Gorila dan Wartawan

Membingkai berita secara sepihak, hasilnya..

Ada balita merangkak masuk ke kandang gorila, di suatu kebun binatang. Orang tua balita ini lengah. Balita ini dengan lucunya rebah, memejamkan mata. Tidak ada yang berani mendekat, karena orang-orang takut gorila ini akan mengamuk.

Mereka memandang gorila dengan sudut-pandang manusia, tanpa memahami perilaku gorila.

Ada orang memotret adegan, ketika gorila ini menggoyang-goyang tubuh balita itu. Lalu gorila memeluk dan memangku bayi itu. Potret itu sampai media.

Semua media menuliskan judul berita yang hampir sama:

“Gorila Membahayakan Nyawa Bayi”,

“Bayi Ini Selamat dari Ganasnya Gorila”,

“Tips Agar Anak Anda Aman dari Gorila di Kebun Binatang”, dst.

Tidak satupun yang menulis berita yang menyebutkan bahwa gorila ini menggoyang-goyang tubuh bayi itu, karena mengira bayi itu pingsan. Melihat bayi ini hidup, gorila tadi sangat senang dan memangkunya.

Kamera tidak “berbicara” ketika mata tidak mengerti “bahasa” gorila.

Menuliskan apa yang terlihat, dengan perspektif yang mengabaikan obyek liputan (gorila dan bayi), hanya akan memaksa kejadian tidak secara “apa adanya” sampai kepada pembaca.

Auman harimau adalah bentuk komunikasi antarharimau, bukan ungkapan marah. Namun sering ungkapan plastis disampaikan untuk menggambarkan kemarahan dengan “bagaikan harimau marah, pendapatnya ini seperti auman yang membuat lawan politiknya ketakutan”.

Pelajari apa yang kamu tuliskan. Penulis yang baik, selalu menemukan titik kebodohan dirinya setiap hari, mau selalu belajar, dan memperdalam kemampuan menulis.

Saya membedakan antara wartawan yang memiliki hubungan dekat dengan narasumber yang mengerti teknologi informasi, dengan wartawan yang memang mengerti teknologi informasi.  Hasil tulisannya akan berbeda.

Yang pertama, perannya bisa diganti orang lain. Yang kedua, bisa menuliskan gorila versi gorila. Bukan gorila versi penampakan menurut dugaan manusia yang tidak mengerti tentang gorila. [dm]