in

Selfie: Strategi Mengubah Dunia dengan Foto Wajah

Sejak kolonialisme, era media sosial, sampai sekarang, Orang ingin mengubah dunia melalui foto wajah.

Setiap membuka buku sejarah, sering teramati foto wajah. Orang saling-kenal dari foto wajah. Kebudayaan dicitrakan dari wajah (termasuk pakaian, ruang). Keterbatasan kehadiran seseorang dapat diwakili dari foto ini. Lihatlah bagaimana orang-orang di zaman penjajahan Belanda berpotret bersama. Ada kesan, “sesuatu” di sana. Kebudayaan Indonesia, dicitrakan oleh Belanda dengan kehadiran foto-foto ini.

Membaca Foto Kartini

Pernahkah kamu mengamati foto Kartini saat berdiri di samping suaminya?

Ada yang tak-lazim. Kartini, tidak seperti perempuan lain, berdiri di sebelah kanan suaminya. Dia mengirimkan semacam pesan: pertanyakan norma. Orang Jawa, setelah muncul kelas priyayi, punya banyak kode etik, untuk menetapkan citraan-baru atas masyarakat Jawa. Kartini, tidak mudah menerimanya. Dia lebih suka dipanggil “Kartini” saja, dia berani berada di kanan suaminya saat dipotret, dia berani tidur di kamarnya sendiri, tepat di depan kamar suaminya dan selir-selirnya. Kartini tahan melihat dan mendengar apapun dari kamar di seberang sana, sambil terus menulis dan mengaji.

Belanda, dengan teknologi fotografi, jauh sebelum Instagram dan Facebook ada, berhasil membuat citraan tentang Jawa, membuat mitos dan kategori kecantikan-personal dengan kebaya, jarik, dan perempuan Jawa yang bisa memikat lelaki dengan kehalusan sikapnya.

Lain di foto, lain di kenyataan. Perempuan Jawa, dalam literatur poskolonial, digambarkan tidak terlalu berperan, secara politik dan ritual. Apalagi, kaum akademisi, terbiasa mempelajari kesejarahan perempuan berdasarkan literatur tertulis, atas alasan validitas dan otentisitas. Hampir selalu, setiap membaca kesejarahan perempuan (bukan perempuan dalam sejarah) Jawa, acuannya adalah asumsi tentang perempuan berdasarkan literatur terdokumentasi.

Salah satu bentuk dokumentasi itu adalah fotografi.

Subkultur Bentukan Media Sosial

Foto, memiliki kekuatannya sendiri, terutama foto diri. Media sosial, memiliki fungsi bawaan yang mirip alat propaganda. Orang mudah berbagi sesuatu dengan smartphone, memberitakan, mencitrakan sesuatu, dan menjalankan perubahan politik. Sejak smartphone dengan fitur bermedia sosial ramai diproduksi, termasuk murahnya layanan berinternet, budaya “selfie” berlangsung.

Selfie adalah memotret diri dengan smartphone untuk di-share ke media sosial. Facebook seorang perempuan, sering ada perubahan status : “Agnes mengganti foto profilnya xx menit yang lalu”. Kalau lelaki tertarik, Joni (misalnya) mengirimkan permintaan pertemanan kepada Agnes, Dian, Siti, dll.

“Saya” dalam Semua Peristiwa

Ada “aku” di semua foto. Selfie menghadirkan “diri” di semua aktivitas, tanpa menimbang betapa menariknya adegan atau peristiwa dalam foto itu. Representasi “diri” yang paling umum itu adalah foto wajah.

Wajahku selalu baru, beritaku belum tentu baru.

Begitulah, semua orang bebas berbagi foto di mana dia makan, apa yang dia tonton, bagaimana perasaannya, apa yang sedang dia baca, dan berkomentar atau menyukai tanpa henti.

Singkatnya, nilai-berita yang terjadi pada budaya selfie adalah: siapa sedang melakukan apa. Sudut-pandang “siapa” yang melakukan, lebih utama daripada “apa” yang terjadi. Cobalah tengok beranda, bagaimana teman kamu memasang foto. Ada banyak “saya sedang …” di sana. Saya sedang makan bakso, saya sedang jalan-jalan di mal, saya sedang bersama artis, saya sedang berganti kostum. Masih banyak lainnya. “Saya” ada di semua peristiwa, tidak peduli peristiwa itu sudah biasa bagi orang lain.

Perubahan Penyebaran Foto di Internet

Selfie, menaikkan jumlah foto yang diunggah di media sosial. Sampai sekarang, Facebook masih memegang “rekor” hosting (penampung) image (gambar) berupa foto, terbesar sepanjang sejarah. Library Congress, Picasa Web, Flickr, Twitter, Google, masih berada di bawah Facebook.

Selfie, merubah peta penyebaran foto di media sosial. Sekarang pula, fasilitas berkirim-tukar foto, menjadi fitur smartphone, sekaligus fitur media sosial.

Selfie dan Revolusi Smartphone

Smartphone dilengkapi dengan kamera berkelas VGA sampai 40 megapiksel, jepretan dari depan saja sampai kemampuan rear-front (depan-belakang). Belum 10 tahun lalu, orang menggunakan photo booth, kotakan di swalayan untuk foto bersama dengan bantuan cermin, sekarang fungsi ini sudah dimampatkan menjadi sebuah ponsel. Ponsel berkelas high-end semacam Blackberry Z10, Nokia Lumia, Sony Experia, dan Android, dikejar pembeli karena fitur kamera yang bikin orang eksis di media sosial.

Munculnya aplikasi di Google Play, untuk penyuntingan foto siap-pakai, semakin mendorong pemakai ponsel berkamera untuk memotret-diri, sunting, lalu upload ke Instagram atau Facebook. Aplikasi sunting-foto siap-pakai juga disediakan sebagai layanan online. Kamu tentu ingat bagaimana aplikasi efek foto, pernah ngehit di Facebook.

Efek Instan: Selamat Tinggal, Photoshop

Kondisi ini mendesak pemakaian software konvensional yang butuh syarat banyak dan sedikit kemampuan mendesain, seperti: Photoshop. Orang justru balik bertanya, “Untuk apa menggunakan Photoshop?”. Orang kembali kepada kebutuhan menyunting foto. Fasilitas untuk mencerahkan, memotong sesuai ukuran foto profil Facebook, membuat efek grayscale, vintage, retro, dan kolase. Kalau bisa dilakukan dengan aplikasi, untuk apa Photoshop?

Fabrikasi Desain

Kualitas desain, jika menggunakan “jasa” aplikasi siap-pakai, memang bagus, namun akan berkesan memiliki efek sama. Fabrikasi desain di mana-mana.  Penggunaan efek Instagram, sempat booming, dikonversi fungsinya di aplikasi sunting-foto siap-pakai. Efek foto-diri menjadi hampir sama di mana-mana.

Selfie, budaya memotret-diri, merupakan subkultur yang rumit dipetakan. Selfie tidak identik dengan narsisme.

Selfie tidak hanya mengubah strategi teknologi terkait media sosial. Sejak ada selfie, Facebook harus menaikkan kapasitas dan unjuk-kerja (performance), Instagram mendapatkan branding equity karena efek-efek foto siap-pakai, smartphone berlomba memperlengkap fitur. Selfie menghadirkan “saya” sebagai nilai-berita di semua peristiwa. Berguna atau tidak terlalu berguna, eksistensi harus dinyatakan dalam bentuk wajah “saya”.

Keakuan ini pula yang tampaknya mendorong para calon legislatif untuk ngotot memasang wajahnya di pamflet dan baliho, meskipun mereka tahu bahwa kelak di kartu pemungutan suara dalam Pemilu 2014, tidak ada foto wajah mereka. Namun, adakah “mereka” dalam setiap aktivitas bersama rakyat?

Orang lebih sering melihat foto wajah, berkostum dengan warna mirip bendera parpolnya masing-masing, serta slogan sebaris dua baris untuk dipilih.

Selfie di media sosial, bisa merubah banyak hal, namun, apakah selfie yang dilakukan para caleg di Pemilu 2014 bisa merubah banyak hal?

Sudahkah kamu selfie di media sosial hari ini? [dm]

What do you think?