuk menceritakan-ulang kepada orang lain. Ia membaca untuk dirinya sendiri.

Itu sebabnya, ia perlu (harus selalu) membuka-kembali buku yang pernah dibacanya. Ini terjadi, terutama, pada buku fiksi dan buku kode “R” (referensi).

Tidak setiap buku harus diingat.

Saya pernah menantang kawan saya, yang suka sekali Sherlock Holmes versi novel, untuk menonton film seri “Sherlock Holmes” (dari Season 1 sampai Season 4), yang dibintangi Benedict Cumberbatch. Ia berhadapan dengan Sherlock Holmes yang sama sekali berbeda dari versi novel. Ia bilang, “Serial ini bertentangan-dengan versi aslinya,” padahal yang senyatanya terjadi, serial itu hanya terinspirasi dari versi novel.

Jelas keduanya sama sekali berbeda. Di novelnya belum ada teknologi canggih, sedangkan di serial itu sudah ada iPhone, kereta bawah-tanah (subway), dan plot maju-mundur. Ia tidak bisa mengikuti dialog filmnya yang sangat cepat, singkat, dan padat.

Perlu rewind beberapa kali, tidak jarang menonton-ulang, sampai mengerti alur ceritanya. Singkatnya, mengingat detail pada film seri “Sherlock Holmes” itu susah.

Ia berhadapan dengan “kesulitan mengingat”. Seperti kebanyakan orang.

Namun yang menyenangkan, di balik lupa terhadap detail, ia mengerti “cara Sherlock Holmes berpikir”. Ia mendapatkan pelajaran berharga, yang kelak diterapkan dalam hidupnya. Ini yang lebih berharga daripada sekadar mengingat kalimat demi kalimat dalam novel atau film seri Sherlock Holmes.

Setiap menghadapi fakta-fakta yang membingungkan ia selalu kembali pada metodologi investigasi a la film seri “Sherlock Holmes”.

Ada apa di balik jejaring fakta ini? Apa kemungkinan yang terjadi setelah ini? Bagaimana saya mendeduksi fakta-fakta yang sekilas nampak tak-berhubungan ini? Bagaimana “kerajaan pikiran” saya mengingat-dan-memisahkan fakta?

Bawa saya ke London, saya hafal betul seluk-beluk London. Dan pembunuhnya adalah..

Ini artinya, jikalau ia tidak bisa mengingat quote dari apa yang ia baca (atau tonton), ia mendapatkan pelajaran berharga dari “buku” tersebut, yaitu “pelajaran berpikir”.

The point is.. perhatikan, apa model buku yang sedang Anda baca. Pahami dulu, sebelum mengerti, sebelum mengingat detailnya. Baca dan baca lagi.

Dan ini pertanyaan selama membaca.

  • Apakah saya berhasil menemukan metode yang dipakai penulisnya dalam menjelaskan suatu masalah? Ini akan menjadi “jalan” untuk memasuki pikiran penulisnya.
  • Apakah saya berhasil membuat skema pemikiran? Biasanya sambil membaca, saya “menggambar” skema. Tidak perlu menuliskan detailnya. Tidak harus membuat ringkasan. Kalau sudah menjadi skema, saya “memotret” dalam pikiran agar bisa mengingat skema ini.
  • Detail bisa diingat dengan membuat pertanyaan demi pertanyaan: Bagaimana asalnya ia bisa berpendapat begini? Apa kata-kunci yang dipakai dalam penjelasan ini? Apakah dalam skema ini, saya bisa membuat pertanyaan dan jawabannya sekaligus?
  • Membaca-ulang akan meng-upgrade pemahaman terhadap masalah. Apa yang belum saya ketahui dari penjelasan ini? Apa yang belum dibahas di sini?

Detail itu penting, namun kepentingannya bukan untuk menghafal. Anda perlu memahami terlebih dahulu, bukan menghafal pengertian dan detail.

Koneksi akan lebih kuat jika Anda melakukan “cross-reference” (rujukan-silang), dari buku atau literatur lain. Koneksi berarti mendialogkan beberapa literatur dan Anda mendengarkan percakapan mereka. Ini bisa bikin cara mengingat menjadi lebih kuat.

Pertanyaan pertama, setiap kali membaca buku, bukanlah bagaimana “saya” mengingat buku itu, tetapi, “pengalaman” macam apa yang saya dapatkan dari buku ini, agar hidup saya menjadi lebih baik.

Saya sudah menuliskan bagaimana cara membaca buku dan tetap ingat isinya.

Kawan saya tidak bisa mengingat detail dan dialog di film itu, namun mendapatkan pengalaman berharga: cara berpikir dan mengatasi masalah. Itu sudah keren sekali untuk hidupnya. [dm]

What do you think?