in

Sebelum Menetapkan Kebiasaan Baru

Apakah mengubah kebiasaan untuk dirimu sendiri ini? Apakah akibatnya baik bagi orang lain?

Setiap malam, saya keluar dan ngopi, menjalaninya sebagai rutinitas (hal yang dilakukan berulang-ulang), kebiasaan (habit). Banyak orang suka melakukan rutinitas ini, ada yang mendukung, ada yang mengecam (dari sisi kesehatan dan waktu).

Faktanya, kopi sehat (dan enak) bergantung jenisnya, cara menyajikan, dan diimbangi dengan konsumsi apa. Tidak selalu nongkrong di warung kopi bikin orang tidak produktif. Saya ngopi di tempat nyaman, ada WiFi, dan tidak sepenuhnya nongkrong. Sudah sejak lama, pikiran saya sudah konek dengan kebiasaan ngopi.

Kalau diminta mengubah kebiasaan ini, betapa beratnya. Saya keheranan kalau ada orang menasehati, atau mengikuti nasehat, atau membuat resolusi, dengan enteng sekali, “Mulai sekarang, hentikan kebiasaan ini, ganti dengan yang ini.”. Tidak semudah itu mengubah kebiasaan.

Mengubah kebiasaan itu berat. Melangsingkan badan, misalnya. Kalau kamu menetapkan “melangsingkan badan”, 3 bulan ke depan, itu berarti menyiapkan banyak hal. Butuh jadwal baru, yang berarti harus menjadwal-ulang kegiatan lain. Perubahan daftar-belanja (perlu kaos dan sepatu baru, atau pola-makan baru), dan siapa saja orang di sekitarmu yang terkena efeknya.

Biarpun artikel yang kamu baca bilang, “Ini yang terbaik, berdasarkan riset, dan dijamin berhasil”, namun, apakah itu sesuai dengan keadaanmu? Kamu tidak hidup sendirian. Hanya apa kata artikel, belum jaminan. Orang lebih sering berkata, “Cara ini lebih mudah saya ingat, daripada cara #tercepat. Saya dan kawan-kawan saya melakukannya.” Perubahan tidak bisa mendadak, butuh penyesuaian.

Banyak orang bikin resolusi, hanya untuk dirinya sendiri. Apalagi dia membuatnya saat membuka catatan-harian. Pikirkan lagi sebelum menetapkan “kebiasaan baru”. Apakah mengubah kebiasaan untuk dirimu sendiri ini? Apakah akibatnya baik bagi orang lain?

Enjoy mengalahkan segalanya, namun cobalah mencari, mungkin ada cara pandang baru, yang bisa mengubahnya menjadi kekuatan!

Jangan-jangan, kebiasaan lama, yang dianggap tidak produktif itu, sebenarnya bisa dimanipulasi menjadi sangat produktif. Apa yang terjadi kalau ngopi 2 jam, di luar rumah, menjadi jam belajar yang menyenangkan?

Lebih baik mengubah kebiasaan lama, yang sudah nyaman itu, menjadi lebih produktif dan menyenangkan, daripada menetapkan kebiasaan baru yang butuh banyak penyesuaian dengan sekitar.

Perubahan yang baik, berawal dari “memperbaiki cara lama” dan “tidak memaksa sekelilingmu, secara keseluruhan, untuk mengikuti apa yang sedang kamu lakukan”. [dm]

 

What do you think?