in

Street Art dan Ruang Berpikir Publik

Bisakah street art menjadi ruang berpikir publik? Bagaimana mengajak publik untuk melacak-ulang proses-kreatif seniman?

man graffiti jacket free
Street art membuka peluang untuk mengajak publik melacak-ulang proses kreatif. Sarat pesan, sarat proses-kreatif, menuju berpikir-bersama. (Photo: Thomas Vanhaecht dari Pexels)

Orang Indonesia pada tahun 1945 sudah mencoret tembok: “Merdeka atau Mati!” Kadang dengan tulisan Belanda juga. kamu bisa lihat di video dokumentasi Perpustakaan Nasional RI. Rakyat Indonesia, seperti terlihat di album kuno, juga menuliskan di genteng rumah, dengan air gamping dan kuas jerami: “Manipol-Usdek” (di masa Soekarno, singkatan dari “Manifesto Politik Uni-Sosial Demokrasi”) dan “UDKP” (di masa Soeharto, singkatan dari “Unit Desa Kerja Pembangunan”). Itu semua pesan pemerintah.

Ada kebanggaan waktu itu, jika suara orang dilembagakan dalam satu pesan. Orang butuh slogan, proses “mobilisasi” butuh satu kalimat untuk menyamakan tekad. Patriotisme, milik semua orang, dituliskan di atap rumah mereka. Negara dan rakyat masih bersepakat dan ruang publik masih belum menjadi tempat menggugat atau mengumpat.

Kata memiliki daya resistensi (perlawanan). Menurut hermeneutika, kata bebas menentukan nasibnya sendiri. Sebuah penggalan, kutipan tokoh, atau puisi, bisa mengalami antikonteks, deformasi, modifikasi, ataupun berhasil mengubah hidup banyak orang. Kita mengenal seruan karena berbaur dengan publik. Bahasa, dalam hal ini, menjadi “ruang” pertemuan dengan orang lain, menjadi pembatas gagasan sekaligus “rumah manusia”, menurut Heidegger.

Banyak kata sakti yang pernah diteriakkan orang di demonstrasi jalanan: “Rakyat Kuasa” (FPPI), “Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan” (dipopulerkan PRD), atau penggalan puisi Wiji Thukul, “Hanya satu kata: Lawan!”. Semuanya ditulis dengan huruf kapital dengan tanda-seru di mana-mana saat orang-orang berdemonstrasi.

Sekarang tak lagi di atap rumah, kata itu sudah turun ke tembok, menjadi seni mural dan street art.

Warga Indonesia pada tahun 1980-an  “pernah” menikmati manisnya ritual 17 Agustus. Orang ramai mendandani kampung dengan gapura tak-permanen dari bambu dan papan, iuran uang dan tenaga, daun kelapa, tampah, dan merah-putih menjadi sangat gagah di tengah kesederhanaan itu. Anak-anak kecil diajari membuat karya kolektif dari bahan seadanya, bukan berhemat untuk membayar biaya pembuatan.

Tidak jarang pula, setiap mendirikan rumah, di kuda-kuda atap dipasangi bendera merah putih tergulung. Foto presiden dan Garuda Pancasila, menjadi rajawali perkasa di ruang tamu. Imajinasi kolektif, waktu itu, masih menjadi pelecut semangat menjadi anak bangsa.

Barang-barang keseharian, disusun sebagai instalasi berbentuk gapura, tak soal gampang rusak dalam dua musim, namun dikerjakan bersama.

Kota mengenal cara menyampaikan slogan di sekat-sekat pembatas mereka. Tembok penuh coretan, dari supporter bola, larangan membuang sampah, sampai gugatan politik.

Ada pula seni mural dan street art, untuk memecah kebekuan tembok dengan gambar warna-warni, sejajar di antara iklan-iklan provider telepon seluler di posisi-posisi strategis. Beberapa kota menggunakan tembok sebagai kanvas, menyampaikan pesan politik, kesehatan, kebersamaan, sejarah, dll.

Kadang gambar-gambar ini terlewatkan di pikiran saat kendaraan melintas, tetapi terpikirkan lagi ketika pesan itu diulang. Di balik sebuah seruan, terjadilah perbincangan di luar, seputar tulisan dan coretan-coretan itu.

Melacak-balik Proses Kreatif di Ruang Publik

Sama halnya, orang sekarang menuliskan status Facebook lantas membincang status orang-orang, di saat minum kopi bersama. Pembahasan seperti inilah yang lebih menarik, bagaimana gagasan yang sudah dipublikasikan itu dikembalikan menjadi gagasan baru.  Saya pernah menonton pertunjukan teater off-broadway di sebuah stasiun lama, hanya ada 21 penonton. Sepi sekali, waktu itu. Selesai pertunjukan, para pekerja teater menceritakan proses kreatifnya saat kami makan bersama, tentang bagaimana gagasan yang lama itu diproses menjadi pertunjukan 20 menit. Cerita dia, saya simak sambil minum kopi luwak.

Jalan dan Kegelisahan Seniman

Seniman sering tidak kembali kepada “jalan”, karya mereka tidak menemukan “jalan pulang” kembali kepada publik. Maksud saya, seniman sering tidak inherent, tidak menyatu-sebagai-bawaan karya. “Jalan” dan “karya” sering terpisah dari dirinya, dan apa yang telah tersampaikan kepada publik, tidak kembali dilacak publik bagaimana proses kreatifnya. Seni menjadi sajian.

Melihat sebuah lukisan, puisi, atau pertunjukan teater, sebagai misal, lebih sering berhenti sebagai karya autonomous yang mengalami obyektivikasi (dipandang sebagai obyek dari kejauhan, sesuau yang dilawan dalam epistemologi Heidegger), dan mutilasi (dibedah, dikupas sampai tidak ketemu isinya), bahkan “dibantai” dalam perbincangan. Menjadi wacana saja sudah bagus, asalkan wacana itu baru. Bukan jalan buntu.

Bukan tugas seniman untuk “memaksa” publik “bergerak”, bukan pula tugas seniman untuk menunjukkan kenyataan yang meresahkan secara positivistik layaknya ilmuwan atau politikus.

Karya bisa kembali menjadi milik publik, atau “meresahkan” publik, jika publik diajak memasuki proses kreatif seniman.

Lukisan Picasso dulu lukisan “asing” bagi kebanyakan orang, namun Picasso menjalani proses kreatifnya seumur hidup, “Aku melukis apa yang aku pikirkan, bukan apa yang aku lihat.” Itulah “jalan” Picasso, menjadi “style” Picasso. Picasso yang melukis adalah Picasso yang tidak melukis.

Orang akhirnya melihat “konsep” dan “jalan” Picasso di-dalam karyanya, bukan dalam konteks “authorship” dan bukan sebagai karya yang terpisah dari zaman.

Saya mengenal seorang Imam Bucah, perupa asal Pati Jawa Tengah, sejak sebelum dia menemukan jalannya sekarang. Dia sering berbenturan dengan banyak orang, betapa beratnya itu.

Estetika Imam Bucah sekarang adalah lingkungan hidup, dengan “totem” berupa dragon fly (kinjeng) yang dipilihnya, sebab hewan itu selalu mencari mata air. Dia tidak mau kompromi dengan plastik, selalu bicara tentang optimisme mempertahankan lingkungan hidup (environment). Dia tidak mau dikenal hanya dari karya-karyanya yang dinikmati orang, sebab, melihat lukisan itu sama dengan “mengalami” Imam Bucah.

Dia melukis, performance art, berorasi, keliling naik vespa, tanpa melepaskan-diri dari “jalan” yang ditempuhnya.

Pesan Tulisan dan Citra

Street art, memiliki konsep sama: bisakah keresahan di atas tembok dituangkan kembali dalam perbincangan lebih luas? Atau dalam bahasa Saini KM., bisakah penonton mengalami “peristiwa teater” sebelum dan sesudah menonton sebuah pertunjukan teater?

Street art di Indonesia terlalu penat dengan “pesan”, belum sampai ke taraf citra (image), sebab, menurut sejarahnya, rakyat Indonesia dengan senang hati menguas dan menuliskan kalimat seragam, atas saran pemerintah (sejak Orde Lama). Kita lebih suka mengedarkan pesan verbal di stiker, buku, kaos, sampai tembok. Tidak jarang, tubuh menjadi pengedar pesan di kaos. Tubuh menjadi alat transportasi untuk mengedarkan display dan menjadi kanvas, bertuliskan pesan-pesan.

Street art di perkotaan Indonesia masih sering dalam bentuk dua dimensi, seperti pesan atau lukisan dipindahkan di tembok.

Perkotaan seperti Brooklyn, New York, dll. sudah menghadirkan ilusi tiga dimensi yang bisa membuat seseorang terkejut, memancing tawa. Gang-gang kecil, diberi detail, tembok-tembok rumah susun diberi tangga khayal, gambar gajah besar, atau citraan makhluk hybrid untuk mengkritik tingkat polusi. Tidak ada tulisan “dilarang corat-coret di tembok ini,” perintah yang justru melanggar pesannya sendiri.

Tanpa tulisan, justru membuat ruang publik lebih ramah, pelintas berkendara justru lebih “resah” memproses gambar itu di kepala, agar muncul gagasan-gagasan baru. Gambar itu bisu, menyimpan “kata” dalam bentuk yang masih asli, yaitu kata yang tidak tertuliskan. Pesan tersembunyi.

Gambar, ilusi tiga dimensi, ataupun seni instalasi justru lebih ramah karena mengajak pikiran mengembara, memasuki proses kreatif seniman. Metafora, mengatakan A untuk memaksudkan B, justru bisa “bekerja” di tengah orang-orang yang sibuk bekerja.

Tidak jarang pula, tulisan memicu kemarahan penguasa. Cat di atas lebih berkuasa daripada cat yang ada di bawahnya.

Sifat tulisan memang berbeda dengan icon, grafis, dan citra (image). Tulisan memiliki daya rusak sosial yang cukup tinggi.

Mari mengingat sebuah quote tentang “tulisan” dan pikiran manusia, “Ingatan adalah anugrah besar yang harus terus dijaga, dengan melatihnya terus menerus. Dengan penemuanmu ini, orang-orang tidak lagi perlu bersusah-payah melatih ingatan mereka. Mereka akan mengingat sesuatu, bukan dengan usaha dari dalam diri, tetapi dengan bantuan alat di luar diri.” [Pharaoh Thamus kepada Hermes, yang dianggap sebagai penemu tulisan, dalam buku Plato, Phaedrus]

Memang sulit untuk mengembalikan sebuah karya seni menjadi milik publik, mengajak publik memasuki proses kreatif seniman. Ruang publik yang dihiasi street art, masih memungkinkan menjadi ruang berpikir publik, memberikan “keresahan kreatif” untuk gagasan baru. Walaupun itu belum tentu berbentuk kepatuhan, mobilisasi, atau imajinasi kolektif.

Jika tembok di mana-mana penuh tulisan “usut tuntas” dan “ganyang koruptor”, terjadilah amok. Kebakaran di mana-mana, begitu besarnya, namun hujan tak bisa datang tiba-tiba. Ada yang tidak beres dengan ruang publik negeri ini, jika seni selalu mengatakan hal sama, protes tentang hal sama, dan di sekeliling kita, di antara tembok-tembok dan dinding Facebook, kita selalu menjadi bagian dari sebuah teater bernama: Indonesia!

Ruang publik yang tidak beku adalah dambaan semua orang. Ruang yang memberikan inspirasi, membangkitkan intuisi, memecahkan masalah dan kepenatan. Street art, mungkin menjadi medium dan ruang berpikir publik, dan seniman bisa mengajak publik melacak-balik proses kreatifnya.

Sudahkah kamu mencoret-coret tembok hari ini? Ataukah lebih suka sendirian mencoret di dinding Facebook? [dm]

What do you think?