in

Agar Rencana Hari Ini Bisa Terpenuhi

Tentukan prioritas, catat pencapaian kecil, dan tetapkan 3 to-do list dalam sehari.

Saya sudah menuliskan to-do-list untuk besok. 10 baris. Sebenarnya, bisa saya lakukan. Setelah hari terlewatkan, banyak yang tidak berhasil saya lakukan. Ini berulang untuk hari-hari berikutnya. Apa yang membuat saya tidak bisa melakukan to-do-list?”. Saya tertarik menjawab pertanyaan kawan saya ini. Secara teknis, ini berarti: Bagaimana agar to-do list hari ini bisa terpenuhi?

Prioritas: Mendesak Sekaligus Penting

To-do-list harus punya prioritas. Bukan apa yang “bisa” atau “ingin” saya lakukan, tetapi, apa yang “harus” saya lakukan. Apakah saya tidak bisa melakukan apa yang saya inginkan? Bisa. Tetapi, buatlah prioritas, dahulukan hal yang “mendesak sekaligus penting” di bagian atas.

Dalam sistem pengambilan keputusan, dengan metode matriks Eissenhower, cara membuat prioritas itu mudah.

Perhatikan 2 faktor: “emergency” (mendesak) dan “important” (penting).

Jika mendesak dan penting, berarti: lakukan sekarang. Letakkan yang “mendesak dan penting” di bagian paling atas. Contohnya: menulis makalah untuk presentasi besok. Jika tidak dilakukan, dunia akan kacau, kamu gagal ujian, dan harus bangun pagi setiap hari Senin untuk mengulang mata-kuliah itu.

Berikutnya, yang “mendesak” tetapi tidak-penting. Ini bisa kamu delegasikan. Misalnya, membayar pajak kendaraan bermotor. Kamu bisa menggunakan jasa dealer, hanya 3 jam, dapat STNK baru dan tenang ketika nanti ada operasi lalu-lintas.

Bagaimana dengan yang penting tetapi tidak mendesak? Lakukan hal-hal penting, sebagai rutinitas, agar tidak repot menghadapi hal-hal mendesak. Ukuran “penting” setiap orang itu berbeda-beda. Membaca buku itu penting bagi seorang mahasiswa. Kalau nanti ia berhadapan dengan hal mendesak sekaligus penting, seperti menuliskan makalah, ia sudah siap dan bisa menulis lebih cepat. Yang penting namun tidak mendesak, masuk di urutan ketiga.

Sedangkan yang tidak mendesak sekaligus tidak penting, sama sekali tidak perlu masuk dalam to-do-list.

Jadi, prioritaskan nomor satu: hal yang mendesak sekaligus penting.

Pekerjaan Dulu, Baru Sesukamu

Utamakan pekerjaan. Selesaikan dulu. Setelah itu, baru hal lain.

Berhasil menyelesaikan 3 hal dalam to-do-list itu sudah luar biasa.

Hargai Apa yang Kamu Capai

Apa yang sering terlupakan? Menghargai apa yang telah kamu capai “kemarin”. Tuliskan itu, sepenting membuat rencana. Hargai apa yang sudah kamu capai.

Lihatlah anak kecil, dengan bangga ia berkata kepada kawannya, “Aku bisa menggambar rumah. Kamu bisa menggambar rumah? Kalau tidak bisa, aku bisa ajari kamu.”. Anak kecil menghargai apa yang bisa ia lakukan. Jadi, tuliskan di halaman lain, apa yang telah kamu capai kemarin. Walaupun itu hal-hal kecil menurutmu. Dengan membacanya, kamu akan mengingat kekuatanmu, keberhasilanmu.

  • Saya berhasil tidur 5 jam, tanpa bermimpi. Siap mengikuti lomba tidur siang paling lama tingkat kecamatan.
  • Saya sudah browsing dan hasilnya saya kumpulkan dalam 1 folder, tentang teori psikologi Freud, Jung, dan Lacan.
  • Saya tahu alamat download dan streaming film dan serial terbaru.
  • Rahasia bangun pagi adalah tanpa alarm.

Lakukan Campaign

Pertimbangan terakhir: Apakah kamu sedang melakukan “campaign”?

Jika kamu memiliki target perubahan dan kemajuan, lalu mengalokasikan waktu, dan membaginya menjadi beberapa tahap, itulah campaign. Misalnya: “5 hari belajar color grading”. Bagilah campaign itu menjadi 5 hari. Per hari, ada aktivitas belajar color grading yang sudah kamu tentukan. Dengan demikian, kamu bisa melihat kemajuan (progress). Mana yang belum dapat tanda cek? Mana yang sudah berhasil?

To-do-list sering gagal karena “tanpa” tujuan. Campaign memberi kamu tujuan dan bisa memeriksa kemajuan apa yang telah kamu dapatkan, serta bagian mana yang perlu mendapatkan perhatian.

Saya sudah menuliskan versi lengkap tentang bagaimana berubah lebih maju, dengan menulis catatan harian.

Apa yang akan kamu kerjakan besok? [dm]

What do you think?

3621 points
Upvote Downvote