in

Faktor Utama Gagal Menulis

Ketidaksabaran dan tidak segera memperbaiki kelemahan.

(Image: fizkes)

Mereka ingin cepat, ngehit, “langsung bisa” ketika belajar, dapat informasi siap-saji sekaligus terpercaya, terjebak dalam sistem pengukuran SEO dan Google Search, dll.

Menulis tidak semudah itu.

Kualitas perlu melewati kuantitas yang sangat banyak. Kalau kamu menuliskan 350 artikel, mungkin artikel ke-350 belum tentu terbaik. Yang pasti, 350 artikel (semakin banyak), lebih baik daripada 200 artikel.

Semakin banyak membuatmu lebih memahami proses kreatifmu sendiri. Ketika sedang belajar, tidak ada yang mudah.

  • Untuk mencari arti kata, kamu perlu bersabar. Untuk memastikan “great artist steal” itu ucapan asli Steve Job atau tidak, kamu perlu Quote Investigator.
  • Untuk lebih pintar memakai Obsidian ketika riset, kamu harus bersabar.
  • Untuk mengenal algoritma Google tahun 2022, kamu perlu bersabar.

Masih ada “daftar” yang perlu kamu buat untuk mengidentifikasi titik-lemah kamu sendiri. Itu lebih realistis daripada bertanya mengapa kamu tidak sabaran.

Yang perlu garis bawah: sabar tidak diam. Sabar itu tindakan, pertarungan dengan waktu dan kualitas, memastikan “work” atau tidak, dan berjangka-panjang. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, penambang crypto, redaktur Opini Pembaca di JatengToday.com, content creator Twitter @AsliSemarang, nggak pakai Facebook, aktif di Twitter @tamanmerah, pemilik SakJose.com, setiap minggu baca 2 buku, setiap hari selalu menulis dan menonton film.