in

Kisah Burung Berkepala Dua

Kalau ternyata kita satu perut, jangan saling menyakiti.

Pada zaman dahulu kala,,

Hiduplah seekor burung berkepala dua.

Kedua kepala burung itu, mendapatkan makanan dengan cara berbeda.

Kepala yang Satu, meraih tempat yang tinggi, bisa meraih buah-buahan yang segar. Kepala yang Kedua, mendapatkan makanan yang berada di tempat rendah, seperti cacing dan sisa buah dari burung lain.

Kepala yang Kedua, merasa iru hati, “Hai, Kepala Atas. Betapa enaknya kamu, bisa mencapai buah di atas, yang lezat itu.”.

Kepala yang Satu, berkata, “Aku mencari makanan yang baik untuk perut kita. Pada akhirnya, makanan kita akan masuk ke perut yang sana.”.

Sayang sekali, Kepala yang kedua tetap berada dalam rasa iri hati.

Pada suatu pagi, Kepala yang kedua, secara sengaja, meminum air beracun, agar Kepala yang Satu tersakiti. Racun itu mencapai perut. Seluruh tubuh burung itu mulai lemas, kesakitan.

Akhirnya, burung berkepala dua, dengan satu perut itu, mati terkapar.

Fabel ini tentang kesadaran bahwa semua makhluk berada dalam 1 kehidupan yang sinergis. Satu makanan dan cara makan yang “salah”, dapat berakibat buruk bagi tubuh. Dalam satu rumah, satu perusahaan, satu organisasi, sebenarnya kita tidak hanya bekerja untuk 1 perut yang sama. Kita bekerja untuk tujuan sama, dengan peran yang berbeda-beda. [dm]

Written by Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Perlakuan untuk Buku Non-Fiksi

Menjadi Penulis Bayangan