in

Wisata Bencana, Penggalangan Dana Publik, dan Kemarahan Langit

Awasi 3 hal saat bencana: kampanye terselubung, pertanggungjawaban penggalangan dana publik di rekening pribadi, dan perasaan nyaman karena tidak terkena bencana.

Berita di media mengabarkan, betapa sering terjadi kampanye terselubung dilakukan para calon legislatif, yang ingin simpati berbalas “suara” (vote), dengan mengedarkan stiker, himbauan memilih, dll. di tengah bantuan bencana.

Publik bisa belajar dari tahun-tahun sebelumnya, tentang raksasa media (dalam hal ini, televisi) yang sering menggunakan “kepedulian Anda” untuk menggalang dana bantuan bencana. Menurut penelitian Remotivi dan Tifa Foundation, tahun 2013, ada tiga stasiun (MNC TV, RCTI, dan Global TV) terindikasi melakukan pelanggaran etika dalam mengumpulkan dana publik. Sebanyak 50-80% siaran mereka lalai menyebut bantuan bagi korban banjir sebagai “sumbangan dari pemirsa”. MNC TV mencampuradukkan rekening bank, dengan dua nama kepemilikan rekening yang berbeda. Ucapan penerima bantuan juga terkesan dihafalkan.

Publik bisa belajar, bagaimana bencana di Dunia Ketiga (dalam hal ini: Indonesia) menjadi tempat wisata komersial bagi para turis. Kamu bisa search tentang “flaneuring club” untuk melihat gaya hidup ini.

Pada saat terjadi bencana di Merapi, Mentawai, dan Wasior, biro perjalanan asing tampak di sana. Mereka melakukan “flaneuring” untuk melihat dahsyatnya bencana secara langsung.

Ekspresi korban dan tempat asal musibah dijadikan media pemuas mata, demi visi realisme bencana, “Lihat ketinggian airnya! Lihat bagaimana kendaraan terjungkal”. Bencana menjadi reality show, apalagi jika dikerjakan dengan smartphone yang bisa menjadi mesin berita. Klub penyuka “flaneuring” ini memiliki agenda nan cermat, dibayar dengan visa. Kebanggaan menonton bencana itu kelasnya di atas gaya hidup penyuka olah raga ekstrem.

Kantor mereka, salah satunya di negara Leichenstein (silakan search di Google). Pajak di Leichenstein sangat lunak, tidak seperti di negara-negara biru lainnya. Company yang bermasalah dengan lingkungan hidup (environment) berpusat di situ. Masih ingat Lapindo Brantas yang mengenaskan dan menjadi tontonan publik? Lapindo dibeli sepuluh kali lipat dari biaya investasi Lapindo?  MedCo adalah pembelinya, dengan uang negara Leichenstein.

MedCo bersedia membeli bencana Lapindo karena negaranya memiliki policy unik: perusahaan yang terlibat dengan bencana akibat eksplorasi dan eksploitasi lingkungan, akan dibebaskan dari pajak, bahkan biaya investasi diganti: sepuluh kali lipat. Silakan hitung berapa besarnya. boleh pakai Euro, dolar Amerika, atau rupiah. Ini adalah bentuk Corporate Social Responsibility (CSR), tanggung jawab sosial perusahaan.

Jangan heran dengan Protokol Kyoto atau kebijakan Kopenhagen. Semua itu hanya topeng cantik. Ada “green investation” di balik semua itu. Indonesia dan Brazil, adalah contoh yang baik untuk negara berkembang yang masih memiliki banyak hutan dan sumberdaya perawan.

Negara-negara asing ingin memiliki kuasa atas air, oksigen (yang dihasilkan dari lingkungan hijau) serta pengolahan kimia, yang tetap akan menguasai seluruh peta dunia.

Ingatlah, sejak 1990 semua perdagangan dan perpolitikan di dunia diatur oleh satu kata: kimia. Prosesor komputer yang memakai silikon, AA dan DHA untuk bayi, bom biologis Iraq, nuklir di Iran, Korea, dst. Siapakah yang menguasai kimia? Namun siapakah yang memiliki lahan subur untuk mengkonsumsi product mereka? Dari mana mereka nikmati aqua dan rempah-rempah? Negara-negara Eropa dan Jepang, butuh air bersih dan oksigen, sehingga kita dengar ucapan “aqua wa achowatuha” (di Jepang) dan boleh mengkaitkan itu dengan reforestation di Kalimantan.

Marilah mengingat pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945: “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Kalau pada tahun 2013 pemerintah bilang duit untuk mengatasi bencana merapi sampai 200 milyar, itu duit investor asing yang bisa diminta kapan saja, asalkan: ada bencana.

Setiap pagi, pada musim banjir di pantura, saya sering melihat pemandangan mengenaskan: petani menanam kembali benih padi setelah terendam banjir beberapa hari.

Siapa yang mempersoalkan daya dukung (sustainability) dan tindak antisipasi pemerintah untuk melakukan pencegahan dan penanganan bencana? Siapa yang mengganti-rugi sawah dan perkebunan yang gagal menuai hasil?

Sementara itu pula, di tengah doa-doanya, masih banyak orang yang bersyukur karena bencana itu tidak menimpa tempatnya. Atas nama [ber]agama. [dm]

What do you think?