teori gravitasi newton
FAKTA EMPIRIS. Teori gravitasi Newton untuk melihat peristiwa "apel jatuh". (Credit: Britannica)
in

Fakta Empiris dan Fakta Historis

Teori menciptakan fakta, ataukah fakta menciptakan teori?

Setiap hari, orang tidak bisa terlepas dari fakta. Memahami dunia, membuat gagasan, bercerita, membuka perbincangan, menulis, meneliti, berdebat, membujuk untuk membeli, mencintai orang lain, semua memakai fakta.

Fakta Empiris

Fakta empiris itu fakta yang berkaitan-dengan [hasil] observasi secara ilmiah, misalnya, “Mengapa apel jatuh ke tanah?”, berkaitan dengan teori gravitasi Newton. Sejak dulu, apel jatuh ke tanah, namun dari fakta empiris tersebut, terciptalah teori Newton. Pada masa sekarang, saya bisa teringat teori gravitasi, menjelaskan kepada orang lain, bahwa ada “teori gravitasi” di balik “apel jatuh ke tanah”. Ada ribuan contoh seperti ini. Sains berada di balik peristiwa sehari-hari.

Sejak dulu sudah ada “daya tarik bumi” sehingga “apel jatuh ke bawah”, namun baru menjadi rumus ilmiah dan dihitung Newton. Teori merupakan pelabelan fakta empiris, penjelasan sistematis, penemuan ilmiah. Dengan kata lain, sebelum Newton, fenomena “apel jatuh ke tanah” belum menjadi fakta empiris. Apakah ini berlaku selamanya dalam segala situasi? Belum tentu. Einstein dan Stephen Hawking membuktikan bahwa Hukum Newton tidak berlaku dalam kondisi tertentu. Apakah Newton salah? Newton salah di zaman Einstein, menurut Einstein, namun Newton tidak berbohong. Ilmuwan bisa salah, namun tidak boleh berbohong.

Fakta Historis

Fakta historis, berkaitan dengan tindakan manusia yang berkaitan-dengan sejarah dan bagaimana manusia mengkonstruksi sejarah. Media menciptakan fakta historis, dengan menulis-ulang peristiwa, misalnya: ada kriminalitas di suatu pasar, kemudian dituliskan sebagai headline. Atau ketika seorang politikus mengajak semua orang melawan ketidakadilan. Orang bilang, “Begini faktanya..”, “Fakta yang sebenarnya..”, atau “Ternyata tidak sesuai fakta”. Ketiga ungkapan tersebut, lebih sering berhubungan dengan “fakta historis”, tentang tindakan manusia, dalam peristiwa yang terjadi di masa lalu (katakanlah, 1 menit yang lalu).

Fakta historis, sering menimbulkan perselisihan, karena berdasarkan sudut-pandang (dalam hal ini, sama dengan fakta empiris), pernyataan subyektif, namun “belum bisa dibuktikan”. Masalahnya, ketika seseorang mengkonstruksi-ulang gagasan, yang terkait dengan sejarah, ia berusaha menciptakan fakta. Bagaimana strategi Diponegoro dalam Perang Jawa? Bagaimana peran perempuan di masa kerajaan kuno di Jawa Abad ke-8 M? Fakta historis selalu berisi konstruksi gagasan, bukan berarti “peristiwa yang sebenarnya” dari masa lalu. Begitu pula status peristiwa yang diberitakan di media. Perbedaan sumber dan metodologi, menghasilkan fakta berbeda.

Ketika orang mengatakan “Brawijaya V beragama Islam,” banyak orang terpilah ke dalam pro-kontra. Iya, tidak mungkin, bisa jadi, atau entahlah. Banyak pembuktian dilakukan, demi mempertahankan atau menolak temuan tersebut. Saya tidak perlu uraikan pro-kontra di sini. Singkat cerita, ada fakta lain lagi, yang membuktikan, bahwa nama “Brawijaya V” tidak ada di prasasti dan peninggalan apapun, baru muncul pada literatur yang dianggap berasal dari Abad ke-17. Fakta ini, di luar pro-kontra, karena justru menganggap Brawijaya V itu figur fiktif dalam sejarah Jawa. Dalam “strategi berpikir“, selalu ada “interest” (hal menarik) di balik pro-kontra.

Singkatnya, itu konstruksi sudut-pandang. Kalau sudah berkaitan dengan “penilaian”, atas suatu peristiwa, yang melibatkan pandangan sejarah, maka orang akan terlibat dalam perselisihan, memasuki pengukuran yang berlainan.

Perselisihan, berasal dari perbedaan “metode” dalam menentukan ukuran. Jika berkaitan dengan kualitas, penilaian, hubungan-dengan-fakta-lain, maka “fakta historis” lebih sering meragukan.

Apakah ia kaya? Apakah gadis itu cantik? Apakah pemimpin ini adil di masa lalu?

Apa yang bisa kita pelajari dari suatu perselisihan adalah memahami ukuran (ini berarti sudut-pandang) orang lain.

Warna Magenta yang Mana?

Contoh lain lagi, saya pernah berselisih-paham dengan kawan saya, ketika menunjukkan warna magenta. Kawan saya mengenal magenta dari iklan pakaian dan mengikuti pilihan kebanyakan orang. Saya mengenal “magenta” dari sistem warna. Hanya bagi yang belum tahu, sistem warna memiliki sejarah. Bagaimana orang mengenal warna, bagaimana “indigo” (salah satu nama warna) dipakai sebagai atribut bagi orang yang berkemampuan khusus, mengapa “harus” ada standar warna, bagaimana pabrik cat bisa menghasilkan jutaan liter warna magenta yang sama, dst. Saya membaca buku History of Colors dan mempelajari sistem warna. Termasuk mengenal warna “magenta”.

Pemecahan yang saya lakukan: tunjukkan sistem warna (termasuk sejarahnya) dan kode warna magenta di komputer. Magenta bisa dltunjukkan _sebagai_ magenta, di monitor, dan ada rumusnya. Pada tabel warna RGB, tanpa kode warna hex, orang akan kesulitan mengenali kemiripan, misalnya: antara blue violet dan dark violet, atau antara dark magenta dengan purple.

Perselisihan selesai kalau kamu tunjukkan “alat ukur” berupa kode warna, bukan hanya “maksud” kamu tentang warna.

Pertikaian selesai. Kalau kemudian ia mengikuti pengertian dari iklan pakaian dan kebanyakan orang, itu persoalan lain.

Kasus di atas adalah contoh, bagaimana fakta empiris (magenta adalah magenta, punya kode warna menurut sistem-warna) kadang dihadapi sebagai “fakta historis”. Kawan saya memakai pengenalan “magenta” menurut iklan pakaian, sedangkan saya menggunakan sistem warna.

Kawan saya tidak berbohong sama sekali, karena ia mengatakan-ulang apa kata iklan pakaian.

Melihat Peristiwa sebagai Fakta Empiris

Jika suatu kejadian, bisa kamu lihat sebagai fakta empiris (kamu tahu teori di balik kejadian itu), maka segala kejadian bisa menarik. Tidak ada hal yang tidak menarik. Yang ada hanyalah orang yang tidak tertarik.

Ada banyak contoh tentang ini. Kalau kamu mengerti pekerjaan seniman foley di balik film, serta melatih kepekaan indera, maka telingamu bisa mendengarkan simfoni kota, seperti di film “August Rush” (2013). Kalau kamu membaca 100 Things Every Presenter Should Know about People, kamu mengerti mengapa seorang profesor tidak berhasil melakukan presentasi di kelas. Kalau kamu tahu bagaimana mengubah frekuensi ketika editing musik, kamu bisa membuat orang menyukai kualitas suara musikmu.

“Fakta empiris”, berhubungan dengan teori. Memiliki dampak pada perilaku manusia kemudian.

Kalau ada yang bilang teori itu kurang berguna, itu karena ia cenderung mengabaikan “fakta empiris” dan tidak melakukan pengamatan. Kata, gerakan, warna, keputusan, segala macam hal, bisa menarik jika kamu menemukan “fakta empiris”. Teori dapat kamu pertanyakan, justru ketika kamu melihat berjalannya teori di balik fakta empiris itu. Benarkah Windows 10 itu berat? Benarkah ada air yang bergerak ke atas?

Tidak ada kamus yang menjelaskan apa arti kata “A-aa..”. Mungkin itu dianggap bukan kata. Kamus cenderung menyingkirkan ketidakjelasan. Setiap kata yang kita ucapkan, termasuk ucapan khas dari seorang bayi, itu merupakan bentuk pelabelan dan bisa menjadi “fakta empiris” bagi ibu bayi itu. Akhirnya, ibu itu punya teori, kata “A-aa..” berarti ‘saya minta gendong”.

Anak kecil mengetahui, salah satunya, melalui bahasa. Anak tahu, pelan-pelan, arti kata: “ibu”, “sayang”, dan “pekerjaan rumah”, dan perilakunya berubah. Pelabelan, yang merupakan salah satu bentuk “fakta empiris”, bisa mengantar kepada detail.

Ideologi sebagai Pertarungan Fakta Empiris dan Fakta Historis

Teori, sama sekali tidak membatasi, namun menjelaskan dan menjadi medium untuk menguji dan melakukan perbaikan. Itu terjadi tepat di tengah pengamatan, pembuktian, falsifikasi.

Mau empiris maupun ideologis, pelabelan (teori) menjembatani imajinasi manusia dalam menjelaskan, memahami, dan mengubah dunianya.

Ideologi juga demikian, tidak bisa sepenuhnya terbebas dari sifat non-ilmiah. Ideologi selalu merasa ilmiah sejak awal, memberikan pandangan dasar, sistem nilai yang koheren, dengan kata-kata yang ambigu (bermakna ganda), seperangkat pembuktian, bahwa pandangannya tentang sejarah (rekonstruksi peristiwa dan gagasan), manusia, dan masyarakat, perlu dianggap “benar”. Ideologi meminta pembenaran, berdalih sebagai kesaksian atas realitas.

Dari ideologi sebagai suatu teori, tercipta fakta ilmiah. Manusia menciptakan ideologi memahami dunianya, dengan mengatur-ulang kata, konsep, dll. Fakta dan empirisisme, menjadi lebih penting daripada ide.

Agama menjadi contoh lain yang menarik. Agama seolah-olah memiliki konsep-bawaan “dari langit”, mengakui Kebenaran, dan kebanyakan mengenal Tuhan mereka (atau apapun istilah dan pengertiannya). Sudah ada “teori” atau “ideologi” yang [harus] dianggap benar. Agama berpijak pada penjelasan rasional dan “fakta empiris” yang tidak bergantung kepada Kebenaran itu sendiri. Surga, nibbama, reinkarnasi, “Tuhan” yang masih dalam wujud-Nya sendiri, bersifat terjelaskan dan teralami. Agama mengklaim melandasi segala kejadian, menjelaskan apa yang tak-terjelaskan.

Lalu di manakah “fakta empiris” dari agama, jika semua yang kita anggap belum diteorikan, sudah dianggap diatur oleh agama?

Dalam prakteknya, kamu memiliki problem apa saja, selalu dijawab bahwa agama sudah memiliki panduan yang “membahagiakan” dan “menyelamatkan”. Bukan detailnya, tetapi panduan umum tentang segala macam hal. Mengapa manusia ada dan mengada? Mengapa suatu peristiwa terjadi?

Mau melakukan apa saja, agama mengaku menjadi “jalan” terbaik. Bahkan sebelum konsultasi selesai, agama merasa sudah memiliki jawaban. Tradisi, etnisitas, yang mengklaim memiliki tata-nilai kehidupan yang menyeluruh, juga demikian.

Ketika ideologi menyalakan kata, mengajak orang mengikuti idenya, ini bukanlah berurusan dengan “fakta empiris” melainkan bagian dari ide yang lebih besar: kepatuhan, tanpa mempertanyakan suatu peristiwa ataupun pengalaman, sebagai sesuatu yang baru.

Setelah Perang Dunia II, ada ide untuk “mengamankan dunia”, dengan menetapkan negara-negara yang memiliki.persenjataan kuat dan kebergantungan finansial. Atau ide pasar bebas. Bank Dunia.

Ada proyeksi ke masa depan yang meminta kepatuhan religius, penyerahan-diri, dst.

Ideologi seperti bayangan diri anak di dalam cermin, dalam teori Lacan. Terlepas itu hanya proyeksi, itu adalah realitas, konstruksi yang dianggap sama, kebenaran yang terjangkau dan mengikuti tubuh anak kecil yang sedang bergerak.

Empirisme, mengurung manusia dalam konservatisme ekstrem. Jika ukuran kebenaran ide hanya bisa diukur (diuji validitasnya) dari empirisme, maka ideologi apapun berhak menyatakan dirinya benar. Fakta historis bisa selalu dianggap benar. Marx benar. Kapitalisme benar. Namun, tidak demikian yang terjadi. Kritik ideologi, menjadi sangat penting, dalam menilai fakta historis.

Itulah yang terjadi. Klaim kebenaran. Justru berasal dari “fakta empiris” yang digeneralisasi sebagai “bukti” dan “kesaksian”.

Empirisme, dalam agama, bisa menggunakan bukti yang tak-empiris. Apakah surga dan kehidupan setelah mati itu “fakta empiris”? Hanya bisa dibenarkan dengan “logika” dan “analogi”. Ideologi menjadi a posteriori, sudah dibenarkan empiri, dengan sendirinya. Marx, misalnya, ketika menampilkan “pertarungan antarkelas”, di semua zaman, kemudian menjadikannya sebagai landasan terbentuknya komunisme, pendukungnya menganggap teori Marx benar. Kritik yang datang kemudian, tidak lantas meruntuhkan Marxisme, tetapi hanya “merevisi” ideologi ini. Begitu pula Kapitalisme dan Fasisme.

Jika ideologi sudah menjadi pilihan dan diuji secara ilmiah, maka ideologi sudah berubah dari fakta historis menjadi fakta empiris.

Kita membutuhkan banyak piranti berpikir dan teori, untuk mengenali sesuatu sebagai “fakta empiris”.

Anak-anak yang mencoret tembok dengan graffiti. Guru menampar muridnya. Orang merampok toko swalayan, bersenjatakan pistol mainan. Sutradara film menyimpangkan profile pahlawan dengan sinematografi. Pejabat membohongi rakyat. Apakah itu termasuk “fakta empiris”?

Pendekatan, tidak lagi satu. Menilai apakah tembakau itu baik bagi negara ini, misalnya, dengan segala macam pendekatan, dan itu berarti “fakta empiris”, akan membawa kepada perdebatan ideologis.

Kemudian media merayakan populisme, fakta-fakta empiris, fake news, forensik digital, dan semua itu terkait dengan obsesi terhadap “fakta empiris”, serta pengabaian ide dan ideologi.

Jika kamu sedang membaca berita atau mengalami peristiwa, cobalah bertanya, “Apakah ini fakta empiris yang sudah ada teorinya?”. Atau, “Bisakah peristiwa ini menjadi konsep baru yang mengubah hidup?” Dan cobalah mempertanyakan “teori” yang berjalan di dalam kenyataan itu.. [dm]

What do you think?

5634 points
Upvote Downvote