in

Perubahan Pola Konsumsi Makanan Global dan Evolusi Orgasme Perempuan

Membincang orgasme, adalah membincang berjalannya kehidupan, dan itu berarti orgasme perempuan.

Diam-diam, tubuh manusia berubah karena perubahan pola konsumsi dan jenis makanan itu. Pelan-pelan pula, kebudayaan berubah dengan cepat. (Photo: ef3)

Agama orgasme: kaum utilitarian memproyeksi kehidupan seks; efisiensi orgasme versus melambatkan orgasme; bagaimana bercinta se-lama mungkin untuk mencapai ledakan ekstase, adalah tujuan sesungguhnya bercinta dan jagat raya.”

[Milan Kundera, dalam Slowness]

Membincang orgasme, adalah membincang berjalannya kehidupan, dan itu berarti orgasme perempuan.

Di channel YouTube, Deepak Chopra menjelaskan, dengan simulasi video, bagaimana proses sperma membuahi sel telur perempuan itu, hanya dalam beberapa detik, memiliki jumlah yang hampir sama dengan jumlah bintang-bintang di satu galaksi. Orgasme, seperti otak manusia, adalah masterpiece tanpa tanding.

Dr. Kristen Mark berteori, bahwa orgasme perempuan berhubungan dengan cara lelaki melakukan adaptasi. Sebagaimana kita tahu, perempuan memiliki satu-satunya organ di tubuhnya yang fungsinya hanya satu: menerima rangsangan nikmat. Organ tubuh itu adalah klitoris. Teori Mark berikutnya: orgasme perempuan berkembang untuk menarik lawan-main. Kalau demikian, maka perempuan sebenarnya tidak membutuhkan lelaki dalam mencapai orgasme (bukan kepuasan), dia bisa menggunakan emosi dan mendominasi lelaki. Jalaluddin Rumi dalam suatu puisinya berkata, “yang dicintai menguasai yang¬†¬†mencintai”. Obyek sebenarnya mendominasi subyek.

Kalau perempuan memakai Facebook di saat bangun tidur, bisa membuat lelakinya marah dan cemburu. Perempuan, dengan demikian, memang makhluk hermaprodhyte spiritual, namun membutuhkan peran lelaki untuk menjalankan ethos jagat raya.

Pengetahuan perempuan atas tubuhnya sendiri, membentuk¬† terjadinya kebudayaan dan kepemimpinan spiritual pada agama kuno. Manusia berlatih menghadapi kematian, dengan mengalami¬†“kematian-kecil”¬†(little death) yang terjadi saat orgasme, ketika itu, jantung berhenti beberapa detik, kesadaran mengalami ambang: ada dan tiada, sendiri dan berdua, dalam beberapa detik.

Namun jagat raya menyejarah dengan caranya sendiri, begitu pula tubuh manusia.

Bukti ilmiah, yang ditemukan John Hawks, antropolog dari University of Wisconsin, mengatakan, “1000¬† tahun yang lalu, tak seorangpun bermata biru,” karena gen OCA2, yang menyebabkan terjadinya mata biru, belum terbentuk. Kita berbeda dari keadaan 400 generasi manusia sebelumnya. Cerita tentang Dewa Indera bermata biru, belum ada sebelumnya.

Tidak semua kebudayaan memiliki kecepatan sama. Afrika mengalami mutasi lebih lambat daripada Amerika. Afrika menggunakan metode beradaptasi dan bertahan hidup terkait cuaca dan makanan, jauh lebih stabil, daripada orang-orang di belahan Asia, Eropa, dan Amerika, yang lebih sering mal-adapted dalam survive menghadapi lingkungannya.

Selain lingkungan yang dipengaruhi perubahan cuaca dan kondisi geografis, perubahan anatomi tubuh manusia juga dipengaruhi makanan.

Orgasme, bukan sesuatu sekali-jadi. Orgasme melibatkan bentukan (emosi, pikiran), tubuh (bawaan), dan tubuh ini dibentuk dari makanan, berubah sedikit demi sedikit karena pola konsumsi. Jika kamu download video porno, atau menelisik literatur klasik, lukisan, dan relief, cobalah melihat terjadinya “penyimpangan” atau perubahan.

Video porno sekarang, berhasil memperkenalkan squirter, gang bang, multiorgasm, publisitas permainan vulgar, termasuk pemaksaan lelaki yang mengakibatkan penyimpangan orgasme perempuan. Kita tahu, di relief candi dan di Serat Centhini (ensiklopedi Jawa berbentuk novel) misalnya, sudah memperkenalkan adegan threesome (main bertiga), namun beberapa temuan video menunjukkan adanya hal-hal baru yang belum disentuh wacana seksualitas manusia modern.

Para ahli nutrisi menceritakan, bagaimana keadaan makanan dapat mempengaruhi vitalitas dan kualitas orgasme perempuan. Orgasme dibentuk dari pemompaan darah dan pemicu detak jantung, sekaligus ketahanan emosi dan pikiran. Makanan berperan besar. Konsumsi sayuran, kacang-kacangan, minyak olive, dll. disertai stamina sehat, memungkinan meningkatnya kualitas orgasme. Sayangnya, makanan yang dikonsumsi publik, kebanyakan sudah tidak se-sehat makanan di tahun 1950-an. Semakin ke sekarang, konsumsi makanan semakin instant, banyak zat addictive, dan label-label yang tidak diketahui seperti apa sesungguhnya pembuatannya. Itu mempengaruhi kualitas orgasme perempuan, mempengaruhi pula masalah-masalah yang ada di sekitar orgasme perempuan.

Diam-diam, tubuh manusia berubah karena perubahan pola konsumsi dan jenis makanan itu. Pelan-pelan pula, kebudayaan berubah dengan cepat.

Apakah susu dan sereal bagus untuk tubuh? Apakah tanaman yang dibesarkan dengan pupuk konsentrat tinggi masih bagus bagi tubuh? Apakah fast food lezat itu menyehatkan? Apakah seorang cucu dan kakeknya mengkonsumsi makanan sama? Apakah tubuh perempuan generasi sekarang berubah sejalan dengan orgasme perempuan yang berubah pula? Apakah cara kita mencapai orgasme sudah berbeda dari cara orang kuno mencapai orgasme?

Sudahkah orgasme menjadi bagian dari makanan dan kehidupan sosial? [dm]

What do you think?