in

Ramah Menjadi Hal Mewah [di Media Sosial]

Ingin melihat orang ramah? Harus ramah? Bukalah media sosial. Ramah menjadi sesuatu yang mewah di media sosial.

Apakah keramahan itu suatu kemewahan?

Begitu mewahnya keramahan, sampai semua orang “disarankan” harus ramah, “sebaiknya” ramah, dan diberi peraturan “harus” ramah, dan seterusnya.

Kemewahan hanya layak dikonsumsi kalau kita berlebihan, bukan dengan “uang terakhir” yang kita miliki.

Keramahan yang dipaksakan, untuk diri-sendiri ataupun orang lain, kadang membawa kepada sikap basa-basi, menutupi kejujuran dan keterbukaan, bahkan memandang negatif pada sarkasme.

Kebanyakan orang, tidak berada dalam kondisi berlebihan, tidak punya cukup sumber daya untuk bersikap ramah. Orang mengalami hari yang berat, hujan deras, dunia yang berubah dengan cepat, pimpinan yang marah melulu, dan rekening menipis, atau.. berada beberapa jam sebelum deadline.

Meskipun demikian, bukankah kebutuhan harus terpenuhi, setiap emosi berada [tepat] di tempatnya sebelum kita ramah? Apakah harus memiliki sumber daya berlebihan, rasa percaya yang cukup atas masa depan, dan tercukupi hal lainnya, sebelum kita bisa menemukan ruang untuk mengulurkan tangan kepada orang lain?

Keramahan tidak membutuhkan banyak syarat. Senyum dan sapa adalah hal ramah yang sangat sederhana, lebih mudah mencairkan suasana, daripada wajah yang menegangkan. Bukan berarti, kamu harus tersenyum untuk menutupi rasa duka semata.

Kalau tersenyum itu sederhana dan lebih baik, bukan berarti kamu harus memaksakan orang lain untuk tersenyum. Untuk menjawab salam. Untuk menjempol status kamu. Untuk berkomentar yang baik-baik saja.

Kadang, orang tidak memiliki sumber-daya lebih untuk bersikap ramah.

What do you think?