in

9 Bentuk Penulisan Berita yang tidak Jelas

Tidak semua berita memiliki kejelasan. Ketidakjelasan bisa terjadi dalam kegagalan menyebut hal spesifik, deskripsi, dan konteks berita.

Tulisan ini menjelaskan beberapa bentuk ketidakjelasan penulisan dalam berita.

1. Menuliskan “tertentu” tanpa penyebutan karakter dan spesifikasi.

Misalnya: “.. dilakukan kelompok tertentu” atau “ada kelompok tertentu yang menjadi biang kerusuhan”.

Jelaskan, seperti apa kelompok “tertentu” ini: motivasinya, strategi, siapa yang kena imbasnya, seburuk apa aksi mereka, dst.

Jika ada penjelasan, setidaknya pembaca bisa mendapatkan gambaran logis. Sehingga kalimatnya bisa menjadi “.. dilakukan kelompok yang kalah taruhan bola pada malam sebelumnya”.

Sebisa mungkin, hilangkan “tertentu” jika ternyata tidak tentu.

2. Menuliskan “beberapa” tanpa angka atau tanpa kisaran (range).

Misalnya: “.. yang terjadi beberapa tahun lalu.” Waktu memiliki satuan yang sangat jelas: tahun, dekade, abad, dst.

Sebisa mungkin, sebutkan secara tepat: berapa jumlahnya, kapan, di mana. Gunakan angka.

Jika tidak bisa mengakses tahun, sebutkan kejadian apa yang diketahui publik.

“Beberapa” bisa menjadi pasti, untuk penyebutan kurun waktu, jika disertai kejadian-umum yang telah diketahui publik, misalnya: “beberapa tahun sebelum Jokowi terpilih sebagai presiden”.

3. Menuliskan “sejumlah”, tanpa menyebutkan angka dan tanpa gambaran yang mendekati-tepat.

Misalnya, dalam berita demonstrasi dituliskan “sejumlah orang terlihat membawa bendera dan meneriakkan protes”. Ini sama sekali tidak jelas.

Sama dengan menuliskan “beberapa di antaranya..”.

Reporter memiliki rekaman gambar, suara, video, yang bisa dilihat-kembali sebelum menuliskan berita.

4. Menuliskan “sebagian” tanpa menjelaskan jumlah kesatuan (unity).

Misalnya: “sebagian warga Puspanjolo tidak setuju” atau “sebagian besar warga Puspanjolo tidak mengetahui..”

Sebutkan unity. Kalimatnya bisa menjadi: “dari 151.547 warga, sebagian besar setuju jika..”

5. Menuliskan “sekitar” untuk memperkirakan jumlah, tanpa gambaran situasi memadai.

Misalnya: “sekitar 3000-an orang berunjuk rasa di depan gedung DPRD Semarang”.

Sebenarnya ini bisa dilacak dengan menghubungi korlap (koordinator lapangan) demonstrasi, dengan meminta data berapa orang yang berangkat, siapa saja yang bergabung, atau berapa kelompok yang bergabung dalam demonstrasi itu. Jika tidak, berarti reporter hanya menghitung berdasarkan perkiraan.

Detail bisa mendekati tepat dengan beberapa cara, misalnya: menghitung kepadatan (luas area berapa meter persegi, berapa yang kosong), jumlah kendaraan, tidak termasuk media dan yang bukan demonstran.

Sering ditemukan penulisan “sekitar 3000 demonstran..” namun jumlah ini termasuk yang bukan demonstran, yang jumlahnya mencapai 100 orang lebih. Kesalahan ini yang membuat media-media Jakarta mem-forward pembualan Habib Rizieq, yang menyebut angka “7,5 juta orang” dalam Aksi 212 di Jakarta 2016.

Jangan memperkirakan secara kasar, jumlah yang bisa ditaksir dengan selisih yang tak terlalu jauh.

Menurut perhitungan ini jumlahnya hanya sekitar 426.000, selisih yang sangat jauh dari 7,5 juta.

6. Menyebutkan “kemungkinan” dengan konteks yang tidak tepat.

Dalam berjalannya suatu peristiwa atau kasus hukum, narasumber kadang mengatakan “kemungkinan..” untuk mewakili prediksi logis, analisis ilmiah, atau perhitungan matematis.

Misalnya, tentang motivasi pembunuhan, nilai nominal kasus korupsi, kerugian negara, sampai “kemungkinan” untuk kemenangan politik.

Pertanyaan yang harus diajukan adalah, “Bagaimana peluangnya?”.

Jika ini kasus korupsi, “kemungkinan” bisa berdekatan dengan motivasi korupsi dan peluang mengungkapkan.

Jika ini kerugian negara, dan bisa dihitung secara tepat, “kemungkinan” perlu diganti dengan angka yang tepat.

Jika ini “kemungkinan” untuk kemenangan politik, ini perlu diungkap “peluang” kemenangannya, berdasarkan apa narasumber mengatakannya.

7. Menuliskan “pihaknya”, untuk mengaburkan status.

Menurut KBBI, kata “pihak” mempunyai 6 arti: sisi atau bagian, arah atau jurusan, satu dari golongan yang bertentangan atau berlawanan, dalam hal atau mengenai, dan orang atau golongan.

Kalau sudah “pihaknya”, lebih sering berarti konteks “konflik”.

Yang penting, perhatikan konteks pemakaian kata “pihaknya”.

8. Menuliskan “tampak” tanpa pengamatan, atau “tampaknya” hanya berdasarkan opini.

Misalnya: “para pengunjung taman tampak tersenyum di tengah meriahnya acara musik..”.

Lebih baik tanpa “tampak”. Seperti dalam features, gunakan “bahasa tubuh” daripada mengatakan maksud gerakan orang itu.

9. Mengutip narasumber yang menyampaikan pernyataan sikap, perasaan, pendapat, yang “tanpa bentuk” dan “tanpa tindakan” selain hanya berbicara.

Narasumber sering tidak bisa mengartikulasikan gagasan.

Reporter sering memburu hanya 1 pernyataan namun melupakan detail.

Reporter perlu “mempertanyakan” untuk “memperjelas” suatu pernyataan.

Pertanyaan yang Mengarah pada Ketidakjelasan

Ini beberapa pertanyaan yang sering mengarah pada ketidakjelasan:

Bagaimana pendapat Anda atas peristiwa ini?

Narasumber sering menjawab dengan “pernyataan sikap” dan “perasaan”: terus terang saya sangat kecewa; kami berharap lebih banyak prestasi..; itu isu bohong; kami akan tindak pihak yang nakal.

Reporter perlu memperjelas dari “pernyataan sikap” dan “perasaan” dengan mempertanyakan.

Pernyataan sikap seperti: peduli, kecewa, prihatin, dll. itu tidak jelas.

Apa yang akan Anda lakukan sebagai..

Narasumber sering menjawab dengan “rangkuman global” atau “strategi” tanpa bentuk, misalnya: “Terus-terang kami prihatin atas kondisi ini. Kami akan lakukan penyadaran tanpa-henti; kami mengimbau kesadaran masyarakat; kita akan terus lawan korupsi.”

Ada 1 pertanyaan sakti untuk melawan “pernyataan” dan “perasaan” ini, yaitu, “Dalam bentuk apa?” Jika mau lawan korupsi, bentuknya seperti apa?

Agar Lebih Jelas

Pada prinsipnya, jelas itu berarti: terukur, terlihat, dan ada “pergerakan”, dan tidak banyak mengutip “kualitas” yang kabur.

Untuk mengatasi masalah “ketidakjelasan” dalam penulisan, perhatikan beberapa hal berikut:

1. Gunakan satuan yang jelas.

Meter, hari, dekade, dst. Gunakan piranti pengukur yang jelas. Banjir setinggi velg mobil, ukurannya jelas dari sisi mobil (merk apa?) tetapi antara terjadi di Banyumanik dan Tugu Muda, bisa dijelaskan dengan satuan di atas permukaan air laut. Pada jam berapa. Di mana tepatnya.

2. Ini penilaian dan opini, ataukah menunjukan apa adanya?

“Show, do not tell” yang dikatakan George Orwell itu dalam bentuk apa? Jangan mendeskripsikan #dengan kata-sifat dan kata keterangan.

“Nominator kedua terlihat cantik dengan dandanan mewah dan gemerlap berwarna merah keemasan.” Sangat kabur.

“Terlihat cantik” itu penilaian siapa? “Mewah” diukur dari mana? “Warna merah keemasan” akan lebih bisa dibayangkan (jika tidak ada foto) dengan menjelaskan bahannya. Gunakan deskripsi, bahasa tubuh, gerakan, gambaran fisik, dan pernyataan langsung.

3. Jika ini intensitas..

Misalnya: semakin.., bertambah.., meningkat.., meluas.., selain satuan dan deskripsi, gunakan pembandingan A/B (after/berfore).

Semakin dari kecil ke besar? Bertambah berapa persen dari keseluruhan atau sebelumnya? Meningkat dengan ukuran apa?

4. Ini topik ataukah berita?

Ada kalanya Anda tidak sedang menuliskan berita, tetapi suatu topik, atau menjawab persoalan di artikel opini. Gunakan data yang up to date (terkini), spesifik, dari narasumber atau lembaga yang berkompetensi, dan verified. Alat bantu seperti perekam audio, video, foto, dll. bisa menjadi penjelas, mesin-waktu, dan tidak membuat pembaca hanya-membayangkan.

5. Jangan mengaburkqn batasan antara “fakta” dan “opini”.

Menuliskan fakta, berarti “memilih”, membuat keputusan, berdasarkan alasan. Tuntutan pembaca, bukan bagaimana kita berpihak, tetapi bagaimana menjelaskan mengapa kita menunjukkan fakta itu, melalui “pernyataan” narasumber.

Saya berikan contoh:

Siapa presiden pertama Amerika?

Kebanyakan orang menjawab: George Washington. Sedikit orang menjawab: John Hanson.

Debat tentang siapa presiden pertama.Amerika di Quora, bisa dibaca, sebagai bahan perbandingan.

Jadi, apa jawaban kamu? Persoalannya, bukan “mana yang benar”, tetapi, “apa alasan” yang mendasari jawaban kamu.

Berita bagus berawal dari kejelasan penulisan. Jelas dalam menulis berarti memperlakukan fakta secara selayaknya, menuju realitas yang lebih baik. [dm]

What do you think?