in

Smartphone sebagai Ancaman Baru Jurnalisme

Smartphone menjadi mesin pembuat berita, yang sedang mengubah peta jurnalisme dunia.

Smartphone merupakan ponsel dengan operating system bawaan (built-in) yang memiliki kemampuan dan konektivitas layaknya komputer. Smartphone bukan sekadar telepon, lebih pas disebut komputer kecil, terhubung internet, dan komunikasi tak hanya berbentuk “bicara”.

Smartphone: Mesin Berita dalam Genggaman

Ada 5 kemampuan smartphone yang diburu orang: 1. Memainkan, merekam dan menyimpan file audio (.mp3 atau radio). 2. Memainkan dan merekam file video. 3. Memotret. Fotografi adalah fitur paling dicari dari smartphone. 4. Melakukan liputan langsung (live report) dan streaming. Hampir semua pemakai ponsel sebenarnya pernah melakukan liputan langsung. Kalau kamu mengirimkan foto “sedang bersama teman” seperti itulah contoh liputan langsung. Smartphone dilengkapi GPS (Global Positioning System, sistem penanda lokasi sekarang, selama masih dalam satu bumi) yang bisa melacak keberadaan orang. 5. Mobilitas penuh. Melakukan pekerjaan perkantoran umum, bisa dari mana saja. Smartphone menjadi kebutuhan anak muda, pekerja, ibu rumah tangga, dan reporter.

Fakta, Selalu Bisa Direvisi

Nilai-nilai jurnalisme lama harus berhadapan (atau beradaptasi dengan) teknologi smartphone. Dulu orang mendamba obyektivitas, dianggapnya “fakta” dalam berita selalu identik dengan “kebenaran”, padahal fakta hanyalah “menghadirkan-kembali realitas menurut versi penutur”. Orang lebih suka yang subyektif, sebanyak mungkin, lantas memilih mana yang akan dibaca dan dipercaya sebagai “fakta”.

Dunia sekarang ini digambarkan sebagai multiscreen, beberapa layar siap-pilih.

Dulu menuliskan sesuatu tidak bisa langsung mendapatkan reaksi, tidak bisa didiskusikan dengan penulisnya. Sekarang, terjadilah pembalikan radikal. Orang bisa menuliskan sesuatu, misalnya membagi sebuah video menit ini di Twitter, lalu mendapatkan reaksi dari pengiku (follower).

Dulu orang menuliskan berita dengan prinsip 5 W 1 H (what, where, when, why, who, dan how). Mengingat setiap berita sekarang bebas didiskusikan, orang bebas menuliskan apapun, tanpa harus memenuhi prinsip 5W1H karena bisa dijelaskan nanti. Misalnya ada foto disertai caption singkat (di status Facebook atau di tweet Twitter) : “copet berkeliaran di paragon”, itu bisa menjadi berita, walaupun 5W1H tidak utuh. Baru utuh setelah ada “reaksi” dan “balasan” (comment, reply) dari orang lain.

Tuliskan seadanya sekarang, tambahkan detail belakangan. Detail itu bisa di kotak Comment, bisa pula di Reply.

Reaksi dan diskusi dalam berita, membuat publik menyadari, bahwa “fakta” dalam berita adalah sesuatu yang bisa direvisi, oleh siapapun. Benar, siapapun bisa membalas, menanggapi, merevisi, menyajikan fakta lain.

Smartphone itu mesin berita. Smartphone tidak berbasis pada produksi (membuat) tetapi berbasis produktivitas (membuat terus-menerus). Secara tidak sadar, setiap orang menjadi penulis berita saat mereka update status di Facebook atau nge-tweet di Twitter.

Bisnis dan Kekuatan Citizen Journalism

Tahun 1996, koran mendapat margin keuntungan pada saat internet belum mendunia, sekarang, koran digilas teknologi mobile, teknologi episode baru perkembangan internet. Stok kertas dari hutan menipis, distribusi sulit, biaya cetak mahal, dan orang mendamba aktualitas: Apa yang sedang terjadi? Manusia ingin mencari “kebenaran”, menyukai cerita di balik layar (BTS, behind the scene).

Nilai dasar, mungkin bisa diabaikan, tetapi dunia tidak bisa mengabaikan “prospek bisnis” di balik teknologi smartphone. Tingkat penjualan smartphone meningkat, misalnya pada tahun 2014, perusahaan Huawei mentarget mengkapalkan 80 juta peranti modem. Perusahaan besar semakin fokus mengerjakan kompatibilitas dan mengembangkan teknologi mobile: Android, Opera, Blackberry, Google, Facebook, Twitter, semuanya berkompetisi meraih sebanyak mungkin pengguna teknologi mobile.

Turunnya Husni Mubarak di Mesir, demonstrasi di Lybia dan Syiria, tahun 2011, protes yang dipicu sentimen beragama, serta penolakan kebijakan, selalu ada alat sama: smartphone untuk jurnalisme. Menjauhkan penduduk dari citizen journalism sudah tidak bisa dilakukan, mengingat selalu ada cara berbagi dan kebebasan berpendapat.

Smartphone telah mendefinisikan-ulang pengertian jurnalisme di era mobile. Kekuatan smartphone, terus dilirik sebagai ladang bisnis, dan mengkhawatirkan siapapun yang berkuasa.

Masihkah perlu istilah “citizen journalism” jika semua “citizen” (penduduk) bisa menjadi jurnalis dengan akun website dan media sosial mereka?

Sudahkah kamu beritakan apa yang terjadi di sekitar? [dm]

What do you think?