in

Siklus Hujan dan Ritual Manusia Modern

Apa pengaruh siklus hujan yang tak-menentu terhadap hubungan sosial manusia modern?

Hujan bukan soal sederhana. Ada siklus air hujan dari langit, melesap ke tanah, air mengalir ke laut, lalu menguap dan kembali ke langit. Volume air di bumi, menurut para ilmuwan, bisa dihitung, dengan hasil tetap. Siklus, demikian air menjaga dirinya dan alam ini seimbang.

Ian Palmer dari British Broadcast Channel (BBC), oceanolog (ahli kelautan) dari Inggris,, menentang pendapat klasik tentang terjadinya banjir besar masa Nabi Nuh, dalam dokumentasi pengetahuan “Noah and the Great Flood“.

Menurutnya, terjadinya banjir di seluruh permukaan bumi hanya mungkin terjadi karena 3 (tiga) faktor: 1. Meteor sebesar benua Brazil menabrak bumi dan mengeluarkan seluruh kandungan air di bumi. Ini tidak mungkin, karena seluruh makhluk hidup di bumi akan mati, termasuk bakteri. Jika banjir di seluruh permukaan bumi terjadi, seluruh “air tanah”, naik dan menggenangi daratan, namun, tidak ada satu penyebab alam yang memungkinkan ini terjadi. Sedangkan pendapat yang menyatakan jika seluruh es di kutub bumi mencair maka bumi tergenang banjir, padahal volume air di kutub hanya bisa menggenangi seperenam daratan di bumi, atau seluas benua Rusia.

Tak soal bagaimana kontroversi cerita banjir di masa Nuh, yang terpenting adalah: cerita ini mengilhami pelacakan-ulang arti siklus air di bumi terhadap keberagamaan dan hubungan sosial.

Siklus hujan sulit diprediksi, sekarang ini. Biasanya, hujan bulan Juni sudah terbilang sangat bersabar, seperti kutipan puisi Sapardi Joko Damono : “Tiada yang lebih sabar selain hujan bulan Juni”. Betapa langit bersabar. Biasanya April sudah turun hujan, tertunda sampai Juni. Tahun 2012, hujan baru di Oktober.

Itupun tak merata.

Hujan sejak zaman purba, memberi pola-musim, untuk menentukan kapan cocok-tanam dimulai, ritual menjelang dan sesudah panen raya, musik apa yang dimainkan di bawah bulan, termasuk ritual pernikahan kapan sepasang kekasih . Hujan menentukan kemakmuran, memurnikan yang kotor, membasuh diri Sang Hujan dengan dirinya sendiri.

Hujan pada masa dulu terkait dengan ritual merayakan kemakmuran di bumi, pada saat manusia dalam tahap pemikiran mitologi, menurut Van Peursen, dalam Strategi Kebudayaan di mana manusia berusaha menaklukkan keganasan alam dengan cara melakukan ritual, persembahan, memperhatikan siklus. Air menjadi elemen penting yang menjaga kehidupan dan keberlangsungan hubungan sosial.

Sekarang, di zaman modern,  air sudah menjadi sebuah “fungsi” terkait kesehatan tubuh manusia. Air menjadi “mata uang” yang bisa dikuasai layaknya informasi. Air diberi label di mana-mana, air berarti daya beli, air berarti perut gunung dan struktur tanah yang digoyahkan.

Hujan yang berubah siklus,, mengubah pula janji-temu kita. Ritual-ritual sosial yang biasanya lancar mulai berubah jadwal. Manusia dulu menjaga air tanah, menari di bawah hujan, dan bisa memastikan kapan mereka berkumpul di bawah purnama.

Seni dan ritual, ritual dan hubungan sosial, dulu belum dipisahkan garis merah bernama keentahan. Dulu kita beda darah, namun satu tanah, kita berlainan kesempatan namun bertetangga di bawah bintang-bintang. Sekarang siklus keseimbangan itu sudah berubah, seiring siklus hujan yang berubah.

Mengembalikan siklus normal hujan dengan satu cara, bukan lewat doa atau lobi birokrasi pula.

Siklus hujan terjaga hanya karena kepatuhan pada ritual: bahwa bumi ini hidup, tanah dan air ini hidup, mereka akan marah dengan diamnya, mereka akan memberikan buah indah dan matahari indah, hanya jika kita menjaganya.

Mari memulai ritual itu kembali, bertetangga di bawah bulan, menjaga kembali tanah dan air ini.

Hujan sekarang bisa menjadi “alasan” gagalnya pertemuan, pembatalan janji, menunda acara, dan keterlambatan. Kadang menjadi bentuk musibah karena siklusnya tak terjaga.

Jika manusia purba dengan alam berbeda dengan alam modern menjadikannya medan ritual suci dan perayaan kesuburan, manusia modern masih bisa menormalkan siklus hujan dengan menjaga lingkungan hidup, agar hujan kembali menjadi bentuk “perkawinan” langit dan bumi. Jika manusia tidak memperhatikan sinergi penjagaan lingkungan hidup maka teknologi canggih hanya bisa memprediksi, tanpa bisa menormalkan kembali siklus hujan.

Bagaimana cara kamu menghadapi siklus hujan? m/

What do you think?