FRONTEND EDITOR. Editing langsung. Apa yang kamu tuliskan sama dengan apa yang akan kamu lihat nanti. (Credit: SakJose)

Produktivitas Front Editor

Targetkan produktivitas, jangan produksi. Pakai front end editor.

Ubah orientasi.

Mantra ini sangat penting kalau kamu sedang bekerja.

Saya berikan contoh bagaimana orientasi produksi bertarung melawa  orientasi produktivitas. Photoshop vs. Canva.

Kita ingat, Photoshop ngehit dan menjadi aplikasi edit foto sejaknsebelum media sosial datang. Sampai ada ungkapan “Photoshop detected!” kalau ada dugaan manipulasi foto.

Photoshop melakukan oembaruan fitur. Yang sekarang, semakin canggih. Bisa edit video. Kalau dibandingkan aplikasi lain di kelas edit foto, tidak ada yang kalahkan Photoshop.

Apakah semua orang beralih ke Photoshop? Tidak. Fitur dan kemewahan bukan segalanya.

Photoshop terbaru membutuhkan prasyarat instalasi: hardware kelas dewa. Ada akun cloud milik Adobe, uji keaslian produk, dll. Photoshop berorientasi pada hasil optimal. Mau membuat gambar dengan sentuhan artistik, pakailah Photoshop.

Photoshop berorientasi ke produksi.

Kalau mau membuat yang terbaik, Photoshop bisa. Estetika, keunikan, bisa kamu mainian di Photoshop. Behance adalah contoh website yang memajang keampuhan Photoshop.

Kesulitan ada di sini. Hasil sangat ditentukan oleh siapa yang memakai. Seorang pelukis belum tentu bisa menuangkan sentuhan artistik di Photoshop, namun ia harus mengerti brush, coloring, versi Photoshop. Singkatnya, bisa sangat bagus, namun tidak mudah. Bisa memproduksi apa saja, namun.. orientasi Photoshop bukan produktivitas.

Kebutuhan saya sekarang berkisar pada retouch yang praktis. Saya jarang buka Photoshop. Sejak ada Photopea, saya bisa editing foto dari browser Brave.

Canva berorientasi kepada produktivitas.

Canva berbasis template. User-interface Canva dapat dipahami dengan cepat, dan berorientasi kebutuhan. Tentu saja, hanya terbatas “sesuai kebutuhan”. Mau buat Status WhatsApp, Instagram, animasi singkat, thumbnail untuk YouTube, bisa dibuat dengan cepat. Namun, ada kesan fabrikasi, karena mirip dengan yang lain.

Ada banyak sekali aplikasi yang berfungsi untuk menyelesaikan “pekerjaan ini”. Mereka ini memacu pertumbuhan stock foto yang tersimpan di cloud.

Semalam, saya bertanya kepada beberapa kawan, tentang dunia menulis. Ada banyak ide, ketika di depan laptop, acara mereka berubah. Ini juga masalah sama. Orientasi pada produksi, bukan produktivitas.

Mereka yang berorientasi “produksi”, bertanya: Bagaimana cara menulis? Berapa yang sudah saya tulis? Sebagus apa tulisan ini?

Mereka yang berorientasi ” produktivitas”, bertanya: Bagaimana saya mengatasi hambatan menulis, agar bisa menulis tanpa ganggian? Bagaimana saya bisa menulis dalam keadaan apa saja?

Apakah para penulis web tidak tahubteknik menulis? Tahu. Mereka pintar. Sudah punya latar-belakang disiplin ilmu yang kuat. Mereka meluangkan waktu dan energi. Bahkan punya web sendiri.

Mereka hanya belum punya waktu memikirkan “hambatan” dan “cara mempercepat” menulis.

Harus buka dashboard. Melihat kotak-kotak menu. Menerima tampilan yang tidak mereka inginkan. Gangguan (distraction) bawaan aplikasi menulis.

Mereka tahu bagaimana menulis di Medium, menulis dengan Telegraph, menulis di Blogger, namun banyak gangguan di Dashboard. Harus menonton tampilan backend, opsi penulisan, tags, dll.

Menyenangkan itu, kalau kita menulis, langsung kelihatan akan jadi seperti apa.

Contoh mudah? Microsoft Word. Ketika kamu menulis, itulah tampilan yang nanti akan kamu lihat di versi .pdf atau versi cetak.

Kesimpulannya, mereka butuh front end editor.

Bayangkan kamu klik menulis postingan di web, langsung kelihatan tampilan-jadi tulisanmu nanti kalau kamu publish.

Kebutuhan ini yang menjadi ceruk bagi plugin penyunting halaman web, seperti Elementor Pro (dan WP Bakery Page Builder). Layout halaman web bukan lagi hal menakutkan.

Adobe membuat InDesign (sebelumnya, dari Aldus PageMaker) di mana kamu bisa layout magazine. Meramcang menjadi sesuatu yang realistis.

FRONTEND EDITOR. Editing langsung. Apa yang kamu tuliskan sama dengan apa yang akan kamu lihat nanti. (Credit: SakJose)

Saya memakai front end editor. Ketika akan menulis postingan, hanya perlu Login kemudian klik tanda “+” (plus), pilih Add Post, selanjutnya tinggal mengetik seperti biasa. Saya bisa menukis dengan .arkdown, insert media, embed content dari luar, dll.

Apa yang saya ketik di situ adalah apa yang akan saya lihat nanti. Dengan tampilan sama. Setelah selesai, klik Publish untuk menerbitkan. Tentu saja, saya bisa lakukan ini dari Android.

Kalau saya sedang otw (naik bis), nongkrong di warung, mau tidur, kapan dan di mana saja, saya bisa menulis tanpa hambatan.

Kalau kamu berorientasi produktivitas, selesaikan hambatan. Akan ada banyak ide baru, yang tidak mati di tengah jalan, kalau hambatan itu kamu singkirkan. [dm]