in

Musik Perlawanan (Jalan Hidup, Ideologi, dan Kemanusiaan)

Peradaban musik sekarang dijauhkan dari “politik”. Musik perlawanan punya sejarah panjang.

person wearing black dress shirt holding microphone
Musik menjadi jalan perlawanan. (Photo: Pexels)

Tidak sekadar lirik protes, pelakunya melawan sistem dengan ideologi dan politik dengan ragam genre: balada, rock, punk, hip-hop, sampai rap. Kita bisa belajar dari para pelakunya.

Punk: Subkultur Anarkisme

Punk mulanya subkultur dari Inggris, genre musik 1970-an, berarti ideologi sosial-politik. Punk mendapat stigma negatif karena dianggap perusuh, glue sniffer (penghirup lem memabukkan, pengganti bir), atau fashion Mohawk dan sepatu berduri. Punk sebenarnya, lebih suka melakukan apa-apa secara mandiri, swasembada.

Fashion “aneh” di antara anak punk terjadi karena mereka ingin mengaburkan batas antara “idealisme seni” dan “kenyataan hidup”. Misalnya, “idealisme seni” mereka adalah menjaga lingkungan hidup, maka mereka memilih mengenakan aksesoris dari perabotan kayu yang sudah tak terpakai. Aneh bagi orang, namun nilai di balik aksesoris buatan sendiri itu bagus. Permainan musik di atas panggung yang “menyimpang” atau “asing” bagi telinga publik, merupakan keberanian mereka menampilkan kreativitas kelompok. Lirik lagu punk banyak meneriakkan kegelisahan, mengecam politik (fuck politik) dan kemarahan.

 Anarkisme itu “Baik”

Akar sejarah “Anarkisme” (kata ini tidak selalu negatif), berasal dari kegagalan ekonomi zaman Presiden Ronald Reagan (Amerika Serikat) dalam perang Vietnam. Orang tak peduli lagi dengan kebijakan politik, mereka memilih musik. Gelombang awal musik pemberontak (1972-1978), antara lain Sex Pistols dan The Clash dilirik lagi.

Anarkisme adalah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi: negara adalah kediktatoran legal yang harus diakhiri. Punk harus bisa membuat aturan sendiri, menyediakan kebutuhannya sendiri. Anarkisme punk bukanlah anarkisme perusakan. Punk mendistribusikan musiknya sendiri, melakukan jasa piercing (tindik) dan tattoo, membuat distro pakaian sendiri, sebab mereka melawan perilaku konsumtif.

Menghibur, Menebarkan Militansi

Menghibur sekaligus menebarkan militansi, dan menunjukkan realitas berupa penindasan.

Genre musik balada, ada Tari Adinda yang gemar menyatukan kritik dengan lirik lagu kocak, buruh pabrik garmen di Jakarta, anggota Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) dan masuk serikat buruh. Sudah 100-an lagu dia tuliskan, termasuk meluncurkan album “Buruh Kontrak”. Tema buruh melebar menjadi tema ketidakadilan sosial.

Shadia Mansour (24), rapper perempuan asal Inggris berdarah Palestina, memperkenalkan “Musik Intifada”, musik pemberontakan. Dia bermusik sejak umur 5 tahun dan menjadi penyanyi perempuan di jalur hip-hop berbahasa Arab. Keluarganya mendukung-penuh, kecintaannya pada Palestina, membuatnya selalu liburan musim panas 3-4 bulan di Haifa. Dukungan keluarga memang penentu keberhasilan. Sulit bermusik secara kreatif dan melawan, tanpa dukungan keluarga.

Saluran Nasionalisme

Musik dalam sebuah perlawanan, bukan sekadar teknik bermain. Musik adalah saluran nasionalisme. Tidak mungkin melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan jika tanpa rasa kebangsaan tinggi. Melawan penindasan harus terjadi karena kecintaan terhadap negeri. Musik menjadi “perlawanan tanpa kekerasan”. Tidak seperti hip-hop Amerika yang diwarnai konsumerisme, hip-hop Arab adalah perlawanan.

Shadia adalah contoh anak muda yang mengingatkan sejarah dan eksploitas ekonomi melalui YouTube.

Bermusik Sekaligus Berpolitik

LowKey mengikuti “jalan” bermusik untuk satu tujuan: kemanusiaan. Dia menolak “major label” (industri rekaman) bahkan tidak punya akun YouTube. Bermusik untuk kreativitas dan idealisme, sedangkan bekerja mencari uang itu soal lain. LowKey memiliki darah Iraq – Inggris, sering membalut bahunya dengan keffiyeh Palestina.

Peradaban musik sekarang dijauhkan dari politik. LowKey adalah contoh rapper yang berani menantang Amerika dan menelanjangi korporasi penindas dalam lirik lagu, dia tidak menyerang “orang Amerika” melainkan “sistem Amerika”.

LowKey mendirikan “People’s Army” untuk mengkampanyekan hip-hop dan kesadaran kaum muda. Perimbangan baiknya, Lowkey memperlihatkan perkembangan baik di Amerika Latin.

Bukan Sekadar Protes

Musik perlawanan, memilki sejarah panjang. Musik perlawanan berawal dari misi untuk menata-ulang kehidupan sosial politik agar lebih baik, namun harus didasari kecintaan terhadap bangsa. Tanpa rasa kebangsaan, musik perlawanan hanya akan sebatas protes. Itu sebabnya, dibutuhkan integritas musisi dalam “jalan” bermusiknya. Demi kehidupan yang lebih baik. [dm]

What do you think?