in

Miskonsepsi Sejarah, Mitos, dan Media Sosial

Dari manakah miskonsepsi sejarah berasal? Bagaimana “mitos” itu bekerja dan dialami manusia modern?

Saat masih kecil, saya suka mendengarkan dongeng sebelum tidur. Saya menjadi penyuka komik, novel, menonton televisi hitam-putih yang membentuk kesan berwarna di pikiran, begitu pula film extra-show, yang kebanyakan berisi film mandarin dan Hollywood.

Saat sudah mengenal genealogy, saya mulai mempertanyakan apa yang sudah saya percaya. Bagaimana “hal ini” terbentuk dan sampai kepada saya? Faktor apa saja yang terlibat? Apa saja yang berubah dan akhirnya mengarah menjadi “begini”?

Cerita rakyat tuturan (folktale) sering dianggap sebagai “fakta” jika tidak terlalu terkait pada elemen supernatural, atau jika orang menemukan banyak kesamaan nama yang dikaitkan dengan cerita itu. Orang percaya, 27 abad lalu terjadi perang Troya, berkembang pemakaian istilah “trojan horse” (kuda troya), namun setelah diteliti para sejarahwan, perang Troya tidak pernah terjadi dan tidak ada bukti sejarahnya. British Museum dan BBC rajin menyingkap inakurasi data tentang sejarah yang terlanjur dipercaya kebanyakan orang. Termasuk ketika mengatakan bahwa cerita banjir besar di masa Nuh itu fiktif belaka.

Tidak hanya di wilayah sejarah dan agama yang menyejarah, miskonsepsi terjadi pula di ranah ilmu pengetahuan. Teori evolusi, misalnya. Teori evolusi sebenarnya bukan mempelajari “asal” (origin) spesies bernama manusia, melainkan mempelajari cara dan proses bertahan hidup manusia. Evolusi, selama ini dianggap teori dalam krisis, tidak lengkap, dan cacat (karena memperkenalkan mata rantai hilang, missing link). Semua sains pasti “tidak selesai”, berlanjut, dan sedang dikembangkan, sebab sains bukan dogma.

Kenyataannya, banyak mitos yang dianggap fakta sejarah. Manusia punya kecenderungan mempercayai sesuatu yang “masuk akal”. Cerita yang tak masuk akal selalu dicari sisi masuk-akalnya. Tidak jarang, mitos diadili dengan cara seperti itu, apalagi pada masa di mana dunia belum memiliki kecepatan penyebaran informasi seperti sekarang.

Ledakan literatur dunia, terjadi saat China memperkenalkan pemakaian uang kertas (fiat), sebagaimana laporan perjalanan Marco Polo, di mana pemakaian uang-kertas ini dilakukan dengan pemaksaan. Titik berikutnya, setelah mesin cetak Guttenberg memungkinkan bacaan kertas disebarkan ke seluruh dunia. Injil dicetak dari mesin temuan orang Yahudi ini.

Perlu dicatat, pergeseran media penceritaan mitos mulai beralih dari “dongeng sebelum tidur” menjadi “kertas”. Sastra dan pengetahuan berkembang mengangkut buku dan menggandakannya.

Mitos, menjadi berwajah lain. Lokalitas dongeng, menyebar cepat. Demikian pula, isu “human right” (hak asasi manusia) di Perancis (ini isu lokal) serta dibukanya terusan Suez, kemudian mempertemukan Barat dan Timur tanpa perantara kebudayaan. Imperialisme, kolonialisme, membawa ceritanya sendiri. Tidak mengherankan, mitos menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara lokalitas dengan universitas.

Mitos tetap terjadi. Terjadinya miskonsepsi dalam sejarah sebenarnya tidak terlepas dari bagaimana orang “mengalami” dan “terlibat” dengan mitos.

Suatu kali, saya bertemu seorang petani, yang menolak membuat mie instan. Dia bercerita tentang mimpinya bertemu Nawang Wulan, bidadari yang menjaga penghematan padi di bumi. Nawang Wulan yang cantik, pintar memasak, mengajarinya untuk tidak menyiakan sebutir padi, sebab padi bisa menangis kalau disia-siakan. Menanam padi, bisa mengundang burung-burung menyanyi di masa panen, matahari bersinar indah, dan bau air tawar serta asap dari tungku menanak nasi, bisa menciptakan mendung. Petani ini tidak membuatkan mie instan, padahal saya suka mie instan. Dia memaksa saya dengan segala cara untuk menyukai padi.

Saya tak peduli kebenaran cerita Nawang Wulan, sebab bagaimana mitos bekerja dan dialami Si Petani ini lebih menarik.

Mitos memiliki fungsi untuk menjelaskan terjadinya sesuatu (tempat, tokoh, dan istilah). Mitos adalah cerita tentang proses. Mitos menjelaskan sifat manusia, fenomena alam (terutama yang tak terpecahkan oleh sains), menjelaskan arti di balik ritual agama. Mitos, singkatnya, menjelaskan dan mencatat sejarah dengan nilai. Jadilah mitos yang menyediakan “pandangan dunia (world view), nilai (value), dan gaya hidup (life style)”, kata Clifford Geertz.

Mitos, dalam beberapa hal, sering dianggap memiliki cara kerja yang berkebalikan dari sains. Sebelum fisika menjadi disiplin pengetahuan sekarang, ilmu pengetahuan berwujud sihir (magic), padahal ternyata, sihir adalah cikal bakal pengetahuan medis modern. Sihir merupakan praktek astrologi, ramuan herbal, pembedahan tubuh dan psikologi manusia. Mitos menjelaskan, kalau kamu menggores kulit pohon karet terlalu dalam, hantu di dalam pohon itu akan kesakitan, tak bisa menghasilkan getah karet. Dalam beberapa sisi, cerita tentang “hantu pohon karet” memiliki “fungsi” sama dengan pengetahuan.

Tanpa mitos, dunia menjadi tidak unik. J. Hillman, dalam Revisioning Psychology, menjelaskan, “mitologi adalah psikologi keunikan, sedangkan pikologi adalah mitologi modernitas.” Carl Gustav Jung, mengatakan bahwa psyche secara spontan memproyeksikan mitos (atau memproduksi mimpi, fantasi, dan pengalaman sejalan mitos-mitos kuno), sedangkan Sigmund Freud menganggap ini sebagai “psikomitologi“. Mitos, adalah pertemuan antara manusia dengan mimpinya sendiri.

Sekarang, kita “mengalami” mitos dengan cara lain. Kita sering bilang, “menurut buku …”. Mungkin bukan buku, tetapi pengarang terpercaya, atau sumber terpercaya. Cara bertutur di era internet merubah cara orang bercerita, mengenai dirinya. “Kita berenang di lautan data, dapat diakses dari mana saja,” kata Cascio di buku Get Smarter. Kita sering menggunakan Google, sebagai perwakilan informasi resmi para pemakai internet, menjadi semacam “sarang-lebah pikiran”.

Sebenarnya bukan Google yang menyediakan informasi, dia hanya pengantar untuk memasuki situs lain.

Tantangan menjadi berkurang, petualangan yang melibatkan pengalaman, semakin hilang. Kesempatan untuk mengeksplorasi jangkauan pikiran, mengenali batas ketidakmampuan, berkurang sedikit demi sedikit. Padahal, bercerita membutuhkan landasan “fiksi” yang bebas dan terbebas.

Dan jika kita terus-menerus memanipulasi interaksi sosial kita, kita bisa kehilangan momen tak terbatas cerita yang layak.

Teknologi digital, kita tahu apa yang orang lain pikirkan segera dan dengan demikian mengubah cara kita untuk menyesuaikan mereka. Dunia penuh respon kreatif, penuh reaksi tak-produktif. Namun cara kita mengalami mitos, menjadi semakin kabur. Mitos hanya sebatas cerita, tidak menjadi energi kreatif untuk melakukan perubahan.

Saat media sosial dan website menceritakan adanya fakta-fakta yang merevisi cara kita memandang (sebuah) cerita sejarah, hanya menjadi fakta. Menumpuk, di sarang lebah data bernama internet, atau kotak televisi. Sepertinya, orang semakin tidak mengalami, mereka hanya menikmati. Tidak mempelajari, hanya membuka-diri dan menerima apa saja. Batas fakta dan mitos, sudah semakin kabur saja. Nietzsche berkata, “Tidak ada fakta, yang ada adalah penafsiran.”.

Mitos apa yang kamu alami hari ini? [dm]

What do you think?